Ini yang saya tulis waktu putus asa karena hampir gak jadi berangkat:
--- In [email protected], Alvin Antono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya bersama seorang kawan pengen ke Jogja untuk liat prosesi Waisak (saya
> gak motret karena kamera sedang opname... ). Masalahnya 2 orang yg tadinya
> mau berangkat sama2, batal karena satu atau lain hal. Sedangkan kami untuk
> pergi berdua pun agaknya kurang memungkinkan.
> Jadi disini, saya mau ajak temen2 IBP yang mau rencana mendadak utk ke Jogja
> liat prosesi Waisak.
> Rencana berangkat Kamis sore bawa mobil dari Jakarta dan rencananya lewat
> Bandung.
> Saya sangat mengharapkan ada temen yang mendadak jadi pengen pergi waktu baca
> e-mail ini. Atau lebih tepatnya terketuk hatinya utk bantu rencana jalan2
> Waisak ini jadi kenyataan...
Jadi, waktu itu, kami hampir batal berangkat, karena hanya saya dan mbak Ira
(kawan mbak Tari) yang tersisa, jadi saya nyoba untuk yg terakhir kalinya untuk
buat rencana ini jadi kenyataan... Karena biaya akan jadi tinggi kalau hanya
berdua, dan saya sendiri agak ragu untuk pergi dengan wanita yang belum saya
kenal berdua aja. Melebihi ekspektasi saya, di hari terakhir saya coba, banyak
sekali yang telpon, bahkan ada yang terpaksa tidak bisa ikut serta dengan kami
karena mobilnya penuh! Thanks a lot IBP!
Singkat kata, akhirnya terkumpul 7 orang (saya, mbak Tari, mbak Ira, mas Alif,
mas Puguh, pak Prihadi, dan mbak Happy) Kamis jam 7 kami bertemu di meeting
point di Mampang, semua orang yang akan berangkat belum pernah saya temui. Agak
takut juga kalau-kalau nanti ada ketidak-cocokan, tapi keinginan jalan
mengalahkan semuanya. Ternyata, sampai akhir acara semua baik2 saja.
Perjalanan kami mulai jam 9-an, macet dimana-mana. Stop pertama kami adalah
pemberhentian tol Cikampek km 57. Ada mesjid yang bagus sekali disini, tapi
rasanya bukan objek wisata yang cukup menarik. Perjalanan OK2 saja, dan kami
berhenti lagi subuh di daerah Banyumas. Disini kami berhenti dan sempat ngobrol
sedikit dengan orang-orang yang touring dari Jogjakarta dengan motor custom.
Ternyata, dengan tampang yang sangar2, diluar dugaan mereka sangat ramah. Kami
diijinkan untuk memotret motor mereka, bahkan salah satunya beraksi
mengeluarkan api dari knalpot kayak di film2. Sayang kami gak sempat foto api
ini, karena terlalu singkat.
Akhirnya Jumat siang kami tiba di Borobudur dan langsung mencari penginapan
setelah sebelumnya sempat makan siang di daerah Purworejo. Kami menginap di
Rumah Tingal (Tingal, bukan Tinggal). Penginapan yang sangat amat baik untuk
ukuran backpacker saperti saya. Rate-nya 80rb semalem untuk kamar dengan 2
orang. Cukup nyaman.
Selesai check-in, kami langsung keluar untuk melihat pawai dari Candi Mendut ke
Borobudur. Pawai yang meriah dan sangat menarik, melibatkan seluruh komponen
budaya Indonesia (Jawa dan Cina khususnya). Jadi sepanjang pawai, ada peserta
dari grup Campursari; Reog Ponorogo; Liong dan Barongsai; Sun Go Kong, Cu Pat
Kai, dkk; patung Buddha raksasa dari Stereofoam; Dewi Kwan Im (hidup,
diperankan model); dan banyak lagi; ditutup oleh permainan Liong dari TNI AD.
Mau tidak mau, perlu diakui kalau permainan Liong mereka adalah yang terbaik
dari seluruh peserta pawai. Walaupun panas terik, apresiasi dari pengunjung
sangat tinggi. Kami mencoba menemui Pepeng, salah seorang anggota IBP
Jogja-Semarang yang meluangkan waktunya untuk bertemu dengan kami disini, tapi
belum berhasil karena padatnya acara dan padatnya manusia.
Setelah pawai ini selesai, kami makan siang di warung Arung Jeram, dan kami
bertemu beberapa anggota IBP dari Jakarta (juga), dan dari Jogja (mas Heru dan
mas Andi). Kami mendapatkan cerita tentang Merapi dan daya tariknya. Akhirnya
itu masuk dalam agenda pembicaraan kami, karena kami belum punya rencana akan
kemana hari sabtu.
