sedikit menambahkan tulisan dari rekan Dominic... untuk Pos di pantai Pangumbahan memang ada 6 Pos biasanya memang setiap Pos dijaga oleh minimal 2 org tapi karena sekarang2 sudah jarang penyu yg mendarat juga minimnya penduduk yg mau jadi petugas jaga di Pangumbahan ( Rp 7.500 / hari ) maka setiap Pos hanya dijaga oleh 1 petugas saja... dari Pos 1 (dekat org bule suka surfing) hingga Pos 6 (dekat muara pantai Cipanarikan) umumnya penyu mendarat di sekitar Pos 2 hingga Pos 4 bila musim bertelur kadang ada yg sampai di Pos 6
Dulu2 di pantai dekat Pos 3 (tempat kantor Pangumbahan) ada semacam tempat yg dikelilingi pagar bambu, tempat itu adalah tempat penempatan telur2 yg ditetaskan secara alami di pantai terbuka. jadi bukan di gentong2 pasir seperti yg sekarang dilihat di Pangumbahan. tapi rupanya banyak juga tangan2 jahil & kurangnya pengawasan petugas2 disana hingga akhirnya dibuatkan model gentong2 pasir begitu.. Dosen IPB yg biasanya menangani konservasi Penyu yaitu Pak Ismu mungkin sekarang2 sudah jarang sekali mampir ke Ujung Genteng (Pangumbahan) Saya kerap suka bertemu dengan mahasiswa yg meneliti tentang Penyu di Pangumbahan mereka meneliti Penyu itu hingga ikut2 jaga malam serta rela bertenda ria di daerah Cikepuh yg lumayan jauh (± 6 jam jalan kaki susur pantai) Tapi rata2 mereka semua hanya menyelesaikan tugas akhir / tugas dari dosen untuk kelanjutannya gak tahu juga...:-) Umumnya penyu bertelur di Pangumbahan, telurnya diambil saat lubang belum ditutup dan langsung dihitung sambil dimasukkan ke dalam karung. Jadi saat penyu tersebut menutup lubang, si telur sudah tidak ada di lubang. Penyu sendiri yg saya sering amati tidak pernah membuat lubang palsu, dia hanya menutup lubangnya dengan pasir sambil bergeser hingga 1-2 meter jadi kalo kita disuruh cari lubangnya cukup sulit karena sudah gak jelas lubangnya yang mana... :-) Bagi petugas ada trik tersendiri.... umumnya petugas suka bawa tongkat besi (entah kalo sekarang) jadi kalo si petugas membiarkan lubang yg ada telur di tutup oleh si Penyu maka sesudah tamu (pengunjung) pergi dia akan mencocok2an tongkat besi itu ke pasir disekitar si Penyu menutup lubang, bila ada yg ringan masuknya berarti itulah lubang yg ada telurnya. Konsekwensinya ada telur2 yg tertusuk tongkat besi itu.. :-( Umumnya petugas tahu kalo misalnya ada banyak tamu atau ada tamu orang asing, maka dia akan membiarkan si penyu menutup lubang hingga selesai. Untuk sekarang ini rasanya telur2 itu sudah dilarang diperjual belikan sama sekali sebelumnya (th 1992 - 1998) ada ketentuan yg menyebutkan bahwa si konservasi (CV Daya Bakti) wajib menetaskan 10rb ekor tukik yg akan dilepas 1th sekali saat hari nelayan dan mengundang pejabat kenyataannya : kayaknya gak sampai 10rb ekor tukik... :-( dan acara pelepasan tukik ini hanya sebagai show saja supaya terlihat konservasi ini berjalan baik & selalu melestarikan Penyu. Tapi gak tahu juga kalo masih ada yg dijual dipasaran bebas telur penyu ini... :-( Kalo dilihat sekarang2 penyu sudah makin jarang bertelur di Pangumbahan... entah karena memang populasi di laut yg berkurang atau memang telah berpindah ke daerah lain. Sempat pada bulan November 2006 ditangkap kapal nelayan dari China yg menangkap penyu2 di perairan ujung genteng, kalo tidak salah ada sekitar 80an lebih penyu dan yg berhasil di kembalikan ke laut sekitar 25an. itupun ketahuan oleh nelayan sekitar ujung genteng... :-(( saya tahu peristiwa ini dari hasil cerita nelayan yg ikut menangkap kapal nelayan China itu.. Dulu waktu saya ke Pangumbahan (th 1992) penyu yang naik masih banyak banget, sempat ikut bantuin petugas disana. kita duduk2 dipantai pada mlam hari jelas terlihat punduk2 si Penyu yang naik... kayak serangan oleh kapal2 amphibi... jadi penyu yang naik cukup banyak.. bahkan si petugas kewalahan untuk mengambil telurnya, karena sedang mengambil yg dilubang ternyata lubang yg lain sedang ditutup penyu... sekitar th 1995 mulai terlihat pengurangan Penyu yg mendarat di pantai Pangumbahan sebab utama karena adanya