Sekedar info dari panitia Jakarta Journey II

Suaka Margasatwa Muara Angke
Kawasan hutan Muara Angke ini merupakan bagian dari kawasan hutan mangrove 
Tegal Alur Angke Kapuk di pantai utara Jakarta yang berdasarkan Surat Keputusan 
Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 755/Kpts-II/1998 tanggal 26 Nopember 1998, 
seluas 25,02 Ha fungsinya dirubah dari Cagar Alam menjadi Suaka Margasatwa. 

secara administratif terletak di daerah Tegalalur-Angke-Kapuk, Kotamadya 
Jakarta Utara Propinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Secara administratif 
masuk ke dalam wilayah Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Kotamadya 
Jakarta Utara. Sedangkan Secara Geografis terletak antara 6°06' - 6°10' Lintang 
Selatan dan 106°43' -106°48' Bujur Timur.

Pencagaran kawasan ini diarahkan pada terjaganya kelestarian hutan mangrove 
sebagai habitat dari berbagai satwa seperti kera ekor panjang (Macaca 
fascicularis), biawak (Varanus salvator), ular sanca (Phyton reticulatus), ular 
cobra (Naja sputarix), ular welang (bungarus fasciatus), ular kadut (Homolopsis 
buccata), ular cincin (Dipsasomorphis dendrophilus), ular daun (Dryopis sp) dan 
beraneka jenis burung. 

Jenis vegetasi yang tumbuh di suaka ini, yaitu terdiri dari : ¨ Vegetasi 
mangrove; Api-api (Avicennia marina), bakau (Rhizophora mucronata), Pidada 
(Sonneratia alba), nypa (Nypa frutican), tancang (Bruguiera gymnorrhiza). ¨ 
Vegetasi mangrove ikutan; Jeruju (Acanthus illicifolius), Piai raya (Acrotichum 
aureum) dan waru laut (Hibiscus tiliaceus). ¨ Vegetasi pantai dan pinggir 
sungai, yaitu : Nyamplung (Callophylum inophyllum), kelapa (Cocos nucifera), 
ketapang (Terminalia catappa) dan rotan (Callamus mannan). 

Kawasan ini dikelilingi oleh jalan raya, gedung dan pemukiman penduduk yang 
rapat dan kumuh. Pohon bakau (Rhizophora sp) yang mencirikan kawasan ini hanya 
tersisa di bagian selatan disekitar pos Polhut dan sepanjang tepian sungai. 
Dibeberapa bagian tumbuh kelompok-kelompok kecil pedada yang menjadi tempat 
bermain satwa terutama kera (Macaca fascicularis) dan beberapa jenis burung. 

Berdasarkan hasil inventarisasi Tim Penyusuan Rencana Pengelolaan Suaka 
Margasatwa Muara Angke (Agustus 2000), dikawasan ini masih dapat dijumpai 40 
famili burung yang terdiri dari : 17 jenis (8 famili) burung dilindungi, 50 
jenis (23 famili) jenis menetap, 10 jenis (5 famili) burung migran dan 4 jenis 
(4 famili) burung lepasan. 

Namun demikian mengingat lokasinya yang memiliki aksesibilitas yang sangat 
tinggi dan berinteraksi langsung dengan masyarakat, maka resiko pencurian satwa 
sangat tinggi. Pemutusan sirkulasi air laut menuju kawasan yang diakibatkan 
kegiatan pertambakan menjadikan salinitas air menjadi semakin tawar, sehingga 
eceng gondok secara leluasa menginvasi sebagian besar kawasan yang akan 
menggeser ekosistem mangrove menjadi rawa .

Sungai angke yang melaluinya mengantarkan berbagai macam limbah, mulai dari 
limbah rumah tangga, industri dan transportasi, sehingga kawasan ini menjadi 
penampung limbah. Bantaran sungai yang langsung berbatasan dengan pemukiman 
penduduk yang sebagian pencahariannya sebagai nelayan, juga menjadi tempat 
parkir gratis perahu motor bagi penduduk setempat.