Selesai makan siang, kami mulai cari cara untuk masuk ke dalam candi untuk
acara Waisak malamnya. Ternyata, acara ini membutuhkan tiket khusus untuk
masuk. Akhirnya mbak Tari mulai telpon kesana kemari, dan ada satu anak IBP
Jakarta yang kesana juga memberikan kami tanda peserta. Terimakasih Gautama,
dan IBP juga! Akhirnya bisa juga kami masuk. Sebelum masuk ke dalam, kami
mengunjungi dulu altar. Disini diletakkan patung Buddha raksasa, dan sebagian
patung yang dibawa pada saat perarakan siangnya. Kami duduk-duduk di sekitar
altar, berburu foto, dan menikmati hari jadi gelap. Sangat banyak orang yang
ada disini. Setelah hari gelap, keramaian mulai berkurang, dan kami pun mulai
berani untuk naik lebih ke sekitar altar, karena sudah tidak akan mengganggu
orang yang sedang sembahyang. Dan dari sini, kami mendapatkan view yang luar
biasa! Patung Buddha sangat besar di altar dengan background Borobudur malam
hari yang mandi cahaya! Luar biasa! Tapi kamera saya masih opname di
datascript... Sebelum masuk kami makan malam nasi bungkus yang dijual di
daerah sana. Enak... Setelah itu, kami masuk ke dalam. Di dalam, sudah ada
layar besar untuk pertunjukkan tari-tarian. Ada presiden, gubernur, dsb.
Akhirnya, kami hanya menonton tari-tarian dari belakang panggung. Dan foto2
sama mobil presiden. Sambil menungu Borobudur dibuka, kami berkesempatan untuk
liat Borobudur di malam hari. Jadilah ajang hunting foto2 lagi. Ada juga lilin2
yang dipasang untuk meditasi di taman Borobudur.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya bisa juga kami naik ke atas Borobudur.
Hanya satu kalimat untuk menggambarkan perasaan saya waktu itu: sangat luar
biasa indah! Borobudur di malam hari luar biasa! Kami juga melihat prosesi
orang sembahyang, ada lampion2 terbang dilepaskan. Pokoknya luar biasa!
Terbayar semua capai karena hampir gak tidur semalaman di perjalanan. Saya gak
pandai cerita sih, nanti pasti ada yang lain yang nulis pengalamannya disini
beserta link2 ke foto2. Ayo, yang pada bawa kamera, mana? :)
Hari ketiga, kami makan di warung bu Sri di dekat Borobudur. Enak. Bukan
makanan yang khas banget, tapi rasa dan harganya emang sanagt bagus. Setelah
itu kami mulai perjalanan ke Kaliurang untuk ke Lava View Merapi. Sampai di
tempat parkir Kaliurang, kami dipromosikan oleh saudari Happy (yang pernah
tinggal di Jogja untuk kuliah), untuk mencoba makanan khas Kaliurang, namanya
jadah tempe. Isinya kaya sandwich ketan begitu. Jadi, tempe bacem (atau tahu
bacem, atau ampas tahu dibacem) dijepit 2 ketan, dimakan sama cabe rawit. N
ternyata enak! Setelah itu kami mulai jalan ke Lava View Merapi diantar sama
penduduk IBP lokal: mas Heru. Thanks a lot, Her! Ternyata kami ketemu lagi sama
rombongan lain dari IBP Jakarta disini. Dunia emang sempit. :) Kami jalan lewat
hutan, lewat sungai yang dilalui lava dulunya. Menakjubkan! Alam bisa mengukir
sesuatu dengan luar biasa! Sangat menakjubkan! Setelah itu kami meneruskan
berjalan kaki sampai ke Lava View lewat hutan. Di Lava View, kami
melihat lagi kekuatan alam yang dahsyat sekali, sungai lahar jadi sungai pasir
dan batu! Benar-benar dahsyat, sekaligus bikin merinding (kalo diingat-ingat
seperti apa dulunya). Bikin saya jadi sadar, kalo alam mau bales dendam,
manusia itu kecil bgt n gak ada apa2nya. Sayang pemandangan merapi ketutup
awan, gak bisa dapet foto yg jelas.
