5 malam setelah 2 kisah Naza-Arequipa-Chivay, saya lewatkan di 3 tempat 
berbeda.  Semalam di Cusco, semalam di Aguas Calientes, 2 malam di Cusco lagi, 
dan semalam di Puno.  Cerita tentang Cusco dan Agus Calientes terlalu panjang.  
Saya sudah nyicil dapat 7 paragraf tapi nampaknya masih belum separuhnya.  
Untuk nulis tentang Machu Picchu dan pendakian Huayna Picchu secara serampangan 
saya tak sampai hati.  Malu kalau datanya salah karena tanpa referensi.

Separuh hari di Puno tadi pagi, saya pakai untuk ke Islas Uros.  Uros ini pulau 
buatan dari totora (sejenis rumput).  Ada yang kenal Thor Heyerdahl?  Saat 
ekspedisi Kontiki ke Rapa Nui (Pulau Paskah) Thor memakai perahu totora buatan 
orang Bolivia.  Totora-totora itu dipotong sampai kedalaman 20cm di bawah air, 
dalam luasan sekira 5x5m2.  Selainjutkan potongan-potongan itu ditautkan.  Agar 
tautan stabil tak terbawa arus, pulau yang terbentuk dipancang.  
Potongan-potongan (pulau) itu kemudian ditimbun dengan potongan totora 
saling-silang ke atas hingga 3-4 lapisan.   Tentu agar tidak tembus air.

Adakah mereka tahan melawan air?  Tentu saja tidak.  Setiap 20 hari sekali, 
totora baru mesti ditimbunkan untuk mengganti lapis bawah yang luruh.  Ada 
banyak pulau di Uros (Semunya dihuni penduduk berbahasa Aymara).  Satu pulau 
dihuni 7-8 keluarga.  Di pulau itu tidak ada sekolah.  Untuk belajar mereka 
harus mengayuh sampan ke Puno.  Menariknya, di antara mereka ada giliran yang 
diatur oleh para tetua adat.  Perahu yang merapat hari ini diarahkan ke pulau 
A, besok ke B, begitu seterusnya.

Pulang dari Uros saya sempatkan menikmati makan besar vegetarian.  Kebetulan 
saja rumah makannya hanya berjarak 3 rumah dari penginapan.  Harga untuk sebuah 
makan besar (sopa, ensalada frutas, pan con matequilla, mate de coca) sekitar 
S9 (kira-kira Rp. 25 ribu).  Ini memang tak jauh dari harga penginapan semalam 
di Puno yang sekitar S25 (Rp. 70 ribu).  Harga ini untuk habitacion con bano 
con agua caliente.  Kamar dengan kamar mandi di dalam dan air panas.  Beda 
dengan harga di Cusco dan Aguas Calientes yang memang Mekkah-nya turis di Latin.

Usai makan siang saya ke Terminal Terestre.  Bis yang akan ke Bolivia berangkat 
jam 02.30.  Saya tiba di terminal sekitar 02.10.  Segera saya tukarkan tiket, 
membayar pasa de embarque (semacam peron), dan menghampiri bis.  Pengemudi dan 
kondektur mendata penumpang.  Semua diberi lembar isian imigrasi Bolivia dan 
diminta menuliskan identitas di seperti lembar absen.

3 jam perjalanan Puno ke perbatasan lebih banyak saya lewatkan dalam 
tidur-tidur ayam.  Saat mata benar-benar sembuh dari kantuk, di sisi kiri 
nampak panorama yang tak biasa.  Di sebelah jalan ada area perladangan yang 
dibatasi perairan danau Titicaca.  Di atas air Titicaca ada bidang pampa yang 
meluas.  Sementara di atas pampa Huayna Blanca (atau Illimani) memanjang 
bertudung salju.  Sayang .. tempat duduk saya tidak di dekat jendela.  Selain 
itu pas garis tengah jendela ada di sebelah kursi.   Yo wis .. cukup dinikmati 
dengan mata kepala sendiri.

Inspeksi perbatasan berjalan santai.  Relasi Peru - Bolivia sangat mesra, malah 
katanya yang paling mesra di kawasan Latin.  Orang Peru dan orang Bolivia bisa 
lintas batas tanpa paspor.  Mula-mulai bis berhenti di casa de cambio (tempat 
penukaran uang).  Sisa Soles saya tukarkan, saya sisakan beberapa koin untuk 
teman-teman kolektor di tanah air.

Setelah itu penumpang diminta ke Policia de Justicia untuk beroleh cap di 
sebalik lembar imigrasi yang didapat saat masuk Peru.  Rampung, segera kami 
digiring ke Imigraciones yang hanya berjarak 2 rumah.  Singkat sekali!  Jarak 
imigrasi Peru - imigrasi Bolivia sekitar 50m.  Tidak jauh tapi untuk jalan 
mendaki dengan ketinggian hampir 4000m meter tentu perlu menata napas.  Di 
imigrasi ini terbukti lagi bahwa Indonesia itu memang kurang dikenal (maaf). 
¨Indonesia, donde esta?¨, tanya petugas saat melihat paspor saya.  Saya jawab, 
¨Asiatico pais, muy lejos de aqui.¨  Lalu ia melihat di daftar, di mana tertera 
negara mana saja yang bebas visa.  Nama ´Indonesia´ tak ada di sana.  Akhirnya 
ia mengalah,  ¨Tienes copias su pasaporte?¨  Untung copyan masih di ransel 
kamera yang selalu saya bawa ke mana-mana.  Setelah beroleh visa Bolivia pekan 
lalu hampir saja saya buang karena merasa hanya memberati.  

Copacabana hanya sejarak 8km dari perbatasan.  Namanya memang sama dengan kota 
pantai di Brasil.  Keduanya indah.  Bedanya Copa di Brasil sangat panas 
sehingga di mana-mana orang berbikini, Copa di Bolivia sangat dingin tempat di 
mana orang lalu lalang dengan selimut tebal.  Di Arequipa saya bisa tidur hanya 
selimutan.  Di Cusco kaos kaki memulai tugasnya.  Semalam di Puno, kaos tangan 
harus turun tangan.  Malam ini di Copacabana agaknya chaman (tutup kelapa orang 
Quechua) atau sleeping bag mesti menjalankan tugasnya.

Lebih dari 7 kenalan di jalan yang sudah ke Bolivia berkisah akan murahnya 
harga-harga di sini.  Separuhnya di Peru, kata mereka.  Malam ini saya mulai 
merasakan yang pernah mereka alami.  Saya dan sebagian teman sebis menginap di 
hotel Mirador.  Letaknya di tepi Danau Titicaca.  Kamarnya besar (3x5m2). ada 
kamar mandi dengan agua caliente, fisik hotelnya lebih bagus dari Hotel Gadjah 
Mada, Balikpapan.  Berapa saya membayar semalam?  Sulit sipercaya, hanya USD5, 
padahal itu sudah termasuk desayuno (breakfast).

Salam dari Copacabana
Martes, 29-Mayo-2007, hora 20.19


                
____________________________________________________ 
Yahoo! Singapore Answers 
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at 
http://answers.yahoo.com.sg

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke