Rabu, 01 Agustus 2007
   
  Ratusan Satwa Langka Menderita
Karena tak Ada Dana, Makanan Terpaksa Dikurangi & Dokter Hewan Diberhentikan  
  SUKABUMI, (PR).-


  
Ratusan ekor satwa langka dilindungi yang selama ini dititipkan di Pusat 
Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) Nyalindung Kabupaten Sukabumi terancam mati 
akibat kelaparan dan tidak tersedianya falisitas kesehatan. Kondisi ini terjadi 
menyusul dihentikannya bantuan operasinal dan pembiayaan berbagai fasilitas 
dari Gibon Foundation Swiss ke enam pusat penyelamatan satwa di Indonesia, 
termasuk PPSC. Sementara bantuan dari pemerintah dan donatur sangat kecil 
ketimbang kebutuhan PPSC.
   
  "Kami terpaksa merumahkan dokter-dokter hewan serta karyawan yang berjumlah 
17 orang. Ini dilakukan karena PPSC tidak bisa memberikan kompensasi apa pun 
kepada dokter hewan dan karyawan. Jangankan kompensasi berupa honor, untuk 
membeli peralatan kesehatan dan obat-obatan pun sudah tidak mampu lagi. Kini 
peralatan kesehatan sudah berdebu dan PPSC saat ini hanya diurus oleh beberapa 
relawan. Kondisi seperti ini sama dengan lima pusat penyelamatan satwa lain di 
Indonesia," ujar Humas PPSC Nyalindung Kab. Sukabumi, Budiharto.
   
  Budi menjelaskan, bantuan dari Gibon Foundation Swiss secara efektif 
dihentikan awal Januari 2007. Padahal, jumlah bantuan yang diberikan untuk 
menghidupkan PPSC dengan ratusan ekor satwa langka dilindungi ini cukup besar. 
Untuk kelanjutan PPSC, pengurus meminta bantuan pemerintah dan dialokasikan 
dana sebesar Rp 200 juta. Jumlah ini pun sudah termasuk bantuan dari para 
donatur. Padahal, biaya makan dan pemeliharaan kesehatan satwa langka mencapai 
Rp 60 juta/bulan, belum termasuk pemeliharaan fasilitas bangunan, honor 
karyawan, dan kebutuhan obat-obatan. Total kebutuhan setiap tahunnya mencapai 
Rp 1,5 miliar.
   
  Kondisi yang sudah berjalan baik ini menjadi kacau balau setelah Gibon 
menghentikan bantuannya kepada enam pusat penyelamatan satwa di Indonesia, 
termasuk PPSC. Kebingungan para pengurus PPSC sedikit terobati setelah 
pemerintah memberikan bantuan, sayangnya bantuan yang dialokasikan jauh dari 
memadai. "Akibatnya, jatah makan beberapa binatang pemakan daging mentah, 
terpaksa dikurangi, misalnya untuk harimau kumbang, macan tutul, macan 
sumatera, dan makanan satwa lainnya harus dikurangi, baik kualitas maupun 
kuantitasnya. Dengan kebiasaan makan yang cukup dan kemudian diberikan jatah 
yang kurang, beberapa ekor satwa langka sakit. Kalau sudah seperti itu, kami 
terpaksa mengeliminasinya karena diobati juga tidak ada obat-obatan serta 
dokter hewan," ujar Budi.
   
  Diakui oleh Budi, jumlah satwa yang diselamatkan di PPSC saat ini sudah jauh 
berkurang. Dari 3.000 ekor satwa, termasuk beruang, harimau, macan, orang utan 
dan beberapa jenis primata serta burung, ada yang mati dan ada yang terpaksa 
dititipkan di kebun-kebun binatang. Sebagian lainnya dilepas ke alam bebas 
walaupun tidak ada jaminan untuk bisa berumur panjang.
   
  Sementara kepala Resort BKSDA Sukabumi, Najamudin Sugeha menjelaskan, untuk 
menyelamatkan satwa-satwa yang ada di PPSC Nyalindung ini, pemerintah harus 
secepatnya mengambil langkah konkret. Misalnya mengambil alih PPSC (dalam 
pembiayaan sepenuhnya) atau menarik satwa-satwa tersebut untuk disebar ke 
sejumlah kebun binatang serta ditempatkan di beberapa habitat binatang-binatang 
langka. Jika tidak, satwa-satwa yang ada di PPSC akan mati kelaparan atau 
diserang penyakit. (A-82)***
   
sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/082007/01/0308.htm
       

Kirim email ke