Beberapa hal dari email teman-teman terkait dengan yang pernah saya alami.

Dengan kata kunci batik dan Solo saya merasakan hospitality Turki yang bukan 
kehangatan pedagang permadani.  Saat itu saya dan istri baru saja ke luar dari 
Yesil Cami, masjid hijau, di Bursa, Turki.  Seseorang mengajak bercakap dan 
bertanya dari mana kami berasal.  Mendengar jawaban kami, ada seorang bapak 
langsung datang menyela.  "Indonesia?  Solo?", tanyanya.  Ada apa?  Dari 
percakapan lanjut, bapak itu bilang pernah ke Solo untuk memborong batik.  Ia 
masih ingat Pasar Klewer, menginapnya di Kusuma Sahid.  Begitu saya tunjukkan 
paspor bahwa saya lahir di Solo, keramahannya menjadi-jadi.  Kami diajak 
singgah ke rumahnya dan dijamu.  Berkat bapak itu pintu museum yang sedang 
tutup pun jadi terbuka.

Salah satu daya pikat Indonesia (khususnya Indonesia Timur) itu kain tenun 
tradisionalnya.  Masing-masing daerah punya motif khas yang bahkan berbeda 
setiap kabupatennya.  Tiap kali sampai di suatu daerah, walau bukan kolektor 
kantong tebal, saya selalu berupaya menyisihkan anggaran untuk membeli kain 
asli setempat.  Maunya untuk isi museum pribadi, apa daya sampai hari ini belum 
jadi-jadi sehingga hanya dilipat dan ditumpuk .. he.. he.  'Berburu' kain 
tradisional langsung dari pembuatnya sejatinya salah satu 'tantangan' menarik 
dalam backpacking.  Tujuannya bukan lagi mendapat harga yang lebih miring dari 
yang di show room, tapi lebih ke proses mendapatkannya.  Proses itulah yang 
membuat koleksi kita lebih bernilai ketimbang harga nominalnya.

Menyoal batik dan kain tradisional mustahil lepas dari perawatannya.  Untuk ini 
saya memetik pengalaman unik di Baun, bekas kerajaan agraris sekitar 30km 
selatan Kupang.  Sekitar Q1-1998 saya ke sana ditemani putra mantan guru saya 
di Sekolah Dasar.  Ketika KKN (Undana), teman ini ditempatkan di Besmarak, desa 
kecil tak jauh dari Baun.

Kami tiba di Baun menjelang tengah hari dan langsung menuju rumah Bapa Raja.  
Meski disilakan masuk rumah, kami memilih duduk-duduk di halaman rumputnya yang 
rindang.  Istri Bapa Raja sedang berbincang dengan seseorang, orang itu tengah 
memunguti buah-buah yang jatuh di rumputan.  Singkat cerita, kami pun bisa 
nimbrung di obrolan mereka.

Buah yang dipungut tadi tak lain dari buah klerak (kata orang Jawa: lerak).  
Saya selalu ingat dengan masa anak-anak, setiap kali mencuci kebaya batiknya 
nenek selalu memakai lerak.  Agar tak (cepat) luntur, begitu kata orang-orang 
tua dulu.  Pemungut tadi seorang PPL yang tahu benar kegunaan lerak.  Menurut 
Istri Bapa Raja, pohon klerak itu satu-satunya yang ada di Timor.  "Yang 
menanam nenek saya asli Salatiga, bibitnya dari Jawa," jelasnya.  Masih kata 
beliau, banyak orang memanfaatkannya
untuk mencuci tenun-tenun tradisionil.

Berhari-hari setelah kejadian itu cerita Istri Bapa Rja terbukti.  Manakala 
mampir kios penjual tenun tradisional selalu saya tanyakan bagaimana 
perawatannya.  Jawab mereka seragam: dicuci dengan klerak.  Di mana bisa 
dibeli?  Jawab mereka lagi, pohon kleraknya ada di Baun, di rumah Bapa
Raja.  Padahal yang menjawab itu ada orang Sabu, Rote, bahkan sampai di 
Kabupaten TTS dan TTU.  Saya hanya bisa merenung, "Betapa jauh dan dahsyat 
riwayat pohon itu."    

Salam dari Sangatta 



-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Aris
Sent: Wednesday, July 25, 2007 1:42 PM
To: Venny Tan
Cc: yudas moro; endrocn; [email protected]
Subject: Re: [indobackpacker] Siapa yang nggak tersentuh?

(delete)

jadi, tetep bangga jadi indonesia... tapi Ngomong2x ttg Kerajinan, 
terutama Traditional Tenun.. Pernah Tau, kalau hasil Traditional Batik,
Tenun asli indonesia itu harga nya Jutaan Rupiah?

ada yg mau beli Kain Sumba? kain Lombok yg asli? atau kain songket
Batak, Palembang, dll....atau Mau Beli Kain Buatan Penduduk Lamalera
yang harganya Masih di kisaran Rp. 300.000 / pcs..

(delete)

Venny Tan wrote:
> Jangan takut, orang-orang asing masih sadar koq kalo Batik adalah
originaly punya orang Indonesia. Tiap bulan America beli batik dari Indo
(solo khususnya) sample ratusan tibu meter. Saya kerja di textile sudah
hampir 10th. La wong orang malay-nya juga beli dari sini koq hahahaha...
Mereka beli kain Panjang dari Solo ratusan pieces. 
>
> Venny


      __________________________________________________________________ 
Yahoo! Singapore Answers 
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at 
http://answers.yahoo.com.sg

Kirim email ke