Wah ngga terasa sudah tiga tahun ya. Sepanjang rentang waktu itu saya  
ngerasa banyak sekali manfaatnya. Apa yang diharapkan dengan ide  
dasar milis indobackpacker  sebagian besar sudah mulai terlihat  
hasilnya. Sarana berbagi informasi, gaul dengan sesama pejalan, dan  
tentu mengenalkan alternatif baru travelling.

Banyak kendala, banyak dinamika dan banyak pencerahan. Seperti minum  
air laut, semakin diminum semakin haus. Informasi itu memang  
berharga. Di awal IBP sangat sulit untuk mendapatkan informasi  
tentang destinasi, transportasi, di Indonesia dan luar negeri. Karena  
sulit itulah  malah menjadi sebuah tantangan.

Menapak ribuan mil haruslah diawali dengan setapak kaki. Seperti juga  
mendaki gunung dimulai sejejak kaki. Dengan makin berkembangnya IBP  
semoga tidak hanya 'trend sesaat' tapi menjadi 'passion' atau sebuah  
semangat yang memberi aliran darah baru. Backpacking is not just  
traveling.

Terimakasih untuk kawan-kawan member IBP yang membagikan informasi  
disini, memberi masukan dan kritik yang menyenangkan (langsung dan  
enggak langsung). Terimakasih untuk kawan2 moderator dan owner juga  
donatur IBP.  Salut untuk moderator yang berusaha menegakkan rules  
demi lurusnya dialog dan wacana di milis. Terimakasih kepada para  
spammers dan junkers yang membombardir milis. Semoga diusia yang  
ketiga ini milis jadi tambah dewasa.


Salam,
Ambar


Moderator IBP :
Suryatmaning Hany (Singapore)
Erwin Yulianto (Jakarta)
Andi Azimuth (Jogjakarta)
Ambar Briastuti (owner-Taipei)
Aris Yanto (owner-Jakarta)

Pencetus ide :
Santoso (Sangatta)
Aris Yanto
Erwin Yulianto



On 29 Sep 2007, at 05:57, joko santoso wrote:

> Hangat perbincangan seputar TN Komodo membuat saya merasa  
> tua ...he3x. Lebih dari 20 tahun lalu saya menyeberangi Selat Sape.  
> Saat itu dermaga Sape belum punya jetty. Untuk naik ke ferry orang  
> mesti diantar dengan sampan. Astaga .. ferry yang seukuran di jalur  
> Padang Bai - Lembar hanya membawa 8 penumpang: saya bersama teman  
> jalan dari Yogya, guru SMP Ruteng yang asli Malang, seorang PPL di  
> Ende asli Boyolali, dan 4 orang Flores. 1 dari 4 teman Flores itu  
> mahasiswa Atmajaya, Yogyakarta, yang pulang kampung.
>
> 8 jam kebersamaan di ferry sangat membantu kami berdua yang buta  
> Flores. Tiba di Labuhan Bajo sore menjelang Maghrib, kami diajak  
> mahasiswa Atmajaya tadi menginap di rumah kerabatnya. Di rumah itu  
> ada anggota keluarga yang bekerja di Taman Nasional Komodo, namanya  
> Martinus.
>
> Sekembali dari Flores, korespondensi antara saya dan Martinus  
> terjaga. Meski tidak sering, minimal sekali dalam 2 tahun kami  
> bertukar kabar! Saya baru kehilangan kontak 11 tahun terakhir sejak  
> pindah Sangatta. Itu sebabnya pada setiap kenalan yang ke Komodo  
> saya selalu titip pesan siapa tahu bertemu dengannya. Sejauh ini  
> hasilnya nihil. Awal pekan ini, keadaan berubah. Berkat bantuan  
> mbak Katrin (PNK), saya bisa 'ngobrol' lagi dengan Pak Martinus. HP  
> saya dengan HP Pak Martinus sudah tersambung, sudah lebih dari  
> sekadar say hello, tapi rasanya baru setengah percaya. Ia pun  
> 'menodong', "Kapan ke Labuhan Bajo lagi mas? Awas lho, harus  
> menginap di rumah."
>
> Ini terjadi di awal pekan ini. Sementara di akhir pekannya (30- 
> Sep), milis ini akan genap berumur 3 tahun. Sebuah kebetulan?  
> Mungkin bukan. Kita menyebut kebetulan karena tak mampu menjelaskan  
> kerumitan hubungan yang ada di dalamnya. Aneh memang. Bukannya saya  
> memberi hadiah tapi malah mendapat hadiah. Terima kasih untuk mbak  
> Katrin. Terima kasih dan dirgahayu Indobackpacker. Lanjut usiamu,  
> lanjut semangatmu. Juga terima kasih untuk semua moderator atas  
> semua jerih payahnya.
>
> Salam dari Sangatta
>
> _________________________________
>> .
>
> 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke