Setiap kali membaca kisah pendaki/tim pendakian  ada pelajaran yang  
saya dapat.  Salahsatunya adalah bagaimana kembali dengan selamat.  
Yangr ini dulu sempat menjadi perdebatan sengit para jawara climbing   
awal abad ini. Masih ingat kisah Irvine dan Mallory yang diduga  
mencapai puncak Everest  tahun 1924 jauh sebelum gempita 1953 itu?  
Siapakah yang dianggap penakluk pertama? Irvine & Mallory vs Hillary  
& Tenzing. Jawaban Pak Hillary simple saja. "an ascent of Mount  
Everest could only be described as a success if the climber returned  
alive."

Saya tidak mau mempertanyakan apakah tim ini masuk akal atau tidak  
tapi hanya keingin tahuan kenapa Pupung (Pungkas) tiba-tiba kolaps.  
Dengan ditemani dua guide berpengalaman rasanya faktor luar  
diabaikan, kecuali cuaca tentunya. Menilik kondisi Pupung yang  
sepertinya "shut down whole system"  saya ingat bahwa pikiran adalah  
kontrol tubuh. Ketika Pungkas merasa misinya selesai  yakni mencapai  
puncak dan menancapkan merah putih maka ada semacam dibawah sadar  
bahwa tujuan utama telah tercapai. Begitu fokusnya seseorang ia jadi  
mengabaikan apa yang harus dilakukan setelah puncak. How to get out  
here in single piece?  Saya sendiri mengalami dan merasakan seolah  
tubuh ngga mau digerakkan. Tubuh sudah menyerah karena tingginya  
konsentrasi mental dan fisik  yang dikonsumsi sebelumnya.

Satu hal lagi yang saya pelajari, kegagalan itu BUKAN hal yang  
memalukan. Terkadang kegagalan itu menjadi pelajaran berharga untuk  
generasi mendatang.  Saya berharap ada laporan resmi yang bisa kita  
baca dan diambil point penting. Bukan menuding siapa yang salah  
secara membabi buta  ala Jon Krakuer itu. Hanya saja maukan kita  
mengambil hikmahnya.


Salam,

Ambar Briastuti
www.ceritaambar.com | ym : ambar_briastuti | Adventures. Backpacking.  
Photography.


On 11 Jul 2008, at 21:14, M. W. Rofi ((Finishing M/C NCR Waru)) wrote:

> Ada sedikit ulasan dari milis tetangga mengenai pendaki Indonesia di
> McKinley, yah semoga bisa jadi bahan renungan dan pembelajaran bagi  
> kita
> semua,...amiiin.
>
> -------Original Message-------
>
> From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Djoko H
> Date: 7/11/2008 3:24:34 PM
> To: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> rudy
> Subject: MENGAPA TIDAK TEMBUS ?
>
>
>
> 013
> Setiap perbedaan ketinggian ( yang "hanya" ) 1000 meter memberikan
> perubahan yang cukup ekstrim. Rupanya bekal utama Pungkas mendaki
> MCKinley "hanyalah" motivasi dan tekad saja , tetapi pengalaman dan
> pengetahuannya -adalah betul- masih sangat tidak masuk akal  
> ( maksudnya
> belum cukup ) untuk dipakai mendaki McKinley. Hanya motivasi itulah  
> yang
> masih menyebabkan kakinya sampai ke puncak. Hanya tekadnyalah yang
> membuat kakinya tetap sampai menginjak puncak , tetapi begitu "sasaran
> utama" itu tercapai, fisik dan "nafas"nya langsung tersadar dan
> berhenti, bagaikan pelari marathon yang fisiknya tidak kenal menyerah,
> tetapi tiba-tiba ambruk "menyerah" setelah menyentuh garis finish.
>
> Padahal tujuan sebenarnya dari "latihan secara bertahap" itu bukan (
> hanya ) agar mampu mencapai puncak, melainkan itu prasyarat & prosedur
> SAFETY. Dan safety harus diartikan "sampai kembali kerumah dalam  
> keadaan
> selamat"
>



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke