bulan lalu ke saint moritz, nginep dua malam. ini ringkasan kisahnya, sepekan 
lalu dimuat di sebuah harian umum di jakarta. 

======


Seharusnya kami datang ketika salju berguguran di Saint Moritz. Itulah saatnya 
gemerlap desa kecil yang menempel di Lembah Engadin ini terlihat. Turis dengan 
mantel bulu berkelebatan di jalan desa, sementara lapangan terbangnya tak 
henti-hentinya memarkirkan puluhan jet pribadi dari pelbagai belahan dunia. 
Kata orang, tanpa salju, Saint Moritz laksana Manchester United tanpa David 
Beckham

Tapi tetap saja kemewahan itu memendar kendati kami tiba ketika matahari sedang 
penuh-penuhnya, pertengahan Agustus lalu. Aston Martin, Roll Royce atau Jaguar 
masih bersliweran di perempatan desa yang hanya berpenduduk 6000 jiwa ini. Dan 
keberadaan butik Hermes, Gucci, Prada atau Cartier di sepanjang jalan, tak bisa 
menutupi bahwa inilah tetirah paling wah di Swiss. Tak mengherankan jika desa 
ini juga ditasbih sebagai top of the world.

„Kalau Anda datang pada musim salju, bukit-bukit itu akan gemerlapan sampai 
miliaran dollar,“ tutur Gian, kusir delman yang kami sewa untuk menjelajahi 
Lembah Engadin. Bukan harga tanah yang membuat gemerlapan itu begitu memendar. 
„Namun adanya Bill Gates yang main ski disitu,“ katanya sambil terkekeh-kekeh.

Saint Moritz memang terkenal sebagai tempat tetirah kaum jet set dunia. 
Disinilah Rockfeller, Bill Gates, Evita Peron, Syah Iran, Pangeran Charles, 
baron – baron narkoba dari Amerika Latin, Syeik Timur Tengah atau orang – orang 
kaya baru lainnya, melewatkan liburannya. 

„Tiba pagi hari di Samedan (desa tetangga Saint Moritz yang memiliki air port), 
malam hari kembali ke London,“ imbuh Gian ketika mengisahkan tipikal turis jet 
set dari Inggris itu. Tak jarang datang dengan pesawat pribadi mengkilap dari 
Kolumbia, imbuh Gian, lalu tiga hari berfoya – foya di Badrutts Palace Hotel, 
salah satu hotel mewah di kawasan ini.

Luasnya hanya 2869 kilometer persegi, tak lebih lebar ketimbang Kotif Depok. 
Menjangkaunya pun tak begitu mudah, karena dikepung tebing Alpen setinggi 2000 
meter.  Bahkan, jika salju tiba, desa mungil ini hanya bisa dikunjungi dengan 
kereta api. Yang tetap mau pamer mobil di Saint Morotz, mesti memasukkan 
kendaraan kesayangannya itu ke gerbong khusus kereta api. Atau, bagi yang 
berduit, itu tadi, dengan jet pribadi.

Namun soal kemasyurannya, memendar kemana mana, ke seluruh dunia. Utamanya ke 
kompleks orang – orang kaya dunia. Dari Istana Buckingham, kastil-kastil syeik 
Timur Tengah, villa – villa megah di Hollywood, hingga istana – istana kecil 
baron narkoba di Kolumbia. Juga, saya yakin, sampai ke kuping orang kaya baru 
di Jakarta. „Ya, saya pernah ke Saint Moritz,“ begitu pengakuan Peter Gontha, 
suatu kali. Tak dijelaskan mengapa salah satu orang kaya Indonesia ini 
mengunjungi Saint Moritz. Yang pasti, tak akan sedikit duit yang ditaburkan 
jika ingin menikmati desa ini. 

Menancap di lembah Engadin, Kabupaten Maloja, Provinsi Graubunden, ia tergolong 
desa mungil di Swiss yang berbatasan dengan Italia. Mungil bukan hanya karena 
wilayahnya yang sempit. Tapi penduduknya memang hanya 6000 jiwa, itu pun 
separuhnya terdiri dari pekerja musiman. Cuma, kemungilan dan keterpencilan ini 
tak menghalangi Saint Moritz sebagai tetirah yang paling wah di Swiss. „Kami 
memang tidak memburu turis massal, namun turis yang berkelas,“ tutur petinggi 
turisme Engadin, suatu kali. Dan yang berkelas itu dirinci sebagai yang kaya, 
elegan, ekslusif dan sportif.

Kami jelas bukan dari golongan turis yang diharapkan Saint Moritz, ketika pekan 
lalu mencoba menikmati kemewahan kampung ini. Datang dengan mobil Peugeot tua 
keluaran tahun 70-an dengan kenalpot yang mulai menyaingi suara traktor, dan 
hanya menginap di Youth Hostel desa tetangga Saint Moritz, jelas kami gemetar 
untuk memasuki butik – butik mewah itu. Kami juga mesti menahan nafas sangat 
dalam ketika membaca harga minuman di King`s Klub, sebuah pub elite di 
Badrutt`s Palace Hotel di kampung itu. Harganya bisa meloncat sepuluh kali 
lipat, bahkan lebih. Ada secawan whisky yang dibandrol 500 swiss franch atau 
sekitar Rp 3,5 jutaan. Hanya untuk membasahi kerongkongan akibat aroma amis 
ikan bakar dari danau Saint Moritz, misalnya, secawan alkohol itu tentunya tak 
sebanding dengan kantong tamu tak diundang ini. 
“Kalau ke tempat gituan, jika tak banyak uang, lebih baik tak masuk pak,” imbuh 
Gian. Ia merekomendasikan resto atau pub yang memasang harga bagi tamu – tamu 
tak diundang macam kami ini. 