Setelah dari sana, kami numapng mandi di kost saudaranya mbak Ira, dan langsung
ke acara kopdar IBP di Angkringan Tugu. Ternyata kopdar ini kopdar dadakan
untuk anak2 IBP yang pada ke Jakarta, yang digagas mas Heru. Kami bertemu
beberapa rombongan IBP disini, dan ternyata, cuman rombongan kami yang baru
saling kenal saat mulai perjalanan. Gak apa-apa lah. Disini kami sudah gak
berasa seperti orang baru kenal. Malah sudah ada yang dapet julukan. Maap yah
untuk yg merasa... :) Ankringan Tugu ini sebetulnya sebuah jalan di sebelah
stasiun Tugu Jogjakarta. Ada penjual kopi, nasi kucing, dll. Pokoknya makanan
untuk tengah malam. Dan ajaibnya, banyak pembeli duduk di atas trotoar dialasi
tikar tanpa meja. Kalau bahasa saya: super lesehan. Dan rombongan IBP mulai
menjajah spot demi spot sampai kami menjepit sepasang anak muda yang lagi
pacaran di super lesehan ini. Cuma perlu waktu 10 menit sebelum mereka pergi.
Jahatnya... Disini kami mecicipi kopi khas Jogjakarta: Kopi Joss.
Untuk yang belum pernah nyoba, sangat disarankan untuk mencoba:
Extraordinarily Ecsotic.
Lalu jam 11-an malam kami pindah ke alun-alun kidul Jogja. Disini ada taman
yang di tengahnya ada 2 pohon beringin. Konon katanya, kalau bisa lewat
diantara 2 pohon beringin dengan tutup mata, keinginan apapun akan terkabul.
Beberapa dari kami mencoba. Disini sangat nyaman. Dengan beberapa pengamen yang
sopan sekali. Gak seperti di Jakarta, disini bahkan ada pengamen yang minta
ijin dulu untuk boleh mengamen! Suasana disini dangat bikin betah. Gak ada
salahnya untuk yang ke Jogja, untuk duduk-duduk di pinggir alun-alun kidul ini.
Bener-bener gazebo kota. Sampai jam 1 pagi pun masih ramai, lalu kami pulang
dan langsung memejamkan mata, selain beberapa orang yang tidak mau melewatkan
pertandingan Inggris-Brazil. Zzzzzzzzz...
Pagi-pagi kami pergi ke Istana Air Tamansari. Ini bagian dari Keraton Jogja.
Sebetulnya ini tempat yang sangat menarik dan pasti saya akan kembali kesini
kalau ke Jogja lagi. Sayang sekali, panas menyengat bikin saya gak bisa
apa-apa. Compelitely shutted down. Cuman duduk, minum jeruk, teh botol, aqua,
dsb. Mungkin kalau baca sharing dari yang lain, akan banyak yang bisa didapat.
Sungguh sangat disayangkan. :( Setelah dari sini, kami beli bakpia. Bakpia
Patuk 75, kata orang Joga, ini yang asli (orang Jogja-nya mas Heru dan mbak
Happy). Jadi, kami beli bakpia-bakpia panas untuk jadi oleh-oleh. Disini pula
kami say goodbye to Heru dan Happy. Thank a lot, friends. Bener2 makasih banyak
lho. Padahal gak ada satupun diantara kami yang pernah ketemu sebelumnya.
Mulailah perjalanan panjang kembali ke Jakarta. Kami makan malam di daerah
Ciamis, di sambel Cibiuk, untuk yang pengen tahu, tepatnya di antara Ciamis dan
Tasikmalaya. Kami makan ayam bakar, nasi tutug oncom, nasi timbel, sambel
cibiuk, dsb. Buat yang belum tahu, nasi tutug oncom ini adalah makanan khas
Tasik, nasi dicampur dengan oncom, untuk wisata kuliner, masukkan dalam daftar
wajib coba deh. Sebagian besar di antara kami juga baru pertama kali coba.
Enak! Makanan sunda dgn suasana daerah asalnya emang enak bgt. Jam 2 pagi kami
sampai Cawang. Selesailah sudah perjalanan ini. Dengan orang-orang yang tidak
dikenal sebelumnya, tapi bener-bener jadi salah satu prejalanan yang paling
menyenangkan buat saya. Terimakasih mbak Tari, mbak Ira, mas Alif, mas Puguh,
pak Prihadi, mbak Happy, dan anak2 IBP yang ketemu di Angkringan Tugu have fun
bersama disana. Dan pastinya orang yang selalu bantu kami selama di Jogja: mas
Heru!
Ignatius Alvin Antono
ArgoProjector Jakarta
Projector and Screen Rental Shop
www.argoprojector.com
021 7159 0668
021 9355 9795
081 7233 3372
[Non-text portions of this message have been removed]