Source: Ditjen PHKA

 

PULAU UNTUNG JAWA

Pulau Untung Jawa terletak di sebelah barat Teluk Jakarta. Dari Jakarta bisa 
ditempuh dengan waktu satu sampai satu setengah jam perjalanan. Kapal-kapal 
penyebrangan yang berute Muara Angke- Pulau Pramuka, Muara Angke-Pulau Tidung 
selalu menyediakan kesempatan bagi siapapun untuk singgah sebentar di Pulau 
Untung Jawa. Ini dikarenakan letak Pulau Untung Jawa yang terdapat di 
tengah-tengah, diantara pulau-pulau yang dilewati kapal penyebrangan.

Dari Tangerangpun bisa dijangkau dengan mudah. Trip Tanjung Pasir - Pulau 
Untung Jawa dapat ditempuh hanya lima belas sampai dua puluh menit perjalanan. 
Kemudahan inilah yang membuat Pulau Untung Jawa menjadi pilihan yang tepat 
dihari libur bagi turis-turis lokal yang berkantong cekak tetapi menginginkan 
liburan yang berkualitas. Sebuah pilihan wisata yang menarik sekaligus murah 
meriah.

Pulau Untung Jawa memiliki luas yang memadai untuk dijelajahi. Di dekat 
pelabuhan terdapat tempat yang dirancang pemerintah setempat sebagai tempat 
wisata. Masuknyapun melalui jalan conblok yang rapi dengan petugas tiket di 
ujung dermaga. Masuk ke dalamnya akan ditemui masjid dan tempat-tempat wisata. 
Jika mau terus menyelusuri pantainya, kita akan menemukan hutan bakau dengan 
canopy yang memadai sehingga memudahkan pengunjung untuk menjelajahinya.

Walaupun canopy telah berakhir, jelajahi terus pantainya. Kita akan menemukan 
pohon-pohon bakau yang cukup tua, bahkan tumbuh sendiri-sendiri di air yang 
dangkal. Bagi pecinta fotografi, tempat ini cukup menarik untuk diabadikan.

Para pemancingpun tidak harus jauh-jauh melemparkan kailnya. Cukup memancing di 
dermaga, ikan-ikannya cukup memadai. Bahkan saya menemukan pemancing yang 
mendapatkan ikan kuwe sebesar lengan. Cukup besar untuk ukuran memancing di 
dermaga.

Sayangnya Pulau yang terletak dekat dengan daratan Tangerang ini cukup 
dibombardir oleh sampah daratan. Di beberapa bagian pulau, sampah-sampah itu 
menyangkut di pohon-pohon bakau. Sebuah pemandangan yang tidak mengenakkan 
dilihat mata. 

Jika anda berkantung cekak, cobalah mampir ke Pulau Untung Jawa. Suasana pulau 
yang berbeda dengan daratan membuat kita melupakan sedikit ketegangan akibat 
bekerja selama seminggu. Tapi jangan lupa, kalau anda menginginkan Pulau Untung 
Jawa bersih dari sampah, kurangi sampah dengan membuang pada tempatnya. Kalau 
perlu sampah-sampah yang kita temui selama keliling di Pulau Untung Jawa, 
dimasukkan ke dalam keranjang sampah. Dengan demikian kita sudah berandil 
menjaga lingkungan. Sederhana bukan ? 

 

Pulau Rambut 

Pulau Rambut terkenal juga dengan nama Pulau Kerajaan Burung. Luasnya 45 
hektar. Pulau ini di tumbuhi hutan bakau yang rimbun serta terumbu karang yang 
sangat indah. Orang Belanda menyebut pulau ini dengan nama Nidelberg. pada 
keadaan biasa, diperkirakan sekitar 20.000 burung hidup di pulau ini. Di bulan 
Maret sampai September, jumlah itu meningkat menjadi hingga 50.000 burung. 
Burung-burung itu diperkirakan datang dari Australia. Pulau Burung oleh 
Pemerintah ditentukan sebagai cagar alam burung, sementara Pulau Bokor 
didekatnya ditentukan sebagai cagar alam laut. Pulau Burung terletak di sebelah 
Barat Jakarta. 

