Kabar jatuhnya pesawat Twin Otter Yeti Airlines di bandara Lukla hari  
ini (8 Oct 2008) membuat saya tersekat. Delapan belas orang meninggal  
termasuk beberapa calon trekker Everest area. Tercatat dari 12 dari  
negara Jerman dan 2 orang Australia berikut penumpang lokal dan kru  
pesawat. Pesawat kecil ini jatuh kemudian mengalami kebakaran ketika  
mencoba mendarat di bandara mungil tepat di punggung pegunungan  
daerah Khumbu, Himalaya Nepal. Cuaca buruk menjadi alasan utama,  
terutama kabut tebal yang acap menjadi penyebab.

Siapapun akan menahan nafas jika akan mendarat disini. Lukla adalah  
pintu gerbang bagi yang ingin menjajal puncak Everest dari sisi  
Nepal, dan juga bagi yang sekedar ingin trekking hingga Base Camp.  
Jaraknya sekitar 80 miles (129km) dari ibukota Kathmandu dan sekitar  
40 miles (64.5km) dari gunung tertinggi dunia itu. Yang bikin miris  
adalah pada ketinggian 2,860 m, kemiringannya yang hampir 20% panjang  
hanya 527m dan lebar 20m ditambahi kabut tebal yang selalu datang   
membuat kombinasi yang berbahaya.  Bandara Lukla merupakan warisan  
dari perlombaan menaklukan Everest pada awal ekplorasi di abad 20.  
Ketika Hillary dan Tenzing membawa bendera GB ke puncak (1953),  
bandara ini mengalami perubahan besar setelah program pembangunan  
sekolah di daerah terpencil. Sebuah program yang dilaksanakan Hillary  
sebagai wujud terimakasih untuk penduduk Himalaya.

Ketika penerbangan saya dibatalkan karena faktor cuaca saya  
menggerutu. Sudah check in dan lewat pemeriksaan segala, plus gotong2  
barang. Satu jam ditambah 2 jam menunggu kabar apakah kabut  
menghilang. Hingga pukul 10 pagi jelaslah bahwa kami batal terbang.  
Reputasi penerbangan ini yang sangat temperamental disertai layanan  
yang 'seadanya' membuat  kesabaran ekstra. Peringatan pertama yang  
saya hadapi di Everest Trekking adalah bakal menemui ujian sabar di  
penerbangan Lukla. Jelas ini disampaikan Stan Armington di buku LP.  
Tenang...sabar...sabar. Masih ada hari esok.

Pagi berikutnya barulah kami bisa mendapat tiket. Jangan ditanya  
gimana caranya. Pokoknya maen gontok2an dengan operator trekking yang  
besar. Maklum dengan independen membuat kami kudu bawa beban sendiri,  
termasuk alat2. Terbang dengan Twin Otter menuju Lukla adalah  
pengalaman yang tak terlupakan. Walau hanya sekitar 40-45menit tetapi  
penuh dengan view menakjubkan. Jika bisa, cobalah pilih kursi di  
sebelah kiri. Hampir semua jejeran gunung terlihat jelas : Lhotse,  
Makalu, Everest.

Karena kecil Twin Otter biasanya hanya ada pilot, co pilot dan satu  
kru yang duduk paling belakang. Pramugari cantik ini menggunakan  
pakaian tradisional penduduk suku di Himalaya seperti celemek dengan  
warna cerah. Mukanya yang lebih putih pucat menunjukkan ia dari suku  
Gurung atau Tamang. Jarak antara pilot dan penumpang hanya sedepa,  
membuat kita bisa tahu apa yang sedang dilakukan kru. Tidak banyak  
pelayanan makanan, hanya beberapa kembang gula yang jika dikulum  
amat  membantu mengurangi efek blok di telinga karena high altiitute.  
Penerbangan hanya bisa dilakukan pagi hari mulai pukul 7 hingga  
maksimum pukul 12. Jadi begitu cuaca baik, bergegas penerbangan ke  
Lukla jadi supersibuk. Dalam satu jam bisa 2-3 pesawat, baik take off  
dan landing. Beruntung kami dapet pukul 9, setelah gagal mendapatkan  
paling pagi.

Dalam 40 menit itu antara cemas, exciting dan keingin tahuan  
bercampur menjadi satu. Saya ini termasuk takut terbang. Ingatan saya  
selalu kepada Louise dan Belinda Hillary (istri dan putri bungsu Sir  
Hillary) yang tewas dalam kecelakaan pesawat di Kathmandu menuju  
Lukla tahun 1975. Deru-nya yang memekakan telinga dan guncangannya  
membuat konsentrasi pecah. Seorang kawan seperjalanan dari Inggris  
membilang, "Have a fun".  (Yang saya kutuk habis karena tentu ia  
melihat wajah saya yang pucat). Tapi begitu pemandangan jejeran  
gunung Khumbu di depan mata, rasa takut tadi menguap entah kemana.  
Berganti wow, ah, dan decak kagum. Kabut rupanya menyembunyikan  
gunung dalam pelukannya, membuat kita yang berada di udara menikmati  
bentuk gagahnya.

Tigapuluh lima menit kemudian, sang pilot memulai atraksi landingnya.  
Bandara Lukla terlihat jelas, ia kemudian menambah kekuatan mencapai  
ketinggian 3000an kaki. Dari jauh, bandara kecil yang sudah di aspal  
ini terlihat lurus saja, tepat di bibir tebing. Saya ngga berani  
melihat, pandangan saya alihkan ke kanan kiri sembari menggengam  
kursi menggumam doa. Penumpang yang lain bersikap sama, kecuali satu  
orang di belakang yang menikmati tidurnya sedari take off  di  
Kathmandu. Seat belt dikencangkan walau dari bentuknya saya sangsi  
bisa menyelamatkan saya. Deru pesawat makin kencang membuat saya  
menyesali kenapa ngga minta kapas penutup telinga.

Begitu menyentuh aspal, saya lega. Twin Otter sedikit berguncang  
hingga stabil menuju sudut parkiran yang hanya bisa menanmpung empat  
pesawat. Dua orang kawan penumpang dari Jerman bertepuk tangan  
sembari membilang, "What a skill". Meski pucat, saya setuju sepenuhnya.




Berita lengkap:  Everest plane crash kills 18, including German and  
Australian tourists di Times Online http://tinyurl.com/4zpamm

Buku Lonely Planet Trekking in Nepal Himalaya 8th Edition oleh Stan  
Armington $13.59

Airlines yang melayani Kathmandu-Lukla
Royal Nepal Airlines http://www.royalnepal-airlines.com
Yeti Airlines http://www.yetiairlines.com/
Agni Air (frekuensinya jarang)

Harga tiket one way Kathmandu-Lukla US$92 (beli lewat agen di  
Kathmandu).



Salam,

Ambar Briastuti
www.ceritaambar.com | ym : ambar_briastuti | Adventures. Backpacking.  
Photography.




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke