FYI,
===================================================================
Mon Oct 1, 2007 12:59 am (PST)
Mungkinkah sebuah buku bisa menginspirasi pembacanya dan
membuat mereka menjadi lebih baik dalam menjalani hidup?
Saksikan dialog tentang Laskar Pelangi di acara Kick Andy
Metro TV.
Kamis, 4 Oktober 2007
Pukul 22.05-23.00
Minggu, 7 Oktober 2007
Pukul 15.05-16.00
berikut petikannya dari www.kickandy.com
Laskar Pelangi
Ini kisah nyata tentang sepuluh anak kampung di Pulau
Belitong, Sumatera. Mereka bersekolah di sebuah SD yang bangunannya nyaris
rubuh dan kalau malam jadi kandang ternak. Sekolah itu nyaris ditutup karena
muridnya tidak sampai sepuluh sebagai persyaratan minimal.
Pada hari pendaftaran murid baru, kepala sekolah dan ibu guru
satu-satunya yang mengajar di SD itu tegang. Sebab sampai siang jumlah murid
baru sembilan. Kepala sekolah bahkan sudah menyiapkan naskah pidato penutupan
SD tersebut. Namun pada saat kritis, seorang ibu mendaftarkan anaknya yang
mengalami keterbelakangan mental. ''Mohon agar anak saya bisa diterima. Sebab
Sekolah Luar Biasa hanya ada di Bangka,'' mohon sang ibu. Semua gembira. Harun,
nama anak itu, menyelamatkan SD tersebut. Sekolah pun tak jadi ditutup walau
sepanjang beroperasi muridnya cuma sebelas.
Kisah luar biasa tentang anak-anak Pulau Belitong itu
diangkat dalam novel dengan judul 'Laskar Pelangi' oleh Andrea Hirata, salah
satu dari sepuluh anak itu. Di buku tersebut Andrea mengangkat cerita bagaimana
semangat anak-anak kampung miskin itu belajar dalam segala keterbatasan. Mereka
bersekolah tanpa alas kaki, baju tanpa kancing, atap sekolah yang bocor jika
hujan, dan papan tulis yang berlubang hingga terpaksa ditambal dengan poster
Rhoma Irama. Kisah yang tadinya bukan untuk diterbitkan itu ternyata mampu
menginspirasi banyak orang. Seorang ibu di Bandung, misalnya, mengirim surat ke
Kick Andy. Isinya minta agar kisah tersebut diangkat di Kick Andy karena
anaknya yang membaca buku Laskar Pelangi kini bertobat dan keluar dari jerat
narkoba. ''Setiap malam saya mendengar suara tangis dari kamar Niko anak saya.
Setelah saya intip, dia sedang membaca sebuah novel. Setelah itu, Niko berubah.
Dia jadi semangat untuk ikut rehabilitasi. Kini Niko berhasil berhenti sebagai
pecandu narkoba setelah membaca buku Laskar Pelangi,'' ungkap Windarti Kosasih,
sang ibu.
Sementara Sisca yang hadir di Kick Andy mengaku setelah
membaca novel itu, terdorong untuk memperbaiki hubungannya dengan sang ayah
yang selama ini rusak. Begitu juga Febi, salah satu pembaca, langsung
terinspirasi untuk membantu menyumbangkan buku untuk sekolah-sekolah
miskin di beberapa tempat. ''Saya kagum karena anak-anak yang
diceritakan di buku itu penuh semangat walau fasilitas di sekolah itu jauh dari
memadai,'' ujar Febi yang juga datang ke Kick Andy untuk bersaksi.
Andrea sendiri mengaku novel itu awalnya hanya merupakan
catatan kenangannya terhadap masa kecilnya di Belitong. Dia selalu teringat
sahabat-sahabatnya di masa kecil, terutama Lintang. Sebab tokoh Lintang
merupakan murid yang cerdas dan penuh semangat walau hidup dalam kemiskinan.
Setiap hari Lintang harus mengayuh sepeda tua yang saering putus rantainya ke
sekolah. Pulang pergi sejauh 80 km. Bahkan harus melewati sungai yang banyak
buayanya. Sayang, cita-cita Lintang untuk bisa sekolah ke luar negeri, seperti
yang sering didorong oleh guru mereka, terpaksa kandas. Lintang bahkan tak
tamat SMP karena orangtuanya yang nelayan tidak mampu membiayai. ''Lintang
adalah sosok yang menginspirasi saya. Karena itu, saya bertekad meneruskan
cita-cita Lintang,'' ujar Andrea, yang sekian puluh tahun kemudian berhasil
mendapat beasiswa sekolah ke Sorbonne, Prancis.
Tim Kick Andy yang mendatangi kampung tempat SD itu berdiri,
di Belitong, berhasil 'menemukan' beberapa dari tokoh anak-anak di dalam novel
tersebut. Mereka kini sudah dewasa. Namun kenangan tentang masa kecil itu
sangat kuat membekas. Terutama pada ibu guru Muslimah yang sangat mereka
cintai. ''Buku Laskar Pelangi memang saya persembahkan untuk Ibu Mus yang
sangat tabah dan pantang menyerah dalam mendidik kami,'' ujar Andrea.
Maka sungguh menarik menyaksikan bagaimana Kick Andy
mempertemukan Andrea dengan Ibu Guru Muslimah di studio Metro TV. Apalagi
ketika Bu Mus membawa barang-barang yang mempunyai kenangan tersendiri bagi
Andrea dan teman-teman kecilnya dulu di kampung. Kenangan yang diceritakan
kembali oleh Andrea dengan jenaka. Juga termasuk darimana Andrea mengambil nama
yang dipakainya hingga sekarang ini. Sungguh sebuah novel -- yang diangkat dari
kisah nyata -- yang sangat
menggugah. Novel yang membuat siapa pun yang membaca akan
merasa bersalah dan berdosa jika tidak mensyukuri hidup. Itu pula sebabnya
sutradara Riri Reza dan Produser Mira Lesmana tertarik untuk mengangkat kisah
ini ke layar film.