Frances, imigran Belanda yang saya panggil Auntie – nenek berumur 90an tahun itu – kalo jalan sering nabrak2, karena kakinya udah nggak singkron dengan perintah otak. Tapi dia maksa untuk nyetirin saya mobil ratusan kilometer dari Robson ke Vancouver besok, karena dia pingin saya bisa berhenti di spot2 menarik. Saya gak punya SIM internasional, jadi nggak mungkin menggantikan beliau nyetir ke Vancouver. Maka ketika keesokan pagi buta beliau ngetuk kamar saya dan bilang kelelahan gak kuat nyetir, saya lega juga.......lebih baik kita naik Greyhound bus daripada nanti di mobil tiba2 dia minta kaki saya bantu injak pedal rem.
Auntie & alm. suaminya – yang saya panggil Uncle - pernah tinggal di Jakarta selama 2 tahun untuk kerja volunteer. Gara2nya, mereka tertarik dengan Indonesia saat ikut anaknya ke G. Krakatau. Ke Canada ini sebenarnya saya pingin lebih lama di Vancouver untuk melihat kehidupan Sea Lions di Fraser Island, tapi mereka set saya mengunjungi keluarga besarnya, nginep disana-sini masing2 sehari. Gak pa pa, Vancouver bisa di browse di internet, tapi merasakan tinggal di keluarga local di pedalaman Canada? Hehehe…....gak pa pa saya gak berhasil dapat couch di www.couchsurfing.com krn persiapan berangkat yang terlalu singkat…...... Interior rumah Auntie dihiasi handicraft Indonesia. Beliau selalu ingin kembali ke Indonesia, tapi dia sudah terlalu tua. Auntie tinggal di desa di Valley of Robson. Indah sekali, rasanya lebih indah daripada Banff......tapi saya ngliatnya diantara mimpi, karena beliau maksa saya minum obat alergi. Dia ngeri ngliat kulit saya yang gak tahan udara kering walau sudah dibaluri lotion. Selama di Canada saya memang gak mau minum obat alergi. Gak minum obat aja tewas tengah hari bolong karena jet lag, gimana minum obat? Di Greyhound bus menuju Vancouver, Auntie tanya2 perkembangan Indonesia. Dia menyayangkan program “Dua Anak Cukup” tidak ada lagi. Menurutnya, obat kontrasepsi seharusnya gratis buat orang miskin. Dia pun terkejut mengetahui bahwa orang2 tua miskin di Indonesia tidak ada asuransi kesehatannya. Padahal di komunitas kota2 di Canada, orang2 suka menyetorkan kelebihan makanan di Food Bank, supaya orang2 miskin bisa datang untuk ambil makanan. Saya terpaksa tidak bisa melayani pertanyaan2 beliau lama, karena saya harus pindah ke tempat duduk yang strategis untuk motret. Saya pikir kita akan bisa selalu berhubungan lewat internet, tapi ke Canada mungkin hanya sekali. Jalur bus dari Banf-Revelstoke dan Castlegar-Vancouver memotong barisan pegunungan Rocky Mountain, jadi bisa dibayangkan indahnya……apalagi saat itu gletser belum cair semua. Sepanjang jalan penuh dengan sign boards kijang, Elk dan Bear. Binatang2 itu suka nyebrang seenaknya, jadi sopir harus pelan2. Kecepatan bis rata2 70 km/jam. Truk2 besar berisi log2 kayu kadang melintas. Hutan pinus Canada adalah sumber kertas, tapi sustainability hutan tetap terjaga. Tapi menurut Mayumi, banyak perusahaan logging yang tutup, karena pindah bisnis ke ......…… narkotika! Hmmm….....pernyataan ini perlu dicek dulu kebenarannya...….. Secara umum, negara ini benar2 membuat saya merenung. Betapa negara ini sangat respek terhadap kehidupan lain. Hal-hal kecil agar tidak melukai tumbuhan dan binatang selalu diperhatikan. MIsalnya, pohon2 muda disepanjang trotoir jalan diberi pegangan agar tumbuh baik, dan pegangannya dilapisi plastic bulat supaya tidak melukai batang pohon. Tidak heran mother earth kemudian melimpahi kasihnya ke Negara ini dengan resource yang melimpah dan terjaga baik. Saya tidak tega memetik daun Mapple yang sedang tumbuh ceria di matahari musim semi untuk souvenir, dan rasanya saya tidak sendiri disini. Kalo di Indonesia, pasti saya akan diketawai habis2an dibilang sinting gak tega sama hal gak penting. Setiba di Vancouver, kami menginap di rumah adik Auntie. Adiknya juga pernah ke Indonesia beberapa kali. Katanya, ketika mendarat di bandara, serasa ada tembok besar yang menabraknya. Udara lembab dan panas Indonesia bikin hari2nya sesulit hari2 saya di Canada. Tapi saya perhatikan, kulit saya langsung normal begitu tiba di Vancouver. Mungkin karena letak Vancouver di tepi pantai, kelembabannya agak mendingan. Selama ini saya merutuki udara panas dan lembab Jakarta. Saya jadi sadar ternyata saya justru gak bisa hidup tanpa itu.....benar2 orang pulau.....penduduk archipelago.....…. Esoknya saya putuskan pindah menginap di Jericho Hostelling International http://www.hihostels.ca/PM/en/vancouverhostel_jericho.aspx?sortcode=2.2 karena rumah adik Auntie – lagi-lagi – tidak dilalui kendaraan umum, jadi bakal susah kemana2. Jericho Hosteling international terletak di Jericho Beach dan merupakan satu jaringan dengan Banff Hosteling International http://www.hihostels.ca/PM/en/banffhostel.aspx?sortcode=2.16 tempat saya menginap di Banff. Jericho HI hanya dibuka saat musim semi. Saya pilih menginap di jaringan Hosteling International karena dengan harga hostel, mutunya sesuai ekspektasi. Jericho HI dekat dengan UBC, Jericho Beach dan pantai2 populer Vancouver lainnya. Lagipula – menurut webnya – dia menyediakan bus gratis ke downtown. Selesai check in, saya Tanya ke staffnya, bus gratis ke downtown yg disediakan hostel. Eh petugasnya tersipu2 menjawab, sudah lama sarana itu tidak ada lagi. Yah.....kenapa gak di update di websitenya? Untung ada system Day Pass. Dengan CAD9, kita bisa keliling kemana saja di Vancouver dalam sehari, walaupun jumlah yang ditempuh sudah lebih dari CAD9. Ruang luas itu disekat2 dan tiap sekat berisi 2 bunk beds. Nuansa Jericho HI ini backpacker banget deh! Orang2 pada jemur pakaian sepanjang tembok kamar. Gak ada kertas nama dan asal Negara Si traveler digantung di sisi bed. Tapi suasananya lebih akrab dibanding Banff HI. Kamar mandinya tipe barak militer berjajar, dengan sekat yang terbuka kanan kirinya. Hiiiiii........tapi ternyata aliran pancuran airnya di set sedemikian rupa sehingga kita pasti berdiri tepat di tengah sekat, jadi orang gak bisa ngintip. Saat saya terbaring malam harinya, koq dingin bangett.....ooh, pantesan hostel ini hanya buka pada musim semi, karena gak ada pemanasnya! Maka saya selalu tidur lengkap dengan overcoat. Hari ini saya pakai menyusuri Jericho Beach. Dermaga di pantai ini tempat yang tepat untuk contemplation. Sunyi. Hanya ada suara Sea Gulls, lengkingannya yang jauh seperti sapa dewa-dewa dari kaki langit. Memandang Vancouver di kaki gunung2 yang puncaknya bersalju, memandang kelompok2 mahasiswa2 UBC berlomba latihan perahu dayung dan perahu layar dikejauhan, sambil ditemani Sea Gulls yang besar2 dekat sekali dengan kita, jiwa saya seperti di recharge. Sea Gulls rupanya makhluk sosial. Mengamati mereka, saya jadi tahu, yang mana yang terbang mendarat di dermaga untuk segera menyongsong temannya untuk bercanda-canda berenang di laut, atau yang mana yang memang ingin berdiri beristirahat di dermaga. Tapi susah sekali motret Sea Gulls…. Kita harus super sabar beringsut-ingsut dan jadi arca. Walau jaraknya hanya 70cm, belum tentu kita bisa dapat satu foto bagus, apalagi di kondisi low light sore hari. Dia berdiri diam seperti patung, tapi lehernya nggak pernah berhenti melongok-longok ke segala arah. Susah diatur deh......Selesai motret, ada juga yang rupanya memperhatikan saya dari tadi. “How was it? Did you enjoy the afternoon?” Hehehe……well, you can say that, Sir…...tapi tangan saya jadi pegel...... Saya naik Bis no. 9 ke UBC mengenakan sweater UBC yang diberikan ayah saya saat beliau sekolah disana. Hehe......nyamar jadi mahasiswanya..….. UBC lebih tepat seperti kota kecil daripada kampus. Ada jajaran pertokoan sendiri, dan berbagai fasilitas lain seperti halnya kota kecil. Saya gak ketemu gapura atau entrance gate atau apalah......hanya plang2 di jalan yang menunjukkan kita sudah masuk area kampus. Dari segi estetika, kampus UI Depok masih jauh lebih cantik. Tapi sarananya....hmmm.....contohnya, ada kolam renang indoor dan outdoor yang juga berfungsi sebagai tempat physioterapi. Sore hari saya habiskan survey jalur & transportasi buat nglayap besok. Saya akan ke North Vancouver, sedangkan Jericho Beach ada di South Vancouver. Berarti saya mesti naik sea bus melintasi selat. Sea bus penuh dengan turis2, terutama turis2 Jepang. Sepeda pun bisa masuk naik Sea bus. Tapi di Canada, sepeda bisa naik apa aja.........Termasuk bis2 umum. Pegangan di depan bis akan turun otomatis utk naruh sepeda. Saya perhatikan, baik di stasiun LRT maupun Sea Bus (kapal yang menghubungkan South-North Vancouver) tidak ada system pengecekan tiket seperti halnya LRT di Edmonton. Jadi ya kita bisa aja naik LRT & Sea Bus gratis.......Tapi naik bis harus bayar, besar tiketnya tergantung zonenya. Rupanya hari ini lagi apes. Saat mau motret patung sailor yang meninggal dan diangkat oleh bidadari ke awan di terminal sea bus, saya dipalak gembel di pertigaan cordova street itu. Gembel itu berdiri dekat sekali ke saya, minta CAD 1. Haduh! Saya kan dari Negara berkemban......Saya bilang, “You ask to a wrong person......!” Tapi dia maksa. Terpaksa saya cari dompet saya. Duh, gak ketemu! Saya panic dan bilang, “ I lost my wallet!”sambil sibuk nyari2. Kali ini saya lebih panic karena kehilangan dompet daripada dipalak dia. Eh dia bilang. “ Don’t worry, take your time......…” sambil tangannya tetap maksa minta. “It’s not I don’t wanna give you, but I lost my wallet!!” seru saya sedikit panic. Eh dia bilang, “Find it. Take your time!” Sial nih gembel…saya kehilangan dompet, gak ada empatinya sama sekali........Alhamdulillah, dompet saya ketemu. Saya kasih beberapa coin, saya gak liat lagi. Eh dia itung…”I said one dollar........” Sial banget, terpaksa saya kasih karena dia berdiri dekat sekali, bisa saja saya dilukai. “You ask to a wrong person!!” seru saya kesal. Lalu dia ngeloyor pergi. Hilang selera saya motret. Saya scanning keadaan, rupanya di pertigaan jalan Cordova St depan Sea bus terminal ini adalah tempat para gembel beroperasi. Mereka mendekati turis2 dan minta uang. Sejak itu tiap kali lewat tempat ini, saya selalu berjalan menjauh dari mereka dan tidak menengok saat dipanggil. Hari masih terang karena musim semi, maka malam itu saya habiskan waktu di Canada Place, icon Vancouver harbour. Tempat ini lebih tepat disebut diorama Vancouver, karena jalan menyusuri corridor yang menghadap laut dan dibaca plakad2nya sepanjang koridor, maka kita akan bisa membaca sejarah Vancouver. Tempatnya romantiiss…..kita bisa memandang aktivitas Vancouver harbour yang sibuk dikejauhan, tapi bebek2 dan sea gulls masih terbang bebas cari makan disana. Hari menjadi gelap. Karena keasikan motret night landscape, saya gak sadar ternyata di tempat seluas itu tinggal saya seorang diri. Asli! Tidak ada petugas seorang pun! Tenaga kerja mahal di Canada, maka hanya posisi2 yang penting saja sebuah perusahaan akan hire orang. Saya bergegas menuju lift, tapi ajaibnya lift ini bolak-balik membawa ke tempat yang sama. Jadi terpaksa saya keluar lift dan berlari-lari cari tangga turun. Keesokan paginya, saya menuju Capilano Bridge. Setelah naik bis, baru sadar saya tidak punya koin dan belum beli Day Pass. Kita gak bisa minta kembalian ke sopir, harus uang pas atau Day Pass. Turun bis berarti tunggu bis berikutnya 30 menit lagi. Karena panic masih belum kenal dengan koin Canada, maka saya masukkan saja coin yang banyak. Di North Vancouver hanya ada 1 bus menuju tiap tempat, padahal jalur ke Capilano bridge selalu penuh turis. Jadi kalo bis penuh, ya silakan menunggu 30 menit berikutnya......Saya perhatikan, bentuk terminalnya memang tidak dirancang untuk lebih dari 1 bis di tiap gatenya. Tampaknya pemerintah Vancouver memang mengabaikan kemungkinan kenaikan jumlah penduduk. Proyeksi piramida penduduk Canada memang seperti granat yang makin tahun makin lonjong ke atas. Berarti makin lama jumlah orang jompo makin banyak dan jumlah usia produktif makin dikit. Berarti juga, kira2 kebijakan transportasi ke depannya pemerintah Canada akan lebih fokus kasih sarana/fasilitas transportasi yang canggih untuk orang jompo/dgn keterbatasan fisik, bukan menambah jumlah sarana transportasi. Kalo saya datang 10 tahun lagi, mungkin di tiap bus udah ada masker2 oksigen portable...... Sampai di Capilano Bridge saya termangu. Waduh, tiket masuk CAD30, padahal penginapan saya aja hanya CAD20-an semalam! Saya perhatikan peta bagian dalam Capilano Bridge. Hmmmm.........berisi sites yang di rekayasa untuk keperluan turisme…. Unggulannya pun hanya bridge diatas canopy pohon yang katanya tinggi sekali. Saya pikir2, vegetasi pine trees adalah tipikal hutan di Jawa. Prediksi saya kira2 Capilano Bridge akan seperti canopy bridge di G. Halimun. Nggak deh..... Lebih berharga ke Capilano Salmon Hatchery. Di Indonesia yang jelas gak ada ikan salmon di sungai. Asiknya, ternyata dari peta terlihat bahwa ada jalan tembus dari Capilano Salmon Hatchery ke Capilano Bridge, jadi bisa lewat belakang for free. Capilano Salmon Hatchery adalah upaya pemerintah Canada untuk menjaga populasi ikan salmon di sungai2 Vancouver. Caranya, salmon yang penuh telur dibedah, telurnya ditaruh di ember besar, lalu disemprot dengan sperma salmon jantan. Telur yang dibuahi tsb lalu diberi perlakuan khusus, yang masih kecil ditaruh di ruangan, dan yang menginjak remaja ditaruh diluar. Areal luas salmon remaja dikerudungi net supaya ikan2 itu tidak disambar predator. Saat musim dingin, dari dinding kaca galeri kita bisa melihat ikan2 salmon dewasa meloncati dinding air menuju hulu untuk bertelur. Sungai2 di Capilano Salmon Hatchery sering dipake main kayak oleh orang2. Canada dengan alamnya yang indah, gak heran kalo cowok2 Canada suka outdoor activity. Akibatnya mayoritas tubuh cowok2 Canada *mmmmm.......*. Di sepanjang trail menuju Capilano Bridge hanya dipasang plang-plang berlawanan arah, kearah Salmon Hatchery. Jadi kita mesti jago2 menera plang a la berjalan mundur. Mungkin sengaja, supaya orang gak cari gratisan.......hehehe........Akibatnya saya nyasar ke Cleveland Dam, yang berarti balik arah. Tapi lumayan, bisa liat aliran air di dam yang besar di sistem Capilano Reservoir, penampungan air penyedia kebutuhan air Vancouver. Akhirnya sampe juga ke Capilano Bridge. Tapi, huh.....…..ditutup! Mungkin memang terlarang buat pencari gratisan. Hehe…..Atau karena udah sore ya? Terpaksa saya terus jalan….padahal kaki udah super gempor. Suara lalu lintas makin menjauh, trail ini jadi masuk jauh ke jalan desa. Waduh! Padahal rencananya hari ini mau ke Grouse Mountain juga...........ketika ada ibu2 akan keluar mobil, saya nekad aja tanya. Kalo di Jakarta pasti Ibu2 itu udah shock nyangka saya penjahat melongok2 di kaca mobilnya. Dia lalu memberi tahu jalan pintas menuju jalan besar. Sampai di Grouse Mountain sudah pk. 5 sore lebih. Saya sudah janji dengan manager Endangered Animal Refugee site untuk mempelajari konservasi Bear di Grouse Mountain. Managernya udah pulang, terpaksa saya tulis surat minta maaf. Di bis pulang, seorang kakek2 menegur saya. Dia rupanya pernah 7 tahun di Jakarta. Dia memberitahu cara naik gondola murah di Grouse Mountain. Tiket Gondola pulang balik CAD27.5. Tapi kalo mendaki keatas lewat Grouse Grind trail, lalu turun dengan Gondola, kita cukup bayar CAD5. Grouse Grind trail kira2 berjarak 100m dari pemberhentian bis di Grouse Mountain, dipasang tanda dilarang masuk, tapi para trekker sudah tahu semua celahnya. Siiip! Pasti besok saya balik kesini lagi.... Sisa malam saya habiskan motret night landscape menyusuri Gas Town http://www.gastown.org/ Di depan jam uap itu, sekelompok hobbyst fotografer Jepang sibuk photo hunting.Ya ampun, bawa2 model Jepang segala! Enak ya jadi penduduk negara kaya…....Ke Canada udah kayak main ke Bogor….. ------------- Hari ini hari terakhir saya di Vancouver. Tengah malam nanti saya akan terbang pulang ke Jakarta. Sebelum Vancouver Aquarium di Stanley Park buka, saya sudah antri. Pingin lihat Orca di laut tapi tidak ada jaminan akan ketemu, sedangkan waktu saya tinggal hingga sore ini di Canada. Jadi Vancouver Aquarium satu2nya harapan, walaupun itu berarti saya tidak bisa mengamati kehidupan Orca di habitatnya. Tapi kata staffnya, “There’s no Orca in captivity in Vancouver” yaaah……nasib! Saya lalu segera naik bis menuju Grouse Mountain. Tidak ada plang menuju Grouse Grind. Saya ikuti anak2 muda, ternyata benar….mereka menuju pagar kawat yang digerendel. Ternyata grendelnya bisa dibuka. Welcome to Grouse Grind Trail! Undak2an trailnya dari kayu ditata rapi dan penuh plang2 peringatan. Seorang trekker di depan saya bertanya, apa betul trail ini harus ditutup saat musim dingin? Temannya bilang, Betul! Karena musim dingin jarang orang naik, dan pada musim dingin yang lalu ada trekker naik sendirian dan diserang bear. Ya, Salmon Hatchery tidak jauh dari sini. Dimana ada Salmon, disitu ada Bear. Karena udah gak pernah trekking, jantung saya hampir copot. Tapi didepan ada tulisan : You are achieving ¼ of trail. Berikut peringatan bahwa trail masih jauh dan makin sulit. Hadoh! Tapi tancap saja lah…..1/4 trail terakhir menuju puncak, di kiri kanannya masih penuh dengan gletser, dan es membentuk dinding es sepanjang trail. Trail jadi seperti sungai kecil dari salju yang mencair. Cihuy! Akhirnya saya bisa memegang es! Dengan norak, saya cuil dinding es dan saya cicipi. Untuk mengambil angle foto yang bagus, saya pun tiduran segala di trailnya. Bule yang lewat ketawa dan ngomongin saya, “Itu orang baru jalan selangkah, motret….selangkah lagi, motret…dia udah punya seribu foto kali ya….” Hehe! Biarin! Lo juga kalo dateng ke Indonesia berjemur di halaman jam 2 siang…...... Akhirnya, sampai puncak Grouse Mountain! Untungnya saya sempat liat pemutaran film terbentuknya site Endangered Animal Refugee di Grouse Mountain. Satu bear dan satu grizzly yang hampir mati dibawa ke Grouse Mountain lalu dibikinkan site dimana mereka bisa hidup sejahtera seperti di habitat aslinya dan orang2 bisa mempelajari sifatnya. Data yang dihasilkan dipakai untuk menghindari kemungkinan Bear & Grizzly masuk ke pemukiman. Gak rugi gak ketemu managernya, semua sudah lengkap ada di film tsb. Dan gak rugi sudah mendaki Grouse Grind demi penghematan.….buat saya yang menarik di Grouse Mountain ya hanya pertunjukan burung predator dan terbentunya Endangered Animal Refugee site. Pulang dari Grouse Mountain mampir beli pizza dulu di China town Pender St. Di hari terakhir di Vancouver barulah saya tau tempat makanan murah : Pizza di china town. CAD1,5/slice dan slicenya gede banget. Saya lalu bergegas kembali ke hostel, check out menuju bandara. Melihat saya bergegas2 dengan beban berat, seorang ibu dengan penuh simpati bilang bahwa bis baru saja lewat. Dan berarti harus tunggu setengah jam lagi. Yaaa....... Di bis menuju airport, matahari senja turun ke peraduannya di garis Cakrawala di tengah laut. Langit senja yang mulai gelap menyapukan warna emas di landasan pesawat dengan pigura laut di kejauhan. Benar2 warna emas, berkilauan! Matahari Sub tropika....….mungkin ini ucapan selamat tinggal kepada saya dari Negara yang cantik ini. Selamat tinggal Vancouver! Selamat tinggal Canada! Yaah, perburuan saya untuk lihat kehidupan Elk, Beavers, Sea Lion dan Orca gagal total, dan mungkin saya gak akan kesini lagi. Tapi, hmmm....….. aneh, hati saya berbisik lain.....…..saya yakin akan kembali lagi kesini. Yakin, seyakin saat saat mahasiswa dulu dompet saya hilang yakin pasti kembali dan memang kembali. Entah kapan dan bagaimana…….Saya yakin akan kembali ke Vancouver, ke Canada.......… Salam, Tari YM ID : [EMAIL PROTECTED] http://kuntarini.multiply.com http://profiles.friendster.com/kuntarini
