Solusinya : 

1. Tanam pohon sebanyak mungkin. Karena cuma pohon yg
bisa serap CO2 dari udara paling efektif. Jangan
tebang pohon, tebang saja rantingnya kalo mengganggu. 

2. Pengolahan limbah harus dibenerin. No more open
dumping/landfill yang gak terurus, jadi gas Methane
(CH4) sbg hasil akhir penguraian gak terbang percuma
ke udara sebagai kontributor gas rumah kaca. Di
pengolahan limbah yg baik, gas dlm bentuk bau sebagai
hasil akhir penguraian bisa diminimalisir, bahkan
dihilangkan, krn gas hasil penguaraian yg bikin bau
tsb di "tampung", dan salah satu gas tsb, CH4, bisa
dipergunakan sbg bahan bakar. 

FYI, CH4 itu salah satu gas yg paling bagus lho
combustionnya....makanya kadang2 kita lihat sampah
terbakar di penimbunan sampah padahal gak ada yg orang
yang membakar, ya karena CH4 itu yg mudah terbakar dgn
panasnya matahari....

Sayang kan gas yg sangat bagus combustion-nya,
berpotensi besar sbg pengganti bahan bakar
hidrokarbon, hanya terbuang percuma jadi biang kerok
gas rumah kaca?

Cara yang mudah, kan? Seandainya setiap kita dan
pemerintah negara2 seluruh dunia mengurus dua hal ini
saja (selain penghematan bahan bakar, tentunya), maka
masalah global warming yg berakibat climate change
bisa terselesaikan (walaupun gak bisa menghilangkan
gas rumah kaca 100%).   

Salam,

Tari


--- Johannes Keioranto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> Sialnya lagi kita harus berkejaran dengan waktu
> untuk menyelamatkan tempat2 eksotik semacam itu dari
> pemanasan global. duh benar sial. di National
> Geographic disebutkan level CO2 masuk level 360 ppm
> dari 220 ppm di awal revolusi industri dan level
> akhirnya adalah 400 ppm sebelum masuk ke
> unimaginable catasthrophe. di tahun 2040 ramalannya
> benua artic akan berubah seluruhnya jadi laut and
> Damn tuh tempat belum pernah gue kunjungi (mungkin
> gak pernah saking dingin dan mahalnya). Sisi
> positifnya sih orang bisa diving di artic yah
> hehehe. Bahkan jika kita berhenti memakai mobil dan
> start riding bicycle, tuh pemanasan global sudah tak
> terhentikan. karbon sekali terlepas ke atmosfir will
> stay there for at least 100 years. Damn.... what an
> unlucky generation we are.
> 
> rgd,
> 
> Joe
> 

Kirim email ke