Meski ditulis berbandrol harga normal, namun di Saint Moritz, tetaplah lebih 
mahal ketimbang resor sejenis di Swiss ini. Youth Hostel (satu kamar empat 
ranjang)  yang kami inapi, mematok harga 50 swiss (rp 350 ribu) swiss franch 
semalam untuk satu orang. Di Montreux, Zurich, atau Bern, penginapan sejenis 
hanya separuh harganya. Sementara naik delman setengah jam untuk menjelajah 
lembah Engadin, harus membayar sejuta perak. 

Saint Moritz memang khusus untuk mereka yang duitnya tak berseri. Evita Peron, 
mantan first lady Argentina, kabarnya tiap tahun mengunjungi tempat ini. 
Pengeran Charles, pewaris tahta Inggris, sekadar main polo atau ski, di 
sepanjang lembah Engadin, meski akhirnya lebih  menyukai kampung Kloster, 
tetangga sekaligus saingan Saint Moritz. Dinasti Onassis, Syah Iran, Aga Khan, 
Rockfeller, untuk menyebut beberapa nama, adalah pelanggan Saint Moritz. Belum 
lagi selebritis Hollywood, India atau orang – orang kaya baru Rusia. Sementara 
turis massal dari tanah air, biasanya hanya mengenal Swiss melalui Zurich, 
Vaduz, Lucerne dan Mount Titlis, setelah berdesak-desakkan dalam bus pariwisata 
yang tergolong liburan murah meriah di Eropa. 

“Lebih banyak kalau musim dingin, dimana salju mulai jatuh, membanjirlah 
selebritis ke Saint Moritz,” ungkap Gian.
Ia, akunya, tak jarang bertemu langsung. Salah satunya, Roger Moore, mantan 
bintang film serial 007. “Mulanya tak mengenalnya, karena berkaca mata. Tapi 
ketika melihat banyak turis yang memotretnya, akhirnya tahu, dia memang Roger 
Moore,” katanya. Semasa menjadi sopir taksi, tak jarang ia menjemput kalangan 
jet set di bandara Samedan, lalu membawanya ke hotel hotel yang bertarif 
puluhan juta rupiah semalam. 

Apa yang menarik dari Saint Moritz bagi kalangan berada ini? Soal keindahan, ia 
tak terlalu jauh berbeda dengan Interlaken atau Lucerne, dua kota turisme 
lainnya di Swiss. Bahkan, Interlaken atau Lucerne, boleh jadi, lebih indah 
ketimbang Saint Moritz. Namun, gemerlap Saint Moritz memang lebih mencorong 
ketimbang dua kota itu. „Entahlah, namun kalau musim salju, memang Saint Moritz 
begitu indah. Lembah nan putih, atau sungai kehijauan karena membeku,“ kata 
penduduk setempat. Sangat indah, monsieur, sangatlah indah melihat sungai beku 
itu, imbuhnya. 

Atraksi di Saint Moritz pun, umumnya, mengarah kepada atraksi khusus orang 
kaya. Olah raga polo yang dimainkan di atas danau Saint Moritz yang membeku, 
atau kapal layar yang diikuti peserta kelas dunia, semacam Alinghi atau Tim New 
Zealand. Turis biasa, tak akan mampu mengikuti olah raga layar itu. Belum lagi 
ski di lereng Engadine. Karena kemasyuran olah raga musim dinginnya ini, Saint 
Moritz sempat dua kali dijadikan tuan rumah olimpiade musim dingin sejagad.

Hal lain, yang tak boleh dilupakan, adalah image atau citra Saint Moritz 
sebagai tetirah khusus orang kaya. Inilah yang membuat Saint Moritz makin padat 
dikunjungi turis yang mau dianggap sudah mampu masuk ke golongan High Society 
Class. Belum merasa berstatus kaya jika belum ke Saint Moritz. Orang Swiss yang 
biasanya sangat rendah hati pun, bahkan menutupi kekayaannya mati-matian, jika 
ke Saint Moritz akan memamerkan kemewahan yang dimilikinya. Mantel bulu atau 
mobil mewah yang biasanya hanya dielus-elus di garasinya, akan dikeluarkan 
khusus hanya jika ke Saint Moritz. Meski datang pada musim panas, kami tak 
jarang memergoki mobil – mobil mewah tersebut melintas di desa kecil ini.

Letaknya yang hanya satu jam perjalanan dengan mobil dari Davos, saya yakin 
beberapa orang Indonesia pernah menyambangi kampung ini. Davos, sebagaimana 
kita tahu, adalah kota di Swiss yang kerap digunakan sebagai tempat perundingan 
politikus dunia, tidak terkecuali Indonesia. Perundingan Timor – Timur atau 
Aceh, sering dilakukan di Davos. Tinggal menerobos tebing Alpen, atau sambil 
santai dengan kereta api, tak sampai satu jam sudah bisa menghirup kemewahan 
desa yang bergelar top of the world ini.


       
____________________________________________________________________________________
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story. Play 
Sims Stories at Yahoo! Games.
http://sims.yahoo.com/  


"No SPAMMING or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
backpacking trip visit http://backpacking.indobackpacker.com
Photogallery visit http://photogallery.indobackpacker.com

"Sebelum membalas email, Mohon potong bagian yang tidak Perlu dan kkutip bagian 
yang perlu saja"

Milis tidak bisa menerima ATTACHMENT, untuk menghindari Virus dan Menghemat 
Bandwidth.

- Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
- No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
- menerima email: [EMAIL PROTECTED]
- berhenti dari milist kirim email kosong : [EMAIL PROTECTED]
- Begabung kembali ke milist kirim email kosong : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke