Halo Lisa dan Indobackpackers,

Kelihatannya memang yang paling murah untuk ke Timor Leste lewat
darat. Dari Kupang ke Atambua bisa naik bus 8 jam. Tarifnya Rp.
30.000,- (katanya sekarang juga ada bus yang langsung dari Kupang ke
Dili tapi saya tidak punya informasi tentang ini). Dari Atambua, naik
bemo ke perbatasan Motaain, kira-kira Rp. 10.000,-. Setelah lewat
imigrasi, jalan kaki ke perbatasan Batugade, lewat imigrasi Timor
Leste dan bayar visa turis untuk 30 hari (US$30). Dari Batugade ke
Dili, bisa naik mikrolet kira-kira 1.5 jam. Tarifnya US$3.

Sebenarnya, ada bus antarkota di Timor Leste. Tetapi jadualnya tidak
menentu, sesuka sopirnya. Hari Minggu agak susah cari bus karena itu
hari ke gereja. Sejak kerusuhan tahun lalu, jumlah bus yang beroperasi
juga lebih sedikit.

Kalau di dalam kota Dili, kita bisa jalan-jalan naik mikrolet.
Tarifnya rata-rata 25 US cents. Tapi mereka cuma melayani perjalanan
jarak pendek. Agak jauhan sedikit, kita harus naik taksi, yang
kemana-mana rata-rata $1. Kalau lebih jauh dikit lagi $2. Tapi
kendaraan umum dan taksi sudah tidak beroperasi begitu hari gelap
(sekitar jam 18:30). Masalahnya, kalau sewa mobil memang mahal sekali,
1 hari bisa sekitar $90.

Selama beberapa kali perjalanan saya ke Timor Leste, saya sudah
mengunjungi Baucau, 3 jam dari Dili ke arah timur naik mikrolet (kalau
sewa mobil bisa 2 jam). Tarifnya $2. Baucau ini seperti Puncak-nya
Timor Leste dan merupakan kota terbesar kedua di Timor Leste setelah
Dili. Di sini, saya suka jalan-jalan di Kota Lama-nya. Kota ini juga
memiliki gua-gua Jepang di bukit dan pantai yang indah. Pada akhir
pekan, semua hotel di sini penuh oleh expatriate.

Yang sekarang sedang jadi tempat favorit berlibur para expatriate di
Timor Leste selain Baucau adalah desa Com, 80 km dari Baucau. Mereka
senang bersnorkeling di pantainya yang masih perawan.

Ke timur lagi, ada kota Los Palos, tempat asal bahasa Fataluku.
Sebagian besar penduduk Timor Leste bicara dalam bahasa Tetum, tetapi
orang Los Palos dalam bahasa Fataluku dan biasanya mereka tidak bisa
berbahasa Tetum. Kotanya tua dan sunyi, seperti ''kota tidur.''
Letaknya 3.5 jam dari Baucau, lewat cabang jalan yang berbeda dari
jalan ke Com.

Saya sempat pula ke kota pegunungan Maubisse di selatan Dili. Ada bus
dari Comoro di Dili (naik taksi dari pusat kota sekitar $2) ke
Maubisse untuk perjalanan 3 jam. Di sini, jam 4 sore saja kita sudah
menggigil kedinginan. Sama seperti Baucau dan Com, pada akhir pekan
hotel-hotel di sini penuh oleh expatriate.

Kalau mau ke perkebunan kopi (kopi Timor enak lho), berkunjunglah ke
Ermera. Hawanya sejuk dan di sepanjang jalan, bau kopi menusuk hidung.
Tetapi sulit mencari restoran atau warung di sana. Jadi dari Dili,
kira-kira 2.5 jam, bawalah bekal makanan.

Lima tahun yang lalu, saya juga sempat berkunjung ke Pantemakassar di
Distrik Oecussi, yang terpisah dari distrik-distrik Timor Leste
lainnya dan dikelilingi oleh wilayah Indonesia. Kalau tidak mau
keluar-masuk imigrasi dan harus bayar fiskal lagi, dari Dili ada ferry
ke Oecussi sekali seminggu, setiap hari Kamis. Perjalanannya sekitar
13 jam. Ongkosnya $15.

Biaya hidup di Timor Leste termasuk mahal. Penginapan yang tergolong
murah dan biasanya disediakan makan pagi dan malam adalah biara
susteran, sekitar $25. Makan juga mahal. Bakso 1 mangkok yang di
kompleks saya masih Rp. 3000,-, di sana kita harus bayar $1. Di Dili,
kalau mau makan nasi yang murah, pergilah ke restoran Menado di
kawasan Mandarin. Dengan nasi, sayur dan sepotong ikan, ''cuma'' $2.5.

Untuk ancer-ancer saja, biaya hidup untuk budget traveler di Timor
Leste, mungkin sekitar $30 sehari (penginapan, transport & jalan-jalan).

Semoga puas dengan pencerahannya. Kalau ke Dili, jangan lupa
berkunjung ke patung Cristo Rei (Kristus Raja) dan menikmati pantainya
yang indah sambil menanti matahari terbenam.

Salam,
Christine Tina Tjandraningsih

Kirim email ke