Sesuai rencana awal, Copacabana saya singgahi 2 malam. Maksudnya agar punya
waktu sehari penuh. Sehari itu saya bagi 2, ke Isla del Sol (pulau matahari)
separuh hari dan sisanya untuk putar-putar kota jalan kaki. Prakteknya
berbalikan dan hasilnya agak beda dengan harapan.
Ferry ke Isla del Sol sehari ada 2 kali. Tujuan di pagi hari dan siang hari
berbeda. Yang pagi ke utara pulau, ke beberapa situs Inka. Perlu diketahui
bahwa di utara Isla del Sol ada ciudad submergada, kota lama yang diduga salah
satu situs Atlantis di Bolivia! Sementara yang siang, ferry mendarat di
selatan pulau, yang hanya punya 1 situs lama. Sisi selatan Isla del Sol
mengingatkan pada Santorini di Yunani. Titian dari pantai ke pulau menanjak
tajam, lautnya sangat biru, tiupan pena (pen pipe) para gembala, keledai yang
lalu-lalang dan tentunya kotoran keringnya yang terbang bercampir debu.
Meski kurang sesuai harapan, saya beroleh imbalan lain. Menjelang siang,
setelah putar-putar pasar dan ke casa de cambio, di depan katedral ada upacara
cha´la. Ini upacara asli Aymara. Mereka yang punya mobil baru, mobilnya di
bawa ke depan katedral. Di sana ada upacara adat, mobil dihias dengan
bunga-bunga (mirip mobil pengantin), dan pemiliknya memandikan mobil dengan
semacam minuman keras. Ini upacara penting bagi si pemilik mobil hingga perlu
menyewa seorang tukang photo!
*****
Jarak Copacabana - La Paz sekitar 200-an kilo. Antara keduanya ada selat
pendek yang mesti diseberangi. Agak aneh karena di penyeberangan, di Estrecho
de Tiquina, mobil dan penumpang menyeberang secara terpisah! Dari
penyeberangan La Paz masih 112km. Hanya di 15 menit pertama saya bisa
menikmati eloknya panorama Altiplano. Saya baru terbangun saat bis memasuki El
Alto, pinggiran La Paz.
Seperti Bandung dan Kathmandu, La Paz berada di dasar lembah. Hanya saja
lembah ini bukan sembarang lembah karena berada di ketinggian 3620m. Karena
ketinggiannya, banyak hal-hal normal yang kita alami tidak terjadi di La Paz.
Katanya, air di sini mendidik di suhu 88 derajad Celsius. Lapangan terbang La
Paz adalah bandara tertinggi dunia. Karenanya persyaratannya pun special.
Run-way 2x lebih panjang dari bandara international lain yang berada di daerah
pantai. Pesawat yang akan landing dan take off mesti mengubah tekanan bannya.
Melengkapi ke-anehan-keanehan itu, La Paz juga menawarkan ´obyek´ wisata yang
tak lazim. Pertama, penjara San Pedro. Coba, mana ada penjara aktif yang
dijadikan obyek wisata? Paling banter yang sering kita lihat penjara Bung
Karno di Bangka, Ende, Sukamiskin. Untuk masuk San Pedro memang harus memakai
pemandu. Pemandunya napi yang menjelang masa bebas. Karena berisiko, lebih
baik saya tidak mendatangi obyek yang tidak lazim ini.
Kedua, Mercado Hetchiceria. Kata Spanyol itu diinggriskan Witchcraft Market.
Hayo, siapa yang tak gentar dengan nama pasar tukang sihir? Pasar ini diapit
oleh 4 jalan penting: Sagarnaga, Santa Cruz, Linares, Jimenez. Bentuk
sebenarnya bukan pasar, tapi orang berjualan dengan membuka lapak temporer.
Apa yang dijual? Paling banyak ya tumbuh-tumbuhan yang punya kasiat untuk
pengobatan. Tapi yang paling menarik perhatian tentunya semacam embrio llama
yang dikeringkan. Embrio ini penting dalam tata upacara kehidupan orang
Aymara, semisal mendirikan rumah baru. Jadi terjemahan Inggris itu terkesan
seenaknya. Mungkin lantaran tidak sesuai logika barat.
Ketiga, cementario. Obyek wisata kuburan sebenarnya sangat jamak. Makam Bung
Karno, makam para wali, Taj Mahal, Piramida, sering jadi tujuan peziarah maupun
peminat sejarah. Semua tahu, makam-makam itu milik orang terkenal. Nah yang
di-makam-kan di cementario ini campuran, ada polisi, ada tentara, dan tentu
paling banyak orang biasa.
Di sini ada tradisi bahwa orang dikubur selama 10 tahun, setelah itu kuburan
dibongkar dan belulangnya diperabukan. Abu itu lalu disimpan dalam tembok
beton. Temboknya dibuat berbentuk kotak-kotak mirip rumah merpati, kira-kira
mirip kubur Romawi Komb As-Shuqafa di Alexandria, Mesir. Di bagian depannya
diberi penanda nama mendiang (ephitaph) yang indah. Epitaph ini berada di
dalam dinding kaca dan selalu ada bunga segar di dalamnya. Bagi keluarga kaya,
satu dinding bisa menjadi makam keluarga. Cementario merupakan ruang publik
yang hidup. Begitu masuk cementario, orang disuguhi denah. Setiap makam
ditandai oleh blok dan nama jalan!
Melengkapi cementario, di depannya berderet bisnis setujuan. Ada deretan
penjual bunga. Ada funeraria, penyelenggara berbagi perangkat pemakaman. Ada
pula 3-4 toko pembuat epitaph.
Salam dari La Paz
Sabado, 2-Junio-2007, hora 14.59
____________________________________________________
Yahoo! Singapore Answers
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at
http://answers.yahoo.com.sg