 

 

Pulau Onrust 

Pulau Onrust disebut juga Pulau Kapal. Onrust dalam bahasa Belanda berarti 
tidak tenang, atau rusuh, mungkin karena pulau ini pernah menjadi perebutan 
antara Belanda, Inggris dan Portugis. Luasnya hanya 12 Ha namun menyimpan 
cerita sejarah panjang. 

Pulau Onrust sudah terkenal sejak tahun 1618, ketika Belanda menjadikannya 
sebagai basis penting. Menurut catatan nakhoda kapal Endeavor, Kapten James T. 
Cook yang singgah di Onrust tahun 1770, di pulau ini terdapat tempat 
penggergajian kayu serta benteng pertahanan Belanda. Tentara Inggris pernah 
menyerbu pulau ini pada tanggal 8 November 1800 dan membakar habis semua 
bangunan. 

Tahun 1803, Belanda berhasil membangun kembali semua yang di porak-porandakan 
Inggris. Pada tahun 1810, tentara Inggris kembali menyerang pulau ini dan 
memusnahkan semua bangunan Belanda. Namun Belanda membangunnya kembali bahkan 
lebih lengkap dengan sebuah pelabuhan yang terbuat dari beton. 

Pulau ini lalu semakin penting sebagai pelabuhan yang ramai. Peranannya sebagai 
pelabuhan mulai surut ketika tahun 1883 Pelabuhan Tanjung Priok menggantikan 
fungsinya. Kemudian, pada tahun 1911, Pulau Onrust beralih fungsi sebagai 
penjara dan pos karantina penyakit lepra. Ketika pecah perang antara Jerman dan 
Belanda tahun 1939, pulau ini dipakai Belanda sebagai tempat pembuangan 
tawanan. Kini, Pulau Onrust, juga Pulau Cipir, Pulau Bidadari, Pulau Kelor dan 
Pulau Edam, oleh Pemerintah Indonesia dijadikan sebagai daerah Suaka Taman 
Purbakala Kepulauan Seribu

sejarah Pulau Onrust

Derita Para Haji di Onrust 
Bukan hanya banyak jalan ke Roma, tapi juga ke Onrust. Salah satu pulau di 
Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, ini terletak 14 km dari Jakarta. Pulau yang 
semula luasnya 12 ha ini kini tinggal 7,5 ha akibat abrasi. Mendatangi pulau 
yang dijadikan taman arkeologi itu dapat dilakukan melalui tiga pelabuhan: 
Marina Ancol, Angke, dan Muara Kamal. Yang paling dekat melalui pelabuhan Muara 
Kamal. Hanya dengan menggunakan perahu tradisional dapat dicapai dalam waktu 10 
sampai 15 menit saja. Maklum, Onrust yang dalam Belanda berarti 'tanpa 
istirahat' ini merupakan kawasan Kepulauan Seribu yang terdekat dengan pantai 
Jakarta. 

Pada musim haji sekarang sengaja kita ketengahkan pulau ini karena merupakan 
salah satu pulau yang punya nilai sejarah dalam lintasan haji di tanah air. 
Kisah Onrust dimulai pada awal abad ke-20, ketika terjadi wabah pes di Malang, 
Jawa Timur, yang semula diduga berasal dari kapal yang membawa jamaah haji dari 
tanah suci. Ternyata wabah akibat tikus ini berasal dari kapal yang mengangkut 
beras dari Rangon (kini Yangon), Birma (kini Myammar). Tapi, bagaimana pun 
Belanda tetap ingin mengkarantina para jamaah haji sepulang mereka dari tanah 
suci. Dan Onrust yang dianggap sebagai pulau terpencil dipilih sebagai tempat 
itu. Selama karantina mereka harus tinggal di pulau ini selama lima hari. 
Bahkan kadang-kadang lebih lama lagi tergantung kesehatan para jamaah 
bersangkutan.

Pembangunan karantina Onrust menelan biaya 607 ribu gulden, yaitu sebanyak 35 
barak yang dapat menampung 3500 jamaah haji. Begitu rampung dibangun pada 1911, 
Onrust langsung digunakan saat itu pula. Pulau tempat pertama kali VOC mendarat 
sebelum menaklukkan Jakarta pada abad ke-17 ini selama 29 tahun (sampai 1940) 
berubah fungsi menjadi karantina haji. Kini di pulau tersebut masih dijumpai 
sisa-sisa barak yang sudah porak poranda. Yang masih berdiri kokoh hanya sebuah 
rumah yang dulu digunakan untuk para dokter karantina haji. 

