Juni tahun lalu 2 bagasi saya hilang dalam penerbangan Santiago - Buenos Aires 
(BA).  Gara-garanya saya kurang teliti.  Saat menerima kupon bagasi di gerai 
check in saya tidak lagi memeriksa nama yang tertera.  Padahal waktu untuk itu 
lebih dari cukup, apalagi jadual penerbangan sempat mundur sejam.  Karena di BA 
itu sekadar transit untuk ke Afrika Selatan, jadilah saya turun di Cape Town 
hanya dengan ransel kamera, 1 ransel kecil (ransel anak) dan pakaian yang 
melekat di badan.  Tak aneh jika petugas imigrasi pun menaruh curiga.  "Saya 
lihat Anda tidak membawa pakaian ganti," sapanya dengan nada tidak ramah.  
Sudah barang hilang, capek, masih dipaksa menjelaskan dengan muka 
dimanis-maniskan.

Di bandara Ezeiza (BA), petugas maskapai LAN Chile (yang saya naiki dari 
Santiago) berjanji akan mengirim bagasi yang hilang secepat mungkin ke Cape 
Town.  Tapi penerbangan BA - Cape Town terdekat baru ada 5 hari ke depan!  
Artinya dalam 5 hari saya mesti membeli pakaian untuk ganti.  Padahal mana ada 
barang murah di Cape Town?  Satu ranjang di ruang komunal (dormitory) saja 
semalam harganya R45 (USD8).  Saya sempat shock melihat sepotong T-shirt di 
sebuah toko digantungi tulisan R150.  2 hari pertama di ujung Afrika itu 
rasanya mirip menjadi gelandangan.  Semangat sempat melorot, belum lagi semua 
buku panduan tersimpat di bagasi yang terbang ke Mendoza.  Syukurlah, di hari 
ke-3 saya bersua pasar loak.  Semangat sedikit terangkat.  Sembari nunggu 
bagasi, saya teruskan rencana ke Port Elizabeth, ke Addo Elephant National Park.

Pulang dari Port Elizabeth, 2 hari selewat jadual yang dijanjikan petugas di 
bandara BA, bagasi belum nampak.  Saya minta bantuan empunya hostel untuk 
melacak dari alamat ke alamat.  Ia bilang, "Tengah hari bagasimu nanti akan 
dikirim ke sini."  Saya berangkat ke sebuah kedai Melayu untuk makan siang 
dengan hati berbunga-bunga.  Kembali ke hostel, 1 ransel besar saya nampak di 
sana!  Mana yang lain?  Empunya hostel mengulang penjelasan si pengirim bagasi, 
"Hanya 1 bagasi itu yang ditemukan."  Apa ransel itu ketemu gara-gara berciri 
tulisan 'made in Indonesia'?  Di ransel yang hilang itu antara lain tersimpan 2 
buku Lonely Planet, sleeping bag, pisau leatherman. 

Setiba di tanah air saya buat pengaduan ke LAN Chile.  Ia minta waktu 3 pekan 
untuk mencari bagasi dengan ciri-ciri yang saya sebutkan.  Sampai tenggat yang 
berikan, tak juga ada hasil.  Akhirnya ia menawarkan 2 pilihan untuk pengganti. 
 Pertama, voucher ticket LAN Chile seharga USD500.  Kedua, uang tunai USD250.  
Saya pilih yang kedua karena lebih praktis dan pasti.  Kalau memilih voucher 
tiket, jalur LAN Chile hanya berkutat di Amerika Selatan.  Untuk bisa dipakai 
saya harus ke Latin lagi.  Setelah semua administrasi saya penuhi, pihak LAN 
Chile memberitahu bahwa uang USD250 sudah didepositkan dan bisa diambil via 
western union.

Mau tahu hasilnya?  Sampai hari ini pemberitahuan via posnya belum juga sampai 
di tangan.  Saya percaya mereka sudah mengirimnya tapi problemnya bisa jadi di 
pos Indonesia!  Ini bukan tuduhan tapi sekadar berkaca dari pengalaman beberapa 
kali.  Salah satu yang lebih baru, medio November lalu saya pesan 3 buku dari 
situs LP.  Penerbit sudah mengirim, bahkan melacak paketnya, tapi sampai hari 
ini 3
buku itu malah melancong entah ke mana. 

Salam dari Sangatta
21-April-2008



-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Aris
Sent: Saturday, April 19, 2008 11:18 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [indobackpacker] Re: Again : Bagasi Hilang

Hehe, ujung2x nya ada kecenderungan orang untuk ngakali aturan.. Saya
sendiri nggak pernah khawatir
Soal bagasi ilang, Pede aja.. Taruh Backpack! Kalau mau berhitung kadang
nilai Backpack didalam
Bisa lebih dari 3 juta... (biasakan Pakai Bullsack, kalau mau aman,
terus
bawa gembok kecil)
Kalau di robek artinya krew bagasi emang nakal.

Nah, kalau naik pesawat Bagasi ilang, masih ada ganti rugi toh? Saya
jadi
ingat cerita pak santoso tahun lalu, orang dan bagasi ternyata beda
jurusan
di pesawat sekian BUKU lp lenyap...
Gimana kalau naik BUS? Setiap kali saya bawa Backpack, selalu taruh di
bagasi.. Tapi, sukurlah sampe
Sekarang belum pernah ilang...

Jadi, lama2x barang2x pindah ke Kabin semua dung..hehe! Kalau gitu,
orang
nya aja pindah ke Bagasi
Saya jadi ingat cerita teman yg masuk dalam karung demi Naik Pesawat!
Ini
Bukan babi, tapi nangka bapa... hehehe

Salam
ARIS 


-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of ewing_eyo
Sent: Wednesday, April 16, 2008 11:03 PM
To: [email protected]
Subject: [indobackpacker] Re: Again : Bagasi Hilang

Berita soal kehilangan bagasi kelihatannya semakin meningkat. Maskapai
bisa
berlindung dibalik aturan 20rb/kilo, jadi kalau bagasi hilang, maskapai
gak
merasa rugi. Lebih baik ganti 20rb kan daripada menggaji org utk ngawasi
bagasi ? Gara2 takut bagasi hilang, penumpang lebih memilih bawa barang2
ke
dalam kabin, efeknya sekarang kalau naik pesawat banyak penumpang
berebutan
masuk bukan utk rebutan tempat duduk, tapi rebutan tempat bagasi dalam
kabin. Situasi yg menyebalkan.... Bisa aja barang dalam kabin suatu saat
akan di charge oleh maskapai krn pemasukan dari bagasi yg overweight
jadi
berkurang :)

salam,
erwin


      __________________________________________________________________ 
Tired of visiting multiple sites for showtimes? 
Yahoo! Movies is all you need
http://sg.movies.yahoo.com

Kirim email ke