terlepas dari kemungkinan adanya perbedaan mekanisme pencatatan statistik 
kunjungan wisatawan antar negara asean, saya setuju bahwa potensi daya tarik 
wisata melimpah ruah yang dimiliki indonesia memang belum tergarap maksimal 
mendatangkan wisman. tentu ada banyak faktor penyebabnya, yang harus dikaji 
oleh pihak2 terkait. 

satu kenyataan yang saya dapati, beberapa waktu lalu dalam perjalanan pulang 
dari mancanegara dengan emirates, dari dubai pesawat penuh penumpang, sebagian 
besar bule, dan ketika transit di KL sebagian besar (mungkin 95%) bule tersebut 
turun, dan pesawat hampir kosong melompong ketika meneruskan perjalanan ke 
Cengkareng. saat itu saya tercenung mengapa kok malaysia yang dituju wisman, 
bukan indonesia...

kenyataan lain yang juga bikin saya mikir, bbrp waktu lalu juga ketika sebulan 
saya berada di swedia, iklan "malaysia truly asia" terus tayang di tv, mungkin 
2 jam sekali. saya tunggu2 iklan indonesia tidak muncul2. akhirnya muncul juga, 
satu kali saja saya lihat, iklan ttg indonesia hanya berupa tulisan dan foto2 
obyek wisata di bali (memang kalo tidak salah temanya ttg bali), yang sama 
sekali tidak menarik.    

mungkin tahun ini, visit indonesia 2008, momen tepat untuk upaya mendatangkan 
wisman lebih banyak lagi. sayang memang kalau potensi dahsyat indonesia belum 
tergarap, padahal negara-negara lain terus melaju kencang promosinya... 

 
salam,
vietha - jakarta




----- Original Message ----
From: joko santoso <[EMAIL PROTECTED]>
To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "[email protected]" <[email protected]>
Sent: Thursday, June 26, 2008 6:18:05 AM
Subject: Re: [indobackpacker] Re: Posisi Indonesia di negara Asean


Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, jumlah turis manca yang masuk ke 
tanah air memang sangat kecil. Dengan penduduk yang lebih dari 200 juta jiwa, 
potensi ini sayang jika belum tergarap. Problemnya lagi-lagi sangat elementer. 
Daya tarik yang ada masih Bali dan Jawa sentris. Bentuk negeri kepulauan dengan 
ukuran seluas Eropa jadi kendala untuk mendapatkan ongkos transport murah namun 
tetap dengan standard safety yang layak.

Saya melihat 2 hal di atas utamanya dari yang saya alami dalam setahun 
terakhir. Hari-hari ini China lagi musim libur. Datang di stasiun untuk naik 
kereta rasanya mirip suasana Lebaran di Yogya dengan 2-3 kali kepadatan calon 
penumpangnya. Di obyek turis massal seperti tembok besar, terracotta warriors, 
tempat pengembangan panda, mayoritas pengunjung adalah orang lokal. Apakah 
karena musim libur? Dari obrolan dengan orang lokal, suasana seperti itu nyaris 
berlangsung sepanjang tahun. Ukuran Cina juga seluas Eropa namun bentuk negara 
daratan memungkinkan orang bepergian dengan kereta kelas hard seat (sekelas 
kereta ekonomi). Saya terus terang iri mengapa kok di negara kita tak bisa 
seperti ini. Hal sebaliknya saya alami setahun lalu. Baik saat ke Machu Picchu 
maupun naik kereta antara Cuzco - Aguas Calientes, saya nyaris tak pernah 
ketemu dengan wajah orang setempat.

Satu hal yang perlu dicatat, banyaknya turis tidak selalu banyaknya devisa. Ada 
negara-negara tertentu punya obyek yang bisa menjadi semacam &#39;pesugihan& 
#39;. Akses ke sana (diper) sulit. Jika akses ke tempat itu mudah, ongkos 
masuknya sangat mahal. Misalnya Machu Picchu, Tibet, Serengeti,  makam 
Nefertari, Taj Mahal. Sayangnya, kita juga tak punya &#39;pesugihan& #39; 
seperti itu. Jalan praktisnya, yang mau ke luar dari Indonesia ditarik 1 juta 
Rupiah. Setahu saya, dulu hanya Albania yang mengambil jalan pintas begini.

Salam dari Chengdu

Nb: ada yang bisa bantu ngubah alamat dan subyek jika nulis lewat BB?


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke