bener juga boss
   
  tapi menurut penerawangan saya (hehe).. sebetulnya gaya backpacking ini di 
Indonesia sudah banyak peminatnya. Cuman aja kurang sosialisasi. Nah itulah.. 
ayo deh temen2 IBP kita sosialisasikan backpacking sekalian mensosialisasikan 
cinta tanah air melalui pariwisata.
   
  kan sekarang tiket pesawat murah sudah banyak dan buku lonely planet juga 
sudah dijual di Kinokuniya (tapi mahalnya..lumayan..340ribu kalo gak salah). 
Tapi kalo mau repot dikit ada sih yang jual di toko2 buku bekas. Asal mau 
ngubek2 aja sambil gerah2an pasti dapet yang murah. 
   
  salam pengelana
  yudasmoro
  www.mahavishnu8.blogspot.com

Dandossi Matram <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Sebenarnya sejak dijajah belanda, bangsa indonesia memang berhenti 
menjadi
bangsa penjelajah, lha kan dijajah....

Kalaupun menjelajah, paling sebagai tenaga kerja ke suriname atau afrika
selatan (sbg tawanan perang) atau ke belanda buat sekolah krn bhs inggris
pada nggak ada yg bisa. Beda dgn negara jajahan inggris atau perancis atau
spanyol, yg krn faktor bhs yg sama memudahkan mereka bepergian keliling
dunia ...

Kendala utama orang indonesia bepergian selama ini adalah selain bahasa
(kalau skrg sdh mendingan) adalah uang. Sampai dengan tahun 1980-1990-an
saja, profesi diplomat dan pramugari/pilot (garuda) masih merupakan
pekerjaan yg dianggap terhormat sekali karena bisa keliling dunia gratis
....

Kelas menengah yg biasanya senang travelling pun baru bertumbuh pesat
sejak tahun 1990-an ketika Pemerintah mulai meliberalisasikan
perekonomiannya ke pihak swasta dan asing. Dimana setelah ekonomi tumbuh dan
cara pandang serta interaksi golongan menengah tsb sdh semakin luas dan
mulai ada merasa kebutuhan travelling ke luar negeri (baru kebutuhan krn
biaya fiskal efektif membunuh keinginan jalan2 bahkan hanya untuk ke
singapore).

Tapi susahnya di era sebelum thn 2000, backpacking belum terlalu popular krn
konotasi backpacker mengacu kepada turis kelas gembel spt yg di jalan jaksa.
Sehingga buat sebagian orang indonesia, pergi dgn cara backpacker nggak ada
kelasnya dan nggak gengsi, makanya gaya backpacking tdk terlalu populer ...
Selain itu, informasi ttg buku2 semacam lonelyplanet belum banyak dijual di
indonesia. Sepengetahuan saya sampai dgn awal thn 2000, kalau mau beli buku
lonelyplanet kayaknya saya harus beli ke singapore krn di jakarta belum ada
....

Kendala lain travelling atau backpacking tidak terlalu populer adalah biaya
transportasi pesawat yg jaman dulu malah jauh lebih mahal dr pd hari ini.
Sebelum krismon (10 tahun yg lalu lho !!!), harga tiket pesawat jakarta
surabaya saja kalau nggak salah sekitar Rp 750 ribu sekali jalan !!! Mana
ada yg mudah wira wiri kesana kemari dgn tiket pesawat seperti itu ???

Itulah kendala2 yg saya pikir kenapa (dimasa lalu) bangsa ini agak kurang
bisa menjadi bangsa penjelajah ... Bagaimana kedepan? Wahh pasti berubah ke
arah sebaliknya ... daya beli yg naik, kelas menengah yg bertumbuh pesat,
tiket pesawat yg semakin murah, dan informasi travelling yg semakin
membanjir jelas akan menjadi daya tarik utama kalangan kelas menengah
indonesia untuk bepergian ... apa lagi bila pemerintah bener2 menghapus
biaya fiskal di sekitar tahun 2009 atau 2010 ... wah lebih banyak lagi yg
terbang langsung dr jakarta tanpa hrs mendarat di Batam lagi ... he5x ....

Memang enak jaman sekarang, nggak kayak jaman dulu yg bener2 butuh
perjuangan untuk bisa bepergian ke luar negeri .... Tapi saya beruntung
masih mengalami masa dulu ketika penduduk jakarta saja masih bengong kalau
ketemu bule ... atau bule yg dikerubutin orang2 sekitarnya di jakarta he5x
....

ossy'81-JKT

Kirim email ke