Om Puguh, Saya termasuk pemakai pole sejak dulu. Alasannya membantu dengkul kalau turun gunung. Kaki kiri saya dulu pernah cidera. Jadi dipakai turun gunung waduh malemnya senut-senut. Jadi kadang saya cuma make satu walaupun sebenarnya dianjurkan pake sepasang untuk balance. Ngaruhnya baru terasa kalau kondisi gradien miring banget dan tanahnya berpasir. Seperti medan Semeru dan Rinjani itu.
1. Untuk ngukur panjang pendeknya disesuaikan sama tinggi badan. Posisi siku ketika memegang pole harus 90derajat di tanah datar terutama ketika naik, tapi untuk turun setting itu bisa dipendekin lagi. Cara packingnya ditaruh di ransel luar dimasukkan dalam loop tali (mirip dengan packing tripod kalau photography). Pada beberapa ransel yang desainnya sophisticated malah dikasih kayak pelindung kaki pole. 2. Sistem suspensi (shock breaker) tiap trekking pole beda-beda. Masing-masing merk jargon jualannya ya ini. Kalau mo beli dicoba dulu Om. Dikasih beban tangan trus dilihat mentul2nya seberapa. Saya dengar desain terbaru bisa ngeset sendiri tingkat mentulnya tadi. He he he....kan itu selera. Ada yang suka kaku ada yang sangat lentur. Ohya, yang tanpa suspensi juga banyak. Yah mirip tongkatnya para sepuh itu atau bahkan diibuat dari kayu dengan lengkung yang dibuat ergonomics (ini saya temui di NZ). 3. Trekking pole ide-nya diambil dari ski pole. Termasuk sistem handle-nya. Saya make yang kayak joystick itu, sedang yang kayak pistol kok belum nemu. Tapi memang dimaksudkan begitu agar posisi tangan tetep 90derajat dalam posisi datar sembari memudahkan memindah beban jika naik turun. Saya sendiri ngga nyaman pake webbing pendek, cuma kalau jatuh masih bisa kepegang terus. Sapa tau ndadak make 'self arrest' teknik. Kalau kelamaan dipake, tangan jadi kringetan atau panas gesekan. 4. Pengalaman mblesek, kemungkinan sistem locking di trekking pole. Ada yang cuma diputer biar kenceng, kalau ngga sengaja muntir yah efeknya kunci itu lepas. Ada yang pake semacam pengait, itu juga bisa lepas dengan mudah kalau medannya batu banyak sodokan. Dari keduanya menurut saya sih sama aja Om. Belum nemu yang lebih canggih. 5. Eh ada kegunaan sampingan untuk trekking pole ini yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk beli. Salah satunya ngebantu kalau nyebrang sungai. Jadi kaki ketiga. Ngasih tangan panjang kalau membantu kawan. Trus bisa penyangga bivouac kalau terpaksa bermalam darurat. And bisa berubah jadi monopod kalau kepepet photography. 6. Ngga enaknya make trekking pole adalah ribet. Terutama kalau kudu merayap atau batu2an. Saya sih jarang make kalau naik. Baru dikeluarkan kalau udah muncak mo turun. Ya itu tadi buat membantu mengurangi tekanan di dengkul. Bagi yang belum biasa akan terasa aneh dan 'wagu' ketika pertama make. Cenderung menekankan beban kesana. Efeknya siku dan bahu malah sakit. Nah kalau itu jangan disalahkan trekking pole-nya. Tapi gimana make dengan baik dan benar. Ini sekedar artikel pendek The Real Pros and Cons of Trekking Poles at http:// www.slackpacker.com/trekking-poles.html Merk? Leki (http://www.leki.com/) itu paling mahal dan mungkin paling advanced dalam teknis. Lainnya juga mayan bagus kok. Punya saya judulnya Trek Mates dan satunya Peter Storm. Belinya juga karena lebih murah dari Leki dan cuman pengen mencoba gimana pengaruh ke dengkul dan mungkin di beban. Mungkin dicuba beberapa trekking baru ketauan. Salam, Ambar www.ceritaambar.com | Adventures. Backpacking. Photography. On 10 May 2008, at 11:29, puguh_imanto wrote: > > > Pengalaman kurang mengenakkan dengan trekking pole; > Kemarin sempat terjadi, ketika ujung trekking pole menancap ke tanah > dan agak lengket, secara tidak sengaja bagian atas/hand grip trekking > pole terpuntir sehingga menyebabkan mekanisme kunci teleskop trekking > pole terbuka. Pada langkah berikutnya, ketika trekking pole di beri > beban, maka teleskop tiba2 trekking pole memendek(Blesek- bahasa > jawanya). > > Merek? Gak usah dibahas mereknya ya... Saya penggemar trekking, > bukan `penggemar alat trekking'. Yang pasti pake trekking pole itu > gaya deh pas difoto...hayah! > > Semoga membantu. > > Tabik, > Puguh [Non-text portions of this message have been removed]
