Mas Paul, Mungkin memang saatnya pola jalan-jalannya dirubah. Sedikit beda. Misalnya naik sepeda ke desa tetangga, atau sepedamotoran ke tempat yang belum pernah ditempuhi. Kan semangat backpacker memang discovery, menemukan tempat yang tidak 'umum'?
Ide lainnya adalah menggali budaya setempat. Contoh sederhana misalnya jika ada industri rumahan seperti membuat gula jawa, genteng atau batu bata yang masih dibakar dengan cara tradisional. Atau melihat pemetikan kopi, coklat, teh, pala, cengkeh atau apapun produksi alam setempat. Mengunjungi rumah2 kuno, menyusuri rute sejarah dll. Coba melihat lebih dekat, bertanya dengan penduduk dan mengamati lebih detail. Saya sarankan banyak membaca background misalnya sejarah, geography ataupun politik. Terkadang ide2 itu muncul disitu. Kalau yang mau agak pop misalnya film atau musik. Seperti mencari jejak syair dari Leo Kristi misalnya. Ada lagi ide dari arsitektur, geologi atau manusia-nya. Misal : upacara adat sebelum puasa dan menjelang iedul fitri. Ataupun hingga syawal. Jadi ngga musti ke tempat wisata. Terkadang yang disekitar kita itu lebih menarik loh. Banyak sekali ide2 yang bisa didapat. Memang untuk tampil beda dan berpikir "out of the box" (halah..) itu susah untuk memulai. Tapi sekali dijalankan pasti keterusan. Itu yang saya suka bilang sebagai backpacker's spirit. Jarak bukan alasan, ongkos bukan penghalang. Salam, Ambar --- In [email protected], "paul.santoso" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Setiap lebaran aku justru pusing, tiket mahal, makanan mahal, hotel > mahal, tempat pariwisata berjubel... tak bisa dinikmati. Masak aku > harus setiap tahun bolak-balik ke ortu atau mertua dengan susah payah? > Masak aku selama hidup hanya tiga kota (ortu-mertua-tempat kerja)saja > yang dikunjungi? KA full, bis full, pesawat full, jalan-jalan macet, > apa-apa mahal, inikah berkat Lebaran? Mungkin teman-teman punya ide > cemerlang tuk menikmati liburan panjang lebaran, mohon saran. >
