Bener Mas-mas dan Mbak-mbak..saya setuju. Memang pandangan masyarakat kita
(sebagian besar nih) ttg berjalan-jalan itu masih konvensional.
Jalan-jalan itu sama dengan blanja blanji.
Jalan-jalan itu datang ke tempat wisata, gelar tiker, trus makan bekal dari
rumah.
Jalan-jalan itu pulangnya harus bawa oleh-oleh untuk tetangga,
saudara-saudara, teman-teman (hasilnya sama...blanja!!).
Jalan-jalan ala backpacker itu ga pantes buat yang sudah punya baby dan
anak-anak kecil.
Jalan-jalan itu pasti menghabiskan banyak uang.
Yang bisa banyak jalan-jalan terutama yang ke LN itu pasti orang kaya.
Seperti itu yang sering saya dengar dan lihat dari orang2 di sekitar
saya..sekeras apapun usaha saya untuk menjelaskan, ga ngefek...

Namun memang faktor finansial secara umum juga mempengaruhi prioritas
masyarakat. Jalan-jalan dan berpetualang menjadi nomer kesekian dalam urutan
pilihan aktivitas mereka. Bahwa plesir, jalan-jalan (terutama ke LN) itu
identik orang yang kelebihan uang. Buat yang pas-pasan, akan mikir seribu
kali  untuk jalan-jalan, lha wong sekolah aja muaahal dan tak terbeli untuk
sebagian orang. Tapi itu tidak berlaku buat orang-orang yang memang
bawaannya ga bisa diam, pengennya selalu melihat dunia luar. Kalau memang
ada keinginan untuk menggiatkan jiwa petualang dengan hanya mengandalkan
"gawan bayi" (sifat bawaan dari lahir) gini tanpa didukung hal-hal lain ya
agak sulit. Harusnya pemerintah mempermudah dengan..menghapuskan fiskal.
Kalau tidak, jangan-jangan kemiskinan, minimnya wawasan dan kebodohan akan
menjadi lingkaran setan yang tidak bisa dicari ujung pangkalnya dan
penyelesaiannya.

Saya pernah heran sekaligus keki..Teman saya, orang asli Malaysia datang ke
Bandung dengan keluarga besarnya, berdelapan. Sampai di Bandung, mereka
bingung seperti tidak tahu hendak kemana. Yang mereka tahu adalah..Bandung
tempat fashion yang lengkap, murah dan cewe2nya cantik (halaaah).
Jalan-jalan ke Pasar Baru, belanja jeans di Cihampelas, dan pijat tuna netra
saja sudah senengnya selangit. Itu komentar sebelum mereka merasakan
jalan-jalan ke arah Lembang dan Tangkuban Prahu, apalagi Bandung Selatan.
Yang saya heran, kok datang rame-rame tapi sama sekali tak punya gambaran
ttg tempat tujuan??? Saya pikir..wah benar-benar keluarga petualang nih!!
Akhirnya saya tahu alasannya....ternyata mereka mendapatkan tiket Air Asia
yang kalo dirupiahkan sekitar Rp.5000/orang. Lha iya lah..kalo dihitung
dengan rata2 income orang sana itu sih seperti beli jajan di pasar. Nah kalo
kita, kalo toh bisa dapat tiket segitu, tapi bayar fiskalnya
sejuta..hahahaha..(kaciaaan). Walaupun begitu yang saya dengar dari mereka
pajak bandara mereka jauh lebih besar daripada di Indonesia, tapi tetep aja
tidak lebih besar dari fiskal yang harus kita bayar. Hasilnya, setiap
weekend, Bandung disesaki tidak cuma orang-orang Jakarta tapi juga
orang-orang berbahasa melayu..:))


-- 
Best regard,

diana novita


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke