Kali ini adalah kali ke tiga saya menyeberang selat lombok lewat air, 
dengan modus tranportasi jenis ketiga, yaitu kapal motor kayu milik 
perama tour. Setelah sebelumnya mencoret modus transportasi ferry dan 
jukung. Ok, suatu hari canoe ato catamaran mungkin boleh dimunculkan 
dalam list.

Ibu-ibu belanda sekapal dengan saya secara refleks menjawab;'that's 
stupid'. Waktu saya bilang tahun 2005 saya menyeberang selat lombok 
dengan menyewa jukung nelayan dari Amed ke Gili. Yee.... Tapi dari 
dia, saya tahu adanya akomodasi di Gili Gede di Selatan Pulau Lombok. 
Temannya memulai usaha disana katanya.

Saya senang menyeberang selat lombok. Kurang lebih perasaan yang sama 
ketika menyeberang selat makasar, antara balikpapan dan pare-
pare. "Saya menyeberangi garis wallacea-weber!!" sepertinya itu yang 
dikatakan bawah sadar saya. Waktu SMP guru geografi saya menjelaskan 
tentang garis imajiner ini, buat saya luar biasa sekali. Lah kok 
selat se-sempit ini bisa memisahkan jenis biota.

Kapal kayu milik perama tour tiap hari melayani trayek padang bai-
gili-sengigi. Berangkat dari Padang Bai jam 1 siang. Perama menjual 
paket perjalanan dari kuta, dengan bis ¾ yang berangkat pk 10 pagi 
dan dilanjutkan dengan kapal kayu ini. Sebagai alternatif, mereka 
juga menjual jasa transportasi darat kuta-sengigi menggunakan 
penyeberangan ferry reguler.

Senggigi menjadi meeting point dengan dua teman saya yang terbang 
langsung dari Jakarta. Tujuan kali ini: Rinjani..., lagi!

Saya memesan tiket Kuta-sengigi dengan boat ini sehari sebelumnya. 
Perjalanan dari Kuta dengan bis, mampir di sanur dan ubud. Sampai 
akhirnya semua kursi bis terisi penuh. Pengemudi yang membawa kami 
mengemudi dengan santun. Di padang bai, penumpang turun dari bis dan 
dipecah lagi untuk mereka yang akan naik ke boat atau melanjutkan 
perjalanan ke candi dasa atau amed.

Jam satu siang kapal angkat jangkar dan melipir pantai timur bali 
bagian selatan. Lucu juga melihat dari sisi laut, jalur yang dahulu 
saya lalui dengan sepeda. Seraya dan kemudian antene relay yang 
merupakan ujung paling timur pulau bali. Kemudian kapal kami pindah 
haluan ke arah timur. Nahkoda memerintahkan membuka satu layar untuk 
membantu mesin kapal.

Pukul lima tiga puluh menit kami merapat di gili trawangan, kemudia 
Gili Meno, dan Gili Aer. Dari situ kapal kayu menuju selatan dan 
akhirnya lego jangkar di pantai sengigi.

Di setiap perhentian kapal kayu tidak merapat ke dermaga, tapi sebuah 
kapal kecil akan mendekat untuk melakukan transfer penumpang yang 
turun. Harus saya akui kegiatan operasi perama sangat baik. Semua bis 
dilengkapi radio komunikasi sehingga selalu bisa dipantau lokasi 
keberadaannya. Kapal penjemput juga dijaga standardnya dengan radio 
komunikasi ditangan operatornya.

Perjalanan dilanjutkan menuju ke selatan dengan melipir pantai lombok.

Perjalanan Kuta-Sengigi dengan kapal kayu ini harus ditebus dengan rp 
240ribu rupiah. Mahal? Siapa yang bisa menilai harga sebuah 
pengalaman.

Sengigi sendiri buat saya memprihatinkan. Pedestrian tidak terawat 
dan gelap dibeberapa bagian plus diskotik dalam ruang tertutup. Salah 
satu warga yang saya tanya tentang sengigi hanya bisa memberikan 
jawaban bahwa di mataram jam 9 sudah sepi, jadi satu-satunya tempat 
hiburan malam di lombok ya di sengigi.

Hotel Ray disebelah kantor perama yang tidak terlalu kelihatan dari 
luar, ternyata memberikan pelayanan yang sangat baik. Termasuk 
meminta maaf karena di pub sebelah ada perpisahan band dari jakarta, 
jadi semalamnya suara jedang-jedung hampir tidak berhenti.

Paginya baru tahu kalau elep (ELF) minibus engkel menuju arah bayan 
tidak melewati jalur sengigi. Dari arah Ampenan, mereka belok kanan 
mengambil jalur tengah dan keluar di sekitar Pemenang, dekat 
pelabuhan ke Gili. Karena ada angkot yang mau dengan 225ribu ke 
Sembalun Lawang, langsung kami ambil.