rumah pompa air laut di sekitar pantai tempat bule surfing (Pos 1) mungkin sekarang masih terlihat bekas2 bangunan & betonannya di pantai. rumah pompa itu untuk memompa air laut yg dialirkan ke tambak2 udang di belakang kantor pangumbahan. Sekarang sudah bubar tuh tambak (jaman reformasi dimulai) :D tapi ada lagi yg mengganggu sekarang ini.. yaitu bangunan milik pengusaha luar daerah yg membangun persis di sekitar 100m batas pantai di tempat surfing (Pos 1) & anehnya bangunan itu disetujui oleh pihak Pangumbahan (CV Daya Bakti) Ironis juga memang... walau mungkin ada kerjasama income diantara mereka... :-S Jadilah makin terganggu si Penyu untuk mendarat di pantai Pangumbahan. betul apa yg dikatakan oleh mas Dominic. Pangumbahan terbesar & terbagus di Jawa Barat selatan lihat saja lambang pemerintahan Kabupaten Sukabumi... ada unsur tempurung Penyu. bahkan telur2 penyu dari Pangumbahan banyak juga yg dikirim ke luar pulau untuk ditetaskan disana supaya nantinya si Penyu akan kembali ke pantai dimana si Tukik dilepaskan. Saya masih cukup senang karena kondisi jalan dari perkampungan Cibuaya ke Pangumbahan masih apa adanya mengikuti alam & cuaca. tidak ada perubahan dari awal saya datang hingga sekarang.. kadang kalo musim hujan banyak jalur2 mobil yg mencari jalan yg tidak mater, jalur2 motor yg banyak cabang. musim kemarau terlihat mudah dilalui walau ada betonan yg cukup menyulitkan bagi mobil2 biasa. Kadang saya suka ditanya.. "Apakah bisa menggunakan mobil untuk tempat Penyu..??" saran saya lebih baik menggunakan ojek atau kalo perlu jalan kaki saja.. kalo mobil rasanya itu lampu2 mobil begitu mengganggu suasana disana yg masih gelap walau kadang motorpun cukup mengganggu... Kenapa saran saya menggunakan ojek motor..?? ini menyangkut perut2 para penduduk juga yg bekerja sebagai ojekers dadakan... kalo mereka mendapat pemasukan, rasanya akan makin kecil pikiran mereka untuk mencari income dari penyu (telur).. Mohon Maaf bila terlalu panjang... sebetulnya masih banyak yg ingin saya ceritakan, tapi saya rasa cukup dulu untuk masalah penyu.. Ujung Genteng & Pangumbahan jangan selalu di identikan dengan Penyu saja... Pantai2 daerah sana bagus2 juga... jadi kalo berkunjung ke Ujung Genteng jangan berpikiran "Kalo udah ke Ujung Genteng Wajib lihat Penyu.." -- salam... petrus suryadi ym: petrussuryadi http://picasaweb.google.com/petrussuryadi http://petrussuryadi.multiply.com http://petrus.fotografer.or.id http://come.to/genteng "Paradise Beach" On 8/22/07, Dominic Dominic <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Salam buat backpackers semua. > > Ini pertama kali saya menulis disini. Biasanya hanya baca saja hehe, > tetapi > karena bahasannya adalah sesuatu yang pernah saya alami dan rasakan > baru-baru saja, saya jadi ingin sedikit berbagi. > > Jadi, ceritanya... > Beberapa hari yang lalu saya dan teman saya sedang "iseng" pergi kesana > untuk mencari tahu > informasi tentang konservasi penyu di Pangumbahan, UG tersebut. > > Pagi kami sampai di UG dan sempat melihat lingkungan sekitar termasuk TPI > nya dan Cagar Alamnya yang memang kurang dirawat. Siang menuju sore kami > kemudian berjalan kaki menuju tempat konservasi tersebut dan berencana > menginap disana untuk melihat penyu bertelur. > > Singkat kata....kami sampai disana dan sembari menunggu disana, kami > sempat > mengobrol-ngobrol dengan petugas disana. > Ada 7 orang petugas disana untuk mengawasi peneloran penyu disana, namun > lebih sering hanya 4-5 orang yang disana. Pos pengamatan penyu yang > diadakan > disana adalah 6 pos, mulai dari batas barat sampai ke timur dan mereka > berjaga seorang diri dalam gelap semalaman untuk menunggu penyu naik dan > mengawasinya bertelur lalu memindahkan telurnya ke dalam tempat yang aman. > Penyu yang sudah bertelur akan diambil telurnya dan dipindahkan ke > tong-tong > yang berisi penuh pasir pantai. Satu telur untuk setiap tong. Masa > pengeraman berlangsung yang didalam tong berkisar 70hr dan jika di pasir > di > pantai sekitar 45 hr, dimana