Lagi-lagi cuma nambahin... Sekedar paparan dari saya yang mungkin tidak benar seluruhnya: backpacking, travelling, pengembaraan, petualangan, berhijroh atau apapun namanya sepertinya sudah hal yang lumrah bagi manusia, seperti halnya saat kita belajar berjalan dan kemudian berlari (tuk apa coba?), hal ini sudah sunatullah sebagai manusia. Sejarah religi atau umum juga membuktikannya: Nabi Ibrohim yang akhirnya sampai di Arab dan membuat Ka'bah, Nabi Musa, Jesus, Muhammad SAW, Sidharta Gautama, Ceng Ho, Columbus, pelaut2 Makassar, Gajah Mada dll. hanyalah sebagian kecil dari contoh tersebut dengan apapun alasan yang melatarbelakanginya. Jadi backpacking atau apapun sebutannya sebenarnya sudah menjadi jati diri dari kita sebagai manusia, tinggal ada atau tidaknya kesempatan dan kemauan dan ini juga merupakan kebutuhan dari kita sebagai proses pancarian, proses belajar, penempaan diri, dsb. Dengan meminjam cerita ayam, bukankah ayam kampung yg kebiasaanya liar (suka jalan) lebih tangguh (juga mahal) di bandingkan dengan ayam potong yang mapan dengan segala kebutuhannya yang selalu dipenuhi. Plato seorang filsuf juga telah menceritakan hal ini dengan semua teorinya, so akhirnya saya cuma bisa bilang mungkin backpacking atau apapun namanya memang merupakan kebutuhan kita walaupun hanya seperti kita merefresh komputer.
Regards, Hendra Saputra Expedition "Menemukan yang hilang" ________________ Reply Header ________________ Subject: Re: [indobackpacker] Hobby Travelling Bisa Dimulai Dengan Yang Sederhana Author: Ambar Briastuti <[EMAIL PROTECTED]> Date: 11th September 2008 17:52 Well, betul. Banyak cara laen menikmati hidup. Backpacking itu hanya salah satu dari sekian options. Betul bahwa itu sepenuhnya adalah pilihan pribadi. Dan kita wajib dung menghargai setiap orang yang memilih options itu, seberapa-pun terkadang naive. Yang dipersoalkan teman2 adalah mitos bahwa travelling itu hanya dilakukan orang kaya, berduit atau paling tidak butuh keberanian ekstra bahkan nekad. Masalahnya itu ngga cuma duit aja sebenarnya tetapi lebih dalam dari itu. Yakni seberapa kita mau "mencari" kemanfaatan dari travelling itu sendiri. Attitute seorang backpacker semestinya makin rendah hati. Seperti halnya ilmu, makin dicari makin haus. Makin banyak yang kita tahu makin sedikit yang kita ngerti. Betul jumlah negara bukan pathokan dia jagoan backpacker. Lha gimana wong mampir saja cuma 2 jam? tergantung apa yang dicari : quantity atau quality. Juga apa yang dicari dari backpacking itu sendiri? pengakuan sebagai seorang backpacker atau lebih jauh mencari jati diri yang bisa untuk bekal "kemapanan" dikemudian hari. Saya bilang bekal karena dengan backpacking ada banyak pelajaran berharga untuk menapak kemapanan. Kita diajarin mandiri, self reliant (tidak tergantung pada orang lain), berani beresiko, berinteraksi dengan orang asing, memahami tabiat dan kultur yang berbeda, dan juga attitute yang lebih dewasa untuk menghargai perbedaan. It sounded very good for job's decryption. Ini semua akan berguna dalam skala lingkup kerjaan misalnya. Atau menimbulkan ide membuat bisnis baru (why not?). So backpacking can be inspiration for anything, not just for the sake of travel. Kalau kita ke naik gunung, susah payah sampe atas turun lagi ya udah. Tapi banyak teman membagikan pengalamannya. Ngga cuma gimana menuju kesana tapi juga share informasi yang penting. Sharing itu disisi lain bermanfaat buat yang membutuhkan disisi lain bikin mupeng orang. Well, kalau mupeng itu menjadi energi yang bagus misalnya dialihkan menjadi inspirasi daripada rasa iri tentu akan makin banyak sharing yang lebih positif. Saya pribadi makin sering travelling/backpacking malah makin banyak yang saya ngga tahu. Jadi kalau ada yang nanya udah kemana aja saya selalu bilang belum kemana-mana. Dunia ini terlalu luas untuk dijelajahi. Apalagi Indonesia :) Teman2 juga udah membagi bahwa travelling itu ngga musti keluar negeri, bahkan bisa dilakukan dengan murah. Ya karena saking pengennya melihat dunia. Kalau memang belum pengen, ya mungkin memang belum panggilan jiwa. Dan yang pasti milis ini ngga 'maksa' semua anggota jadi backpacker he he he...tapi paling tidak mulai mematahkan mitos soal travelling kudu (kudu loh ya) orang berduit.