Langsung menuju ke penginapan lembah rinjani dimana kami ketemu 
dengan guide. Langsung minta dibuatkan daftar logistik untuk tiga 
hari dan dicarikan pasukan guide untuk mulai jalan keesokan paginya. 
Sorenya ikut belanja ke pasar sembalun, untuk tahu suasana. Pasar 
dilapangan bola dekat rinjani trek center adalah pasar mingguan. 
Pasar yang tiap hari ada dan buka sampai sore, masih sekitar 500 
meter menjauh dari penginapan. Yang disebut pasar sore itu hanya 
secuil gang selebar 1.5 meter dipotong bakul jualan. Telor, ikan 
asin, tempe, buncis, dan ayam kami beli. Waktu pertama kali guide 
kami menawarkan ayam, saya sudah khawatir akan ada sepasang mata di 
pikulan porter memandang selama perjalanan, dan kemudian berpindah 
tempat ke penggorengan. Ternyata kami membeli ayam potong dan 
kemudian di masak setengah matang. 

Sembalun – Plawangan Sembalun
Pagi hari agak kaget mendapat laporan kami masih kekurangan 2 orang 
porter. Sembalun kekurangan porter! Rupanya walaupun musim hujan, 
tidak mengurangi minat pendaki luar negeri untuk naik. Akhirnya guide 
kami berhasil memobilisasi dua orang lagi, walaupun yang satu 
terlihat bukan orang yang biasa terjemur di alam terbuka. Dengan agak 
tergopoh-gopoh datang membawa sarung, batang pikulan bambu, dan water-
proof bag (kantong kresek) berisi sweater plus beberapa baju ganti. 
Langsung membantu mengepak tas. Dalam satu hal, mendaki dengan 
rombongan porter membawa imajinasi menjadi penjelajah eropa di awal 
abad 20.

Untuk optimalisasi jadwal, dan mengingat perbedaan kecepatan jalan 
antara tamu dan tim support, kami memutuskan untuk jalan duluan. Toh 
ditengah jalan mereka akan menyusul kita dan sampai duluan di tempat 
makan siang. Dengan demikian mereka bisa mulai memasak makan siang. 
Kemudian kami datang untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan 
ketika tim porter masih berbenah alat masak. Idenya adalah salib 
menyalip demi efektifitas waktu.

Kami makan siang di pos 3. Dari tempat ini ke Plawangan Sembalun, di 
ingatan saya agak traumatis, mengingat energi sudah terkuras di 
savanna. Untungnya walaupun musim hujan, kami tidak pernah mengalami 
guyuran hujan yang berarti. Kurang lebih setengah jam lepas dari pos 
3, kami disalib oleh pendaki perempuan dari kutang trekking club asal 
perancis. Betul, hanya kutang dan legging yang mereka pake ditengah 
cuaca berkabut. Kami langsung adu cepat mencoba menemukan monyet yang 
mengambil baju mereka. Ternyata pendaki yang hanya berkutang ditengah 
cuaca berkabut masih dikalahkan oleh salah satu porter kami, yang 
berhasil sampai di punggungan sembalun lawang, dalam keadaan top-less!

Sampai di punggungan sembalun, ternyata danau tertutup awan. Menurut 
saya pemandangan sore hari dari titik ini adalah yang paling 
spektakuler, karena matahari sudah mulai rendah dipinggir bibir kawah 
lama menghasilkan siluet dinding kawah dan pantulan air danau. Hampir 
setengah jam saya menunggu harapan angin menyapu awan yang menutupi 
danau, tapi tetap tidak terjadi. Justru hujan ditengah kabut yang 
datang. 

Akhirnya saya putuskan untuk menuju tempat berkemah. Dimana ditengah 
jalan diberi bonus pelangi setengah lingkaran penuh.

Di lokasi berkemah, dua buah tenda sudah berdiri, dan tungku sudah 
mengepul. Teh manis hangat menyambut. Kami harus tidur cepat karena 
pukul dua pagi harus bangun untuk melakukan pendakian ke puncak.


Summit Attack – Danau.
Jam dua pagi kami bangun dan langsung dihadapkan dengan pancake 
pisang plus kopi lombok(ditumbuk, bukan digiling. Mencoba mengimitasi 
James Bond; Shaken, not stirred), baru kemudian kami mulai jalan. 
Baju hangat yang sudah dipakai terpaksa di preteli satu persatu 
karena terbukti terlalu panas. Naik ke punggungan selalu tidak mudah, 
apalagi jalur ke punggungan menuju puncak berupa material lepas. 
Walaupun cukup lelah sampai di punggungan, berhenti untuk 
beristirahat bukan ide yang terlalu baik, karena rinjani adalah satu-
satunya dinding penahan angin dari samudra hindia. Dengan angin dari 
sisi kiri yang cukup kuat, wind breaker atas bawah harus kembali 
dikenakan. Angin dingin menyusup kedalam sarung tangan fleece.

Material lepas kembali harus dihadapi pada beberapa ratus meter 
terakhir menjelang puncak. Untung di musim penghujan, material pasir 
dan kerikil cenderung lebih kompak. Dengan sedikit ayunan kaki 
seperti menendang, dan menginjak jejak pendaki sebelumnya, makan 
kemungkinan merosot dapat dikurangi.

Menurut saya keuntungan utama mencapai puncak rinjani adalah melihat 
kawah rinjani yang berada disebelah timur, dan pulau sumbawa di 
kejauhan. Pemandangan ke danau kurang lebih sama dilihat dari 
setengah jalan menuju puncak.

Guide kami dengan baiknya membawakan softdrink kalengan dari bawah. 
Sebenarnya saya sendiri tidak terlalu minat minum softdrink ketika 
badan sedang lelah dan cuaca dingin. Apa boleh buat, demi menghormati 
sang guide dan menambah konsumsi gula.

Perjalanan turun lebih seperti skying di atas batu kerikil. Dengan 
beberapakali harus berhenti karena kerikil masuk kedalam sepatu.

Lagi, begitu sampai di kemah, mie goreng, telur ceplok dan sepotong 
ayam sudah siap. Plus teh hangat. Kami langsung berkemas dan berjalan 
menuju danau.

Berhubung musim hujan, kelebihan air danau hanya bisa keluar kearah 
sungai koh putih cukup deras, sampai kurang lebih sedalam mata kaki. 
Sungai air panas menjadi tidak panas lagi. Tetapi rupanya resapan 
dari sumber air panas sudah ditampung dalam bak terpisah sehingga 
bisa digunakan untuk berendam.

Kami berkemah di pinggir danau, karena sudah terlalu cape melek dari 
jam 2 pagi. Dan cuaca di danau terus berubah as frequent as my 
heart...beat.

Segara Anak – Plawangan Senaru – Senaru
Kami menginap di danau dengan trade-off, bahwa besok paginya kami 
harus berangkat tepat waktu, untuk mengejar sampai di senaru sebelum 
gelap.

Sekian kali melewati Rinjani Circuit, episode Danau – Plawangan 
Senaru selalu menjadi yang paling menarik. Secara cuaca pagi masih 
cerah. Tetapi harus diakui, pemandangan bulan september adalah yang 
terbaik, dimana langit hampir bersih tanpa awan. Sepanjang jalur ini 
tidak henti-hentinya menengok ke belakang mengagumi Danau dan Gunung 
Baru. Tiga jam dibutuhkan sampai di Plawangan Senaru, dan kemudian 
turun. Saya selalu kagum kalo melihat pendaki yang memilih jalur 
Senaru kemudian turun di Sembalun. Mengingat saat pasokan air dan 
tanjakan ke plawangan senaru dan plawangan sembalun, yang menurut 
saya `tanpa maaf'.

Makan siang kembali di Pos 3. Burung-burung berkicau dan jalan basah 
tetapi tidak lengket di kaki, membuat jalan turun lebih cepat.

Beringin tripod yang biasanya menjadi pertanda bahwa pintu taman 
nasional sudah dekat ternyata sudah roboh. Jadi tanpa dinyana kami 
sudah sampai di gerbang.

Kalo kritikus makanan diajak menjalani Rinjani Circuit dari Sembalun 
ke Senaru, saya percaya, warung di gerbang rinjani ini dinobatkan 
sebagai warung yang menyediakan minuman dingin paling enak. Sayangnya 
pisang sedang tidak musim, jadi warung ini justru menjual durian.

Jam 5 sore sudah sampai di Penginapan Bukit Senaru. Pondok Bayan 
sebenarnya memiliki lokasi yang paling strategis, tapi tampaknya 
restorannya sedang tutup.

Dua hari yang lalu sebelum meninggalkan Desa Sembalun hujan cukup 
deras mengguyur. Sempat ciut juga nyali, kalau hujan dengan 
intensitas sebesar itu mengguyur di perjalanan. Ternyata tidak, 
selama perjalanan kami tidak pernah diguyur hujan yang cukup berarti.

Saya menghubungkan dengan legenda Gunung Rinjani dengan nama Dewi 
Anjani, yang juga nama Mbah Buyut saya. Keliatannya si Mbah memberi 
kemudahan khusus buat cucunda. Dilain sisi, dengan nama Mbah buyut 
saya Anjani, sedikit banyak menjelaskan kelakuan saya sebagai cucunya.


Kirim email ke