Mbak Christine, Beberapa bulan lalu sebelum berkecamuk saffron politics di Myanmar saya sempat mencoba mengurus visa kesana. Masalahnya memang walaupun masuk Asean, Myanmar cenderung tertutup. Sekitar dua tahun belakangan pemerintahnya mau membuka untuk turisme. Itupun karena embargo ekonomi dari negara2 besar. Mereka mencari pemasukan dari pariwisata.
Untuk independen traveller agak susah, maksudnya backpackers tanpa embel2 pekerjaan (apalagi jurnalis pastinya ditolak). Pemerintah Myanmar juga meminta semacam persetujuan dengan travel agen lokal. Jelas mereka bermaksud mengontrol pergerakan turis. Biasanya traveller diberi fixed itinerary juga dikasih visa kunjungan berdasarkan jadwal yang dibuat oleh travel agen. Saya sendiri perang batin antara pergi dan tidak. Secara moral kalau saya kesana sepertinya mendukung rejim militer di Myanmar, apalagi tingkat korupsi disana tercatat paling buruk tahun ini menurut Corruption Watch. Untuk sementara memang saya tahan dulu keinginan mengunjungi Mandalay. Perbatasan dengan Thailand dan Laos lewat Mekong saya kira dipatroli ketat. Karena kebanyakan tokoh demokrasi melarikan diri via darat ke Thailand. Saya sendiri melihat kemungkinan untuk bisa menyelundup kesana, tapi ya itu tadi resiko tanggung sendiri. Yang saya khawatirkan adalah karena kita ini mukanya mirip2 dengan rakyat Burma, sangat besar kemungkinan kita dikira penduduk lokal. Berarti tingkat bahaya bisa disamakan dengan rakyat biasa. Jadi untuk ke Burma saya enggak rekomendasikan bagi independent traveller. Mungkin kalau teman2 bisa konfirmasi langsung : EMBASSY OF THE UNION OF MYANMAR, JAKARTA COUNTRY : REPUBLIC OF INDONESIA ADDRESS : 109, JL. HAJI AGUS SALIM, MENTENG, JAKARTA PUSAT TEL NOS : (62 21) 3140 440, (62 21) 327 684 FACSIMILE : (62 21) 327 204 E-MAIL : [EMAIL PROTECTED] Salam, Ambar Cerita Ambar http://ambarbriastuti.blogspot.com http://www.flickr.com/photos/ambarbriastuti/ Adventures. Backpacking. Photography. On 13 Oct 2007, at 16:55, Christine T. Tjandraningsih wrote: > Halo Wangge & Indobackpackers, > > Setahu saya, mengurus visa ke Myanmar tidak sesulit yang Anda > jelaskan, asalkan profesi kita bukan wartawan, pewarta foto, juru > kamera dan profesi sejenis. Tidak perlu ada orang yang harus mengantar > ke mana-mana, tetapi memang sebaiknya kita menghindari pembicaraan > tentang politik. Apa profesi si teman Swedia itu? > > Tetapi memang pendukung gerakan pro-demokrasi di Myanmar dan sejumlah > LSM HAM berusaha men-discourage wisatawan untuk tidak berkunjung ke > Myanmar karena, menurut mereka, kunjungan kita sama saja dengan > memberikan pemasukan untuk junta militer yang berkuasa, yang juga > dituduh memberlakukan kerja paksa terhadap rakyatnya untuk membangun > obyek wisata dan infrastruktur yang terkait dengan wisata. > > Jadi, kalau ingin tetap berkunjung ke Myanmar tetapi juga tidak ingin > (sedikit) memberi pemasukan untuk junta yang berkuasa, menginaplah di > hotel yang bukan dikelola pemerintah, gunakanlah layanan transportasi > atau agen perjalanan yang bukan dikelola pemerintah dan belilah > cinderamata langsung dari pembuatnya, bukan di toko yang dikelola > pemerintah. > > Salam, > Christine T. Tjandraningsih > Correspondent/English Staff Writer > Kyodo News > JAKARTA > [Non-text portions of this message have been removed]
