Sebagian besar manusia Swiss mengenal gunungnya. Maklum, dua pertiga negeri ini 
dikuasai pegunungan Alpen, menjalar dari utara ke selatan, lewat timur melipir 
ke barat. Jangan kaget jika berkunjung ke Swiss, jalan rayanya berliku-liku, 
naik turun dan keluar masuk menembus terowongan.

Begitu juga kami. Meski saya terbiasa dengan kemalasan ala Jakarta – 
kemana-mana naik mobil – setelah menetap di Swiss, dilatih selama lima tahun, 
akhirnya terbiasa juga menghadapi lembah, bukit dan gunung di Swiss. Angela, 
jangan ditanya soal menaklukkan punggung Alpen ini. Bukan ia wanita perkasa, 
tapi lebih karena terbiasa.

Maka, begitulah. Ketika kami ancang-ancang akan liburan „ringan“ selama sepekan 
ke Obersaxen, Swiss Tenggara, soal kekuatan kaki ini, sudah teruji. Juga, 
menyetir mobil di antara kelok-kelok tubir jurang Alpen, sudah tak masalah. 
Kekhawatiran cuma satu : akankah Hannah mau menggerakkan kakinya di antara 
lembah Alpen di Obersaxen itu. Ia memang made in Switzerland, namun masih 
kecil, belum genap empat tahun. Sementara lembah Obersaxen nan begitu indah 
itu, bisa puluhan kilometer jauhnya. „Kan papinya akan menggendong kalau dia 
capek ya,“ kata Angela.

Sebenarnya kami manusia plannungs freak, sebagaimana tipikal mental Eropa. 
Namun tetap saja ada yang tak sempurna. Apalagi, saya harus kerja hingga jam 
tiga pagi, sehari sebelum harus menyetir tiga jaman ke Obersaxen. „Aku lupa 
bawa dot untuk Hannah,“ keluh istriku. Lupa-lupa yang lain akhirnya menyusul, 
teringat selama perjalanan yang menyenangkan itu. Tapi, sudahlah, bukan 
persoalan rumit. Tak ada dot, ia juga sudah biasa minum dari gelas. Tak apa apa 
kok Manchester United tanpa David Beckham.

Kami sengaja menembus jalan biasa, bukan jalan tol. Bosan memandang aspal 
melulu selama dua setengah jam kan. Jadi, alon alon waton kelakon, toh 
kecepatan juga bisa sampai 80 kilo meter per jam untuk jalan luar desa. 
Selebihnya ya, kalau nggak 50 km per jam, ya sampai ke 60 km per jam. Di antara 
musim semi yang sempurna, perjalanan bermobil ini menentramkan hati. 
Satu-satunya gangguan : kadang-kadang melintas di kepala ini, wajah si muka 
pucat, nyai roro kidulku itu. Selebihnya keindahan khas Swiss : rumah kayu, 
padang rumput, dan ketenangan air telaga.

Sebenarnya saya ingin sesekali berhenti, paling tidak ketika ladang raps, yang 
bunganya menguning, membentuk keindahan yang luar biasa itu. Tapi entahlah, 
tertunda-tunda terus, hingga akhirnya tak sempat saya abadikan dengan nikon 
ini. Kenangan landskap indah itu akhirnya hanya bisa saya rekam dengan mata.

Obersaxen, tepatnya kampung Valata, bukanlah tempat tetirah nan baru. Ini 
kunjungan saya ketiga kalinya, Hannah untuk yang kedua kalinya, sementara bagi 
Angela tak terhitung sudah yang keberapa. „Sejak kecil sudah diajak kemari,“ 
katanya. Keluarga besar kami memang memiliki satu apartemen di kawasan ini. 
Paling tidak, jika natal tiba, anak beranak Kaufmann itu akan merayakan tahun 
baru di gunung ini. Pia paling suka mengumpulkan anak anaknya. Saya biasanya 
menurut saja. Toh enak juga, tak harus menjaga Hannah namun bisa makan 
sepuasnya, menikmati keindahan tanpa gangguan.

Kunjungan pertama saya ke Obersaxen ketika kami masih sebagai pengantin baru. 
Saya mengeluh karena diajak jalan jalan panjang ke bukit-bukit itu, di antara 
bunga krokus yang mulai mekar dan salju yang meleleh. Kaki made in Jakarta ini 
seperti terbuat dari gelas, gampang ngilu dan khawatir retak ketika menyusuri 
jalan setapak itu. Saat itu musim salju mulai berhenti, dan musim semi belum 
juga sampai. Obersaxen seperti kawasan jin buang anak. Resto tutup, ke 
supermarket terdekat mesti jalan kaki atau naik bus tiga kilometer jauhnya.
Kunjungan kedua mulai menggairahkan, karena saya mulai belajar main ski, olah 
raga yang jarang dikuasai manusia tropis. Meski tak piawai amat, toh saya bisa 
meliuk di antara salju yang lembut itu, tanpa kaki patah. Dan kegairahan 
mengunjungi Obersaxen meletup kembali di dada ini.

Kunjungan ketiga pas musim semi tiba, sebulan silam. Indah, sangat sangat 
indah. Bunga gigi singa mekar di antara padang rumput, langit biru cerah dan 
cuaca sangat memanjakan pengunjungnya. Tak perlu panjang lebar saya tuliskan 
keindahan Obersaxen ini, lihat saja foto – foto dalam lampiran ini. Dan yang 
penting, Hannah untuk pertama kalinya, merelakan kaki kecilnya melewati hutan, 
sungai kecil dan tentu saja padang rumput sejauh 5 kilo meter. Anak semungil 
itu, oh anakku yang sudah mulai terbiasa melatih kakinya. Kami ciumi si kecil 
itu begitu tiba di desa Affeier. Saya sampai mbrebes mili menyaksikan 
kekuatannya. Saya tulis sms untuk kerabat di Jakarta : „Hannah jalan kaki lima 
kilo meter hari ini, selamat tinggal kaki Jakarta yang terbuat dari gelas.“


      

Kirim email ke