----- Original Message -----
Subject: Potala
Date: Mon, 30 Jun 2008 1:50:07
From: joko santoso <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>

Biasanya ada kuota harian untuk masuk istana Potala. Orang perlu antri sore 
hari untuk mendapatkan tiket masuk esok paginya. Jika mau jalan agak singkat, 
menurut panduan, calon pengunjung bisa membujuk penjaga tapi harga tiketnya 
kerap melambung 3 kali lipat menjadi Y300. Jadi beruntungkah kami terhitung 
kloter awal yang ke Lhasa setelah kerusuhan Maret lalu?

Belum sempat hal ini terpikir, selewat pintu masuk ada pemindai sinar X. Bukan 
hanya benda terlarang yang tak boleh dibawa masuk, tapi juga minuman! Dasar 
Potala ada di ketinggian sekitar 3700 dpl. Tinggi bangunannya menjulang 13 
lantai. Di udara dengan oksigen tipis ini orang disarankan banyak minum. 
Lebih-lebih bagi yang tak sempat aklimatisasi. Jadi? Aturan tetap aturan. Yang 
agak menghibur, penjaga bilang, &quot;Nanti anda bisa ambil lagi setelah 
turun.&quot;

Potala punya lebih dari 1000 bilik. Yang dibuka untuk umum hanya kurang dari 
separuhnya. Banyak penghalang dipasang di jalur (tangga) yang bercabang. Meski 
ada larangan-larangan itu pengunjung boleh masuk ke istana merah dan istana 
putih. Istana merah dipakai untuk kegiatan religi, istana putih untuk tempat 
tinggal para Dalai Lama. Pada dasarnya banyak bilik di istana merah juga berupa 
tempat ibadah. Jadi banyak pengujung yang pemeluk Buddha menggunakan kesempatan 
melakukan ritual. Setiap bilik di kedua istana luar biasa baik dari lukisan 
mural, koleksi hadiah bagi Dalai Lama yang tersimpan rapi di balik lemari, 
benda-benda pusaka warisan para Dalai Lama, dan utamanya suasana religiusnya 
yang pekat. Di setiap bilik selalu ada rahib yang terus menggumamkan doa. 
Penerangan dari lampu mentega (butter lamp) juga dijaga nyalanya.

Potala mulai dibangun di masa Dalai Lama V (1645), meski tempatnya sudah 
dipakai pada abad ke-7 oleh raja Songtsen Gampo. Karena belum kenal beton 
bertulang, ukuran biliknya relatif sempit. Saya bayangkan betapa sulitnya dulu 
orang melukis dinding temboknya. Untuk melukis perlu penerangan. Dengan bilik 
sesempit itu, yang mirip ruang terbatas, berapa lama seseorang tahan melukis 
sebelum oksigen yang mereka hirup dimakan api? Apapun jawaban atas pertanyaan 
ini, faktanya adalah setiap karya demi religi yang diyakini hasilnya selalu 
luar biasa.

Di beberapa tempat ibadah, ritual dilakukan dengan menabur uang. Ada yang 
bertanya ke saya, &quot;You see Indonesian Currency?&quot; Setelah menyusur 
bilik demi bilik, saya melihat uang 10000 rupiah yang bergambar Cut Nyak Dien. 
Tempatnya di ruang stupa (chorten), yang salah satunya untuk menyimpan sebagian 
jasad Dalai Lama V.

Salam dari Lhasa


      Get your new Email address!
Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/



      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

Kirim email ke