Ubud, 12 Juli, 2008

Di garuda inflight magazine, dikatakan bahwa cremasi raja Ubud hari
selasa, 15 Juli besok adalah the biggest ever. Kata teman, dan juga Puguh
tulis di milis indobackpacker persiapan upacara itu sudah mulai sejak
sebulan lalu.
Di Pusat Ubud, puri, jalan suweta dan pasar yang saling berhadapan,
kelengkapan untuk upacara pelebon atau ngaben itu: patung sapi hitam
ukuran 4 meter, gunungan 3 dimensi setinggi 16 meter dan tiga panggung
untuk orang duduk bersembahyang dan meletakkan instrumen gamelan sudah
siap, semuanya menjadi serba gigantic berhiaskan ornamen2 warna cerah.
Puri yang pada hari biasa tidak dapat dimasuki dan sakral, pada hari-hari
ini didemistifikasi, kehilangan wibawanya dan orang-orang awam yang
membantu persiapan upacara, lalu-lalang masuk melewati daerah privat only,
wilayah keluarga raja. Inilah peristiwa ketika kematian dirayakan dengan
riang gembira. Sementara pada banyak tradisi, kepercayaan, dan agama,
kematian melulu bernuansa sendu, penuh ratap tangis. Cobolah tengok, di
tardisi agama Islam Syiah pengiktnya memperingati kematian Ali, pemimpin
mereka dengan melukai dirinya sendiri, mencambuki tubuh hingga
berdarah-darah, atau juga di Filipina, Flores atau Magelang yang mayoritas
penduduknya beragama Katholk, kematian Jesus diperingati dengan prosesi
Jalan Salib dimana selalu ada orang yang beracting seperti Jesus disalib
menuju bukit Golgota dibuat semirip mungkin ketika Jesus sendiri
mengalaminya, lengkap dengan cambukan dan tangan yang benar-benar dipasak,
yang tentunya akan menyebaban luka, atau juga budaya Jawa, orang
mengiringi kematian dengan kidung-kidung lara menyayat hati sepeti juga di
Eropa, khususnya Italia, anggota keluarga atau orang yang datang melayat
hampir bisa dipastikan berbusana gelap, yang perempuan bertopi dan cadar
tembus pandang warna hitam, musik pengiring adalah varian dari Requiem-nya
Mozart, dan di antara pelayat ada agen rahasia polisi yang girang hatinya
karena buruannya, keluarga dari gembong Mafia yang baru meninggal
menampakkan batang hidungnya… (ini mah adegan di film Godfather-nya
Francis Ford Copolla ….haha…).
Tapi ada juga kultur yang waktu ada perayaan kematiannya ada campuran
antara duka dan gembira,yaitu Toraja. Dalam waktu yang bersamaan, di satu
tempat ada yang berdiri melingkar, umumnya perempuan berbusana adat warna
hitam melafalkan mantra dengan suara melengking-menyayat, di sebelahnya
ada yng sibuk membakar babi untuk dimakan, tapi di tanah lapang di depan
mereka, kaum lakinya dengan riang melaksanakan tarung kerbau, dan ada juga
yang berjudi dan adu gengsi, karena semakin banyak jumlah kerbau yang
dikorbankan, akan meningkatkan status sosial keluarga tersebut. Dari dua
ekstrem orang hidup merayakan kematian, yang lucu ummat Buddhist memandang
kematian dengan plain, alias nggak ada ekspresi, tidak sedih atau juga
tidak gembira. Kalau dibuat film, pasti boring karena nggak dramatis.
Tadi dikatakan cara orang yang masih hidup merayakan kematian, mungkin
dimaksudkan untuk menghormati jasa-jasa yang orang yang sudah meninggal
itu, padahal orang yang sudah meninggal kan nggak tau apa-apa lagi ya, gak
bisa ikut bersenang-senang atau protes kalau nggak berkenan, wong dia kan
nggak bisa ditanya lagi ya.. tapi, yaa itulah kekayaan budaya Indonesia..
menarik juga untuk dilihat dan dibiarkan tetap ada. Walaupun di dalam
peristiwa kematian, tentu ada orang yang sedih, tapi ada juga yang membuat
gembira banyak pihak, seperti di Ubud ini. Banyak sekali terlihat
wisatawan mancanegara. Bus-bus besar yang membawa rombongan mereka parkir
di depan pasar, jalan Monkey Forest, bahkan di lapangan sepak bola di
belakang pasar, membikin macet perjalanan ke puri. Banyak dari mereka
membelanjakan dollar, euro atau yen mereka di pasar dan kafe-kafe. Tentu
saja kegiatan “ekonomisasi kematian” itu menggembirakan Pemda Ubud, para
pedagang dan pengelola kafe. Voila! C’est la vie.. And, everybody’s happy…

Tadi malam di Puri, ada pentas musik dan tari dari grup Cudamani yang
ketika di Balispirit Festival April lalu, pentas musik (spiritual) mereka
menjadi salah satu yang mendapat apresiasi tinggi dari peserta. Yang beda
dengan festival waktu itu adalah, yang bermain gamelan dan juga yang
menari banyak juga orang bele-nya. Grup Cudamani dari Pengosekan Ubud
memang sedang membuat summer program untuk mahasiswa di Amerika untuk
studi musik dan tari tradisional Bali. Ibu dari Emiko, istri Pak Cudamani
mengajar di Wiscounsin University Amerika. Jika hari-hari biasa di
pelataran puri selalu menggelar pertunjukan Kecak, malam tadi diseling
dengan pentas Grup Cudamani dengan bule-bulenya itu yang bermain musik
serta menari lengkap dengan pakaian tradisi.

Yang menarik dilihat disini. Memang ada penari perempuan bule itu kurang
luwes jika dibanding penari profesional asli Bali, tapi ada juga yang
tidak kalah dalam hal keluwesannya. Pakaian tari yang mereka kenakan pun,
dengan potongan dada rendah (asyiiiik…) tidak membuat mereka wagu atau
canggung, termasuk kerling2 matanya. Seperti dalam orang melakukan asana
atau gerak dalam yoga, ada orang yang dengan mudah melakukan satu pose,
sementara pose yang sama susah sekali di lakukan oleh orang lain, jadi
timbul pertanyaan, siapakah yang menciptakan tubuh?

Bagi orang yang malas berpikir, akan dengan segera menjawab Tuhan, sebagai
causa prima yang menciptakan tubuh. Tapi marilah kita perhartikan
orang-orang yang berbeda ragam budaya bergerak. Banyak orang barat akan
susah sekali melakukan squat atau jongkok, mungkin karena mereka tidak ada
closet jongkok, tidak pernah berak dengan cara jongkok a la orang2 yang
tinggal pinggiran kali Ciliwung, tapi banyak juga guru yoga dari barat
atau yang murid2 yoga yang biasa berak dengan cara duduk, karena latihan
akhirnya mereka bisa melakukan jongkokasana, posisi jongkok dalam yoga.
Tadi malam di Puri Ubud, tidak tampak kesediahan, tidak ada isak tangis
dari keluarga yang ditinggal mati. Malah, suasananya menjadi bernuansa
mantenan, pesta perkawinan hanya saja musik dangdut seperti mantenan di
kampung, atau band top 42 di hotel, diganti dengan musik dan tari tradisi.
Dan di privat area, dalam puri, kegembiraan makin tampak nyata: free-flow
minuman dan makanan a la prasmanan. Orang-orang yang datang masuk, seperti
anak-anak merayakan Lebaran atau Natal, utamanya yang perempuan mengenakan
pakaian adat yang terbagus yang mereka miliki…
Bagaimana puncak acara ini, ngaben itu sendiri pada selasa, 15 Juli besok?
Mari sama-sama kita tunggu ceritanya…


Minggu, 14 Juli ‘08

Hari Minggu, Sunday kata orang yang berbahasa Inggris, hari matahari, tapi
pagi ini hujan dan mendung, jadi matahari tidak menampakkan diri… Kematian
dan rangkaian upacaranya bukan ditangisi oleh keluarga yang meninggal,
tapi ditangisi oleh pedagang es keliling dan pengelola laundry.
Di Jalan Hanoman, di salah satu pura dan banjar, banyak orang terlihat
sibuk untuk ngaben (again?) keluarga lain sabtu depan, keluarga Kadek,
suami dri Meghan pendiri Balispirit yang orang Amerika… Karena keluarga
itu cukup juga terpandang, kemeriahan upacara ngaben, mungkin hanya tiga
tingkat dibawah royal cremation Selasa besok..



Kirim email ke