Basirun Prawiroatmodjo, yang menjadi jurutulis karantina haji di tahun 1919 dan 
bertugas di pulau ini hingga 1958, ketika diwawancarai Dinas Kebudayaan dan 
Permuseuman DKI Jakarta mengemukakan, para haji yang pulang dari tanah suci 
pertama kali turun di Pulau Cipir yang bersebelahan dengan Onrust. Para jamaah 
satu persatu dicek oleh dua orang petugas. Usai pemeriksaan, para haji itu 
harus menanggalkan seluruh pakaiannya, diganti dengan pakaian karantina. 
Kemudian mereka dipersilahkan mandi dan diperiksa oleh seorng dokter. Bila ada 
yang membawa bibit penyakit menular diharuskan tinggal di stasiun karantina di 
Pulau Cipir. Karantina ini dibangun bersamaan dengan karantina di Pulau Onrust 
(1911). 

Selama pemeriksaan kesehatan, pakaian pribadi serta kapal pengangkut 
difumigasi. Para jamaah yang dinyatakan sehat kemudian dibawa ke Onrust. Mereka 
naik eretan (getek) dari ujung dermaga Pulau Cipir ke Pulau Onrust. Eretan ini 
hanya dapat menampung 8-10 orang. Menaikinya cukup berbahaya lebih-lebih bila 
air pasang. Tapi, sejauh ini tidak ada laporan pernah terjadi kecelakaan 
seperti terseret gelombang saat menaikinya.

Setiba di Onrust dari Cipir, para jamaah haji kembali diperiksa kesehatannya 
oleh seorang dokter. Terdapat pula enam orang petugas bangsa Belanda yang turut 
menangani jamaah haji. Mereka hanya berada di Onrust saat-saat musim haji. Di 
Onrust ketika itu ada sebuah kapal motor bernama Kapal Onrust yang berlayar dua 
kali seminggu ke Tanjung Priok. Kapal ini berfungsi untuk mengangkut jenazah 
jamaah haji yang meninggal di Pulau Sakit (kini pulau Bidadari) dan Pulau Kelor 
untuk dimakamkan. Kedua pulau yang merupakan satu gugus dengan Onrust dan Cipir 
ketika itu merupakan hutan belukar. Kini kedua pulau itu merupakan tempat 
rekrasi yang tiap akhir pekan ramai dikunjungi, khususnya di Bidadari (Pulau 
Sakit). Di sini kita juga dapat menjumpai benteng peninggalan VOC saat mereka 
menjadikan pulau ini sebagai tempat rekreasi. 

Menurut Basirun, para jamaah haji yang meninggal dikuburkan dengan sangat 
sederhana. Tidak mendapatkan perawatan atau fasilitas seperti orang-orang 
Belanda yang meninggal di pulau Onrust. Jenazah-jenazah para haji dimakamkan di 
sembarang tempat dan samasekali tidak memperhitungkan arah kiblat. Di Pulau 
Onrust masih dijumpai sejumlah makam warga Belanda. 

Kini, rumah dokter karantina haji yang menjadi salah satu peninggalan kelam 
sejarah perhajian di tanah air masih berdiri utuh setelah dipugar oleh Dinas 
Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Yang masih perlu dipugar kembali adalah 
barak-barak yang pernah menampung 3500 jamaah haji yang kini tinggal 
puing-puing. Apalagi Pemda DKI ingin menjadikan Onrust sebagai taman arkeologi. 
Pulau yang kini tidak berpenghuni ini paling banyak memiliki tinggalan 
arkeologi. Padahal pada masa jayanya di Onrust pernah tinggal 1000 orang 
pekerja yang kebanyakan para budak dan orang Tionghoa. Pada abad ke-18, sebelum 
menemukan benua Australia, James Cook sempat singgah terlebih dulu di Onrust 
untuk memperbaiki dan mereparasi kapalnya. (Alwi Shahab ) 

 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke