Pas saya nonton The Tribe versi Kombai, Bruce didampingi penerjemah  
berbahasa Indonesia. Ia sendiri juga lumayan fasih bahasa kita. Jadi  
sepertinya masuk wilayah Indonesia. Tidak disebutkan lokasi persisnya  
karena alasan etis. Salah satunya karena suku Kombai memlih untuk  
nomaden, tinggal berpindah-pindah.

Saya sendiri bisa memahami kenapa tidak disebutkan lokasinya.  
Memfilmkan suku pedalaman lengkap dengan budaya-nya yang belum tentu  
diterima masyarakat umum (beragama ataupun bersentuhan dengan  
moderintas) bisa berakibat sosial bagi dua pihak.

Yakni bagi si suku sendiri, membawa 'polusi budaya' misalnya baju,  
radio, tv ataupun produk yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.  
Efek lain adalah pola hidup dan kesehatan. Saya ingat kisah suku  
Indian Amazon yang hampir punah karena penyakit yang dibawa eksplorer  
Eropa (Portugis dan Spanyol). Hal yang sama dengan Papua sekarang  
adalah masalah HIV. Belum konflik2 agama dan antar suku di Papua yang  
masih kencang.

Efek buat kita ya itu tadi, menganggap mereka komoditi. Sesuatu yang  
bisa dijual dan dipergunakan. Istilahnya jadi pisau bermata dua.  
Belum lagi jika orang yang menentukan kebijakan itu hanya  
mementingkan fulus. Wah!

Mungkin pendekatan 'ala turis amerika' yang disebutkan ke Masai tadi  
bisa dibuat di Papua. Indikasi awal menunjukkan sudah ada gejala  
komersialisasi 'living with tribes' ini. Saya pernah posting soal ini  
tahun lalu. He he he malah saya dituduh orang  yang menghambur- 
hamburkan uang untuk nonton mereka. Lah saya hanya mengangkat isu ini  
semata-mata membuka mata kita (orang modern) bahwa terkadang suku  
asing itu lebih baik ya dibiarkan mengembangkan diri. Saya sendiri  
mengkhawatirkan efek turisme  seperti itu.

Kita ini saja yang terkadang menyalahgunakannya.  Yah cuma buat  
renungan aja sebelum niat 'nonton' suku terasing. Jangan membuat  
prejudice dengan kacamata kita (moral, agama, etika dan dasar2 hidup  
sosial).  Eh itu kan yang sempat di ungkapkan Bruce di akhir program.


Salam,

www.ceritaambar.com | Adventures. Backpacking. Photography.


On 6 May 2008, at 10:07, rustini nukita ekorini wrote:

> Hai teman2 IBP yth,
>
> Saya mau numpang nanya adakah diantara petualang hutan
> IBP mengetahui , suku Mek & Kombai itu sebenarnya ada
> di wilayah Indonesia atau Papua nugini ?
>
> Tertarik dengan serial tv travel channel tentang "
> Living with Mek" juga " Living with Kombai tribe" ,
> keduanya hanya disebutkan west Papua tanpa menyebutkan
> negara mana.., saya pribadi jadi timbul tanda tanya
> atau mungkin terlalu berlebihan kalau jujur saya
> katakan saya agak tersinggung kalau itu ternyata di
> Indonesia.
>
> Suku terasing yang kita miliki ini menurut saya sangat
> potensial terkait dengan visit Indonesia 2008. Saya
> pernah mendengar turis amerika yang pernah berkunjung
> ke africa karena " living with masai" mereka membawa
> ceritanya dengan bangga ke teman2nya.
> Mengapa kita tidak menggali wisata2 semacam itu...?
>
> Salam IBP,
>
>
> .
>
> 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke