Sambungan dari caper sebelumnya: (http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/message/24029)
Diawali sebuah brunch yang menyenangkan, kami mengelilingi tempat-tempat di Banda Aceh yang sedang dirubah menjadi monumen peringatan tsunami. Sebuah perjalanan menuju Pantai Barat Aceh juga meninggalkan kesan tersendiri, karena keramahan Pk. Mawardi, supir becak kami. Duduk di kedai kopi Solong (Jasa Ayah) seakan menutup perjalanan di provinsi ini. -- Sebuah Brunch yang Menyenangkan -- Kami tiba di Banda Aceh sekitar jam 5:30 subuh. Banda Aceh masih gelap, dan belum tampak aktivitas yang signifikan. Meskipun mendapatkan posisi paling belakang dengan reclining seat, bonus bau solar yang masuk ke kabin penumpang membuat tidur kami kurang nyenyak. Pilihan untuk melanjutkan tidur pun jatuh ke Hotel Prapat. Hotel tersebut baru saja membuka pintu gerbangnya ketika kami tiba, dan kamipun diterima oleh pegawai hotel yang terlihat baru bangun tidur. Jam 9 kami terbangun dengan perut lapar, dan jam 10 kami mulai mencari kendaraan dengan tujuan utama memuaskan rasa lapar, melihat peninggalan tsunami, dan menuju Pantai Barat Aceh. Oleh karyawan hotel kami disarankan menggunakan becak Pak Mawardi. "Bapak tua ini sangat baik", promosi karyawan hotel. Tawar menawar yang dilakukan diakhiri dengan ucapan Pak Mawardi: "Ya sudah, terserah mau bayar berapa", sambil menyuruh kami naik ke becaknya. Lapar kami terpuaskan dengan sebuah brunch di restoran Ujong Batee. Kuah pliu, teri cabe, sayur bunga pepaya dan ayam goreng mungkin dapat ditemui dimana saja di Aceh, tapi sebuah kepiting raksasa dalam kuah kari membuat brunc ini menjadi spesial. Jika capitnya saja sebesar lengan orang dewasa, kira-kira kepitingnya sebesar apa ya?. Brunch ini ditutup dengan rujak buah yang menyegarkan, dihidangkan didalam gelas plastik. Monumen Tsunami Tsunami bukan saja meninggalkan orang sebatang kara, tapi juga meninggalkan tanah tak bertuan. Sejak kami datang 4 hari yang lalu, beberapa tanah terlihat masih belum dibangun ulang, karena kehilangan pemilik dan seluruh ahli warisnya. Beberapa lokasi inipun dirubah oleh pemerintah menjadi monumen peringatan tsunami. Setelah brunch, Pak Mawardi membawa kami menuju sebuah kapal nelayan yang tersangkut diatas rumah penduduk di Lampulo. Kapal sepanjang kira-kira 25 meter ini terkadang disebut kapal Nabi Nuh, karena menyelamatkan 25 orang yang berada diatasnya sewaktu terjadi tsunami. Tiang beton dibangun untuk menyokong posisi kapal, dan sebuah jalan sedang dibangun untuk memungkinkan pengunjung naik keatas kapal. Sementara tempat duduk bertingkat dibangun disekitarnya, mungkin untuk digunakan sewaktu upacara peringatan tsunami. Dari Lampulo kami menuju ke Punge Blang Cut, tempat peristirahatan dari sebuah Pembangkit Listrik Diesel (PLTD) Apung seberat 200 ton, yang terbawa 4 km ke darat oleh tsunami. PLTD ini masih terjaga dengan baik, dan menurut rencana akan difungsikan kembali setelah berhasil dibawa kembali ke laut. Untuk naik keatas PLTD ini cukup memberikan sumbangan sukarela untuk kebersihan. Dari tingkat paling atas, dapat terlihat kubah Mesjid Agung Baiturrahman. -- Pantai Barat Aceh -- Pantai barat Aceh merupakan saksi pertama yang melihat datangnya tsunami. Gelombang datang, dan masuk ke darat sejauh beberapa kilometer, baru berhenti setelah menghantam sebuah tebing. Laut yang sama, yang membawa maut, seakan menyembunyikan kekuatan luar baisa ketika kami sampai di pantai Lhok Nga.Pantai ini tampak sepi, mungkin karena panas yang terik, juga debu akibat pembangunan jalan menyebabkan orang malas datang ke pantai ini. Kami duduk di sebuah saung, sambi mendengarkan cerita dari Pk. Mawardi sewaktu terjadi tsunami. Sebuah kisah yang laur biasa, dari seseorang yang kehilangan seluruh keluarganya, melewati periode kekacauan, sedih dan putus asa, hingga memutuskan untuk melanjutkan hidup. Di sebuah pantai tak jauh dari Lhok Nga, masih terlihat potongan aspal hitam yang retak. Aspal dengan garis putih ini merupakan ruas jalan pantai barat Aceh sebelum tsunami. Ditengah aspal ini terlihat bekas jembatan ayng telah runtuh. Sebuah jalan baru sedang dibangun, karena ruas jalan yang lama sudah terlalu dekat dengan garis pantai. Tsunami telah menggeser garis pantai barat Aceh sejauh beberapa ratus meter. Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke pantai Lampu'uk. Pantai ini terlihat lebih biru dan tenang, karena terletak didalam sebuah teluk. Siang hari di pantai ini terasa lengkap, karena akhirnya kami menemukan penjual kelapa muda! -- Kopi Ulee Kareng -- Tidak salah memang apabila Warung Kopi Solong (Jasa Ayah) masuk sebagai rekomendasi beberapa orang, bahkan Lonely Planet. Tempatnya tidak ada yang spesial, seperti kedai kopi lainnya yang tersebar di Banda Aceh. Tapi coba pesan secangkir kopi, dan anda akan bertanya-tanya, kopi apa yang bisa memberikan rasa seperti ini? Atau mungkin, bahan apa yang telah dicampurkan untuk memberikan rasa yang tidak baisa ini? Warung Kopi Solong terisi penuh ketika kami sampai. Sepertinya masyarakat Aceh selalu menikmati kopi di sore hari, sambil menunggu waktu Maghrib. Pk Mawardi berbicara dengan seorang bapak tua yang duduk sendiri, dan kamipun bergabung di meja yang sama. Percakapan pun bergulir diantara kami berempat, cukup hangat dan ramai, sehingga mungkin kalau kami tinggal 3 hari disini, kami akan tahu seluruh gosip lokal. Sebagai contoh: "Bapak itu adalah pendatang, tapi bahasa Acehnya lancar sekali", gosip dari bapak tua teman duduk kami, sambil menunjuk seseorang yang baru masuk. Sebagai teman minum kopi, ada Martabak Aceh, mie kocok, roti sarikaya, dan pisang goreng. Mie kocok dan martabak langsung licing tandas. Entah karena brunch yang luar biasa atau karena terlalu menikmati pantai-pantai Aceh, kami baru sadar kalau kami belum makan siang! -- Mesjid Agung Baiturrahman di Malam Hari -- Seseorang akan lebih bisa menikmati perjalanan dan daerah sekitar apabila dia berjalan kaki. Oleh karena itu, untuk menutup malam, kami memutuskan untuk jalan-jalan di daerah sekitar. Tidak ada rasa khawatir, karena Banda Aceh terasa cukup aman di malam hari. Tempat-tempat makan masih penuh, dan beberapa toko masih melayani tamu hingga tengah malam. Sekitar 10 menit jalan, kami tiba di tepi Sungai Krueng. Lampu-lampu dari tempat makan di pinggir sungai mengingatkan saya akan Boat Quay di Singapore. Rasanya kalau memang mau dikembangkan, tepi Sungai Krueng ini tidak kalah dengan Boat Quay. Kami tidak mampir ke tempat makan ini, karena lebih tertarik dengan cahaya yang berasal dari sebuah bangunan di arah yang berbeda, cahaya dari Mesjid Agung Baiturrahman Cahaya putih yang menyinari Mesjid ini tampak kontras dengan kubahnya yang hitam. Anak-anak bermain di halaman Mesjid, dan orang tua mereka duduk-duduk sambil mengawasi. Mesjid yang berusia ratusan tahun ini telah menjadi saksi sejarah di Banda Aceh. Dibangun mulai tahun 1879 dan selesai pada tahun 1883, Mesjid ini telah mengalamai beberapa pengembangan dari 1 kubah menjadi total 7 kubah. Disekitar Mesjid masih banyak tukang makanan dan tukang baju berjualan, menyerupai Pasar Malam. Puas melihat dan mengambil foto, kami kembali ke Pasar Rex, yang terletak tepat didepan hotel kami. Pasar ini merupakan pusat jajanan makanan di Banda Aceh, dengan menu khas daerah yang komplit. Mulai dari Sate Padang, Mie Aceh, Nasi Goreng Aceh dan Sate Matang, semua tersedia disini. Sungguh berat rasanya berjalan kembali ke Hotel, mengingat ini adalah malam terakhir kami. Sebuah perjalanan yang luar biasa, menemui orang-orang yang luar biasa, di sebuah daerah yang luar biasa. Benny Foto-foto ada di: http://www.pbase.com/bennyc/in_aceh&page=3 http://www.pbase.com/bennyc/in_aceh&page=4 [Non-text portions of this message have been removed]
