Menurut saya, terlepas dari jenis travelingnya, apakah independent traveling pake backpack atau traveling pake tour, tergantung dari niatnya. Untuk apa traveling? Sekedar fun-fun Jalan2 atau explorasi?. Untuk jenis eksplorasi, disanalah indra kita bekerja untuk mempelajari, memahami, meditasi (spt kata Oom Pugse eh, Puguh), dlsb.
Yang tipe backpacking belum tentu dapat nafas traveling tsb. Dan yang ikutan tour belum tentu gak dapat apa2. Saya pernah berhasil meracuni teman untuk traveling. Ini merupakan traveling pertama dia yang bukan tamasya, kebetulan langsung ke luar negeri dan a la backpacking dengan kakaknya. Pulang2 dia complain, aaaah Singapore gak ada apa2nya......Lalu saya bilang, memang Singapore gak ada apa2nya dibanding Indonesia. Tapi kamu dapat apa dari traveling? Dia bilang, gak dapat apa2......sama sekali.....Saya Tanya, masa sih kamu gak notice perbedaan2 antara Indonesia dan Singapore sepanjang jalan? Hal2 yang buka cakrawala? Dia bilang : nggak.......traveling hanya buang2 duit & capek ..Maka berakhirlah riwayat travelingnya : pertama dan terakhir, baik dalam maupun luar negeri. Sementara, teman yang suka traveling ikutan tour adalah orang pertama yang mendorong saya traveling. Katanya, traveling lah..... Kamu akan liat dunia itu luas, menjadi paham terhadap perbedaan2, dslb. Definitely, dia dapat roh traveling tipe explorasi ini, walaupun tipe eksplorasi dia adalah dengan mbuntuti tour guide. Saya sendiri, tiap kali memutuskan traveling, akan bertanya dengan jujur dalam hati : apa tujuan traveling kali ini? Kalo tujuannya jalan2 fun-fun dengan teman2, maka saya nikmati saja traveling bodoh tersebut : tinggal duduk di mobil, berhenti di tempat makan popular, berhenti di tempat asik dan foto2, ogah berpanas-panas, dlsb. Tujuannya : menikmati kebersamaan dengan teman2. Jujur, senang......tapi gak dapat apa2. Tapi kalo saya ingin eksplorasi, maka saya pilih jalan sendiri, atau minimal misah dari rombongan saat tiba di tempat. Maka saat inilah saya dapat banyak. Sayangnya, buat saya yang raja alergi & perut priyayi, traveling gak bisa full eksplorasi. Makan telur, sea food, panas, udara berdebu : alergi. Makan soto panas di kaki lima : diare. Baru mau masuk hutan Kalimantan : masuk UGD hingga perlu evakuasi diri ke Jakarta. Di Jakarta langsung disuntik dokter alergi karena sudah mengganggu detak jantung. But I keep traveling anyway.....keep exploring.....tapi dengan beberapa modifikasi : kudu naik pesawat or kereta eksekutif, gak bisa makan semaunya, kudu bawa jaket biar kondisi tubuh gak turun, bawa obat segepok, kalo bisa bawa koper dorong lalu ditaruh di hostel/rumah penduduk, karena kalo berat bawa ransel kondisi tubuh cepat turun dan makin sensitif..... Kalo tipe ini bukan disebut backpacking, yah monggo wae...... Untungnya para raja alergi dikasih intuisi tajam. Kalo makanan yang terhidang meragukan walaupun panas, maka jangan coba2 nekad. Kadang campuran bumbu tertentu pun bikin alergi. Karena saya hobi nyoba makanan lokal, maka biasanya traveling hari terakhir adalah hari balas dendam. Makan segala makanan beracun. Gak apa2 alergi atau diare, toh jika tiba saatnya harus terkapar saya bisa terkapar di rumah...... Ps : Nulis ini di rumah, kena muntaber karena kemarin makan di kaki lima Sudirman. Salam, Tari YM ID : [EMAIL PROTECTED] http://kuntarini.multiply.com http://profiles.friendster.com/kuntarini