faktor utama keberhasilan penetasan itu > adalah > suhu. Umumnya telur ditaro di Tong pasir karena jika di pasir di pantai > sangat rawan dengan pencurian sehingga katanya harus diawasi 24 jam terus > menerus..repot juga kan. > > Penyu yang ditemui disana umumnya adalah jenis penyu hijau. Ada juga penyu > lekang tapi itu jarang katanya. Penyu Hijau bertelur dengan sistem 3 > periode, pada periode pertama adalah periode dengan hasil telur terbanyak > yaitu 100-200 telur. lalu pada periode kedua umumnya kurang dari jumlah > itu, > biasanya kurang dari 100. Periode ke3 lebih kecil jumlah telurnya > dibanding > periode 2. > > Proses peneluran penyu memang harus hati-hati, sebelum mereka menelurkan > telurnya, mereka sama sekali sangat rawan oleh cahaya meskipun cahaya dari > sebatang rokok dan juga membutuhkan ketenangan. Jadi saat mereka datang > dari > laut->naik ke pasir->menggali lubang pertama untuk bertelur mereka sama > sekali tidak boleh diganggu. Nah, saat dia sudah menelurkan telurnya > barulah > kita boleh melihat, menengok dan berfoto ria. Itu semua boleh, cuman > tetap, > jaga ketenangan dan jaga rasa respeklah buat ibu(penyu) yang baru > melahirkan. Mengingat ibu tersebut juga sudah cukup dewasa (Penyu hijau > bisa > bertelur setelah berumur +/- 20-25 th) > > Jadi, tolong hargai ibu-ibu itu.ok.capek kan abis melahirkan. > > Nah, selesai menelurkan telur tersebut dalam lubang yang dalamnya berkisar > antar 80-100 cm itu, penyu tersebut berpindah lagi dan mulai membuat satu > lubang lagi, Lubang palsu yang tidak diteluri. Entah, mungkin sebagai > tindakan pencegahan alami oleh penyunya, mengingat seringnya telur yang > dicuri. Hehehehe...bisa aja sih. > > Selesai membuat lubang palsu, dengan tenaga yang tersisa dia kembali ke > laut. Jadi, tolong jangan dinaiki tempurungnya karena anda itu berat. > Analoginya, coba ibu atao teman atau ang.keluarga yang wanita sudah > selesai > melahirkan dengan susah payah seorang anak terus ujug-ujug ada orang yg > foto2 senyum2 n nemplok ngegemblok ibu itu. > > kasihan kan.....hehehe > > Selesai nelor dan kembali ke laut, petugas langsung menggali lubang > pertama > dan mengambil telurnya untuk disimpan dalam tong. Sekedar informasi, CMIIW > tempat konservasi itu selain memang untuk melestarikan penyu tapi juga > menjual telornya dengan persentase 50% : 50%. Setengah dijual setengah > dikonservasikan. telor penyu yang dikonservasikan dilepaskan setelah > menetas > dan berumur 3 bulan. Pada bulan mei 2007 kemaren kalau tidak salah > diadakan > sukuran nelayan di UG dan dilepaskan beberapa tukik penyu disitu. > > Tempat konservasi penyu Pangumbahan tersebut juga dikontrol secara rutin > oleh DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan) dan dilaporkan juga secara > rutin ke DKP kabupaten atau propinsi kalau tidak salah. Terdapat juga > konservasi penyu di Cikepuh, sebelah utara Pangumbahan, dekat Teluk > Ciletuh, > akan tetapi, di Cikepuh tersebut telurnya lebih sering di curi daripada > dikonservasikan. Kabarnya, Konservasi Pangumbahan ini yang terbesar dan > terbagus di kawasan Jawa Barat Selatan. > > Yang menarik dari perjalanan kemarin itu adalah ternyata kami beruntung, > karena sudah 5 malam sebelumnya tidak ada penyu yang mendarat dan malam > itu > juga adalah satu2nya penyu yang mendarat di situ, tepat beberapa meter > dihadapan tempat kami duduk jaga...hehehehe > > Yah, demikianlah pengalaman saya dengan penyu waktu itu. > Semua informasi ini saya dapatkan dari wawancara (mengobrol) dengan para > petugas jaga disana. > Jika ada kesalahan informasi yang saya utarakan disini saya mohon dan > dengan > senang hati untuk dibenarkan dan meralatnya. > Siapa tahu ada orang IPB dan atau ITB yang ikutan milis ini, karena > menurut > para petugas jaga disana orang IPB dan atau ITB sering berkunjung kesana > untuk melakukan penelitian, Mahasiswa maupun Dosen. > > Sekian.Semoga informasi ini berguna bagi rekan backpacker semua. > > Salam > > Ocean 916 > [Non-text portions of this message have been removed]
