Aci, udah sejak dulu Borobudur dibedakan antara turis lokal dan asing. Maksudnya baik, yakni narik upeti (he he he fees maksude) demi salah satu Warisan Dunia kita. Di satu sisi saya sebenarnya setuju pake sistem two tier begini untuk alasan maintenance, tapi sebel juga kalau pas backpackeran diluar Indonesia dan ditarik beda dengan lokal. Masih ngerasa miskin soalnya.
DIbandingkan Angkor yang sehari pass aja US$20, tiket Borobudur malah setengahnya. Jadi kayaknya komunikasi problem. Harusnya dimohon lebih simpatik walaupun itu pada turis lokal. Yah pegawai di lapangan masih pake anggepan klo bule adalah raja. Mungkin keluhan bisa disampaikan lewat sini : * CENTRAL JAVA PROVINCIAL CULTURE & TOURISM OFFICE* Jl. Pemuda 136 Phone : +62-24-3546001 Fax : +62-24-3546001 Semarang Central Java - Indonesia Email : * tourism at central-java-tourism.com<[EMAIL PROTECTED]> * 2008/11/3 Maitreya Kasih <[EMAIL PROTECTED]> > > Mohon informasinya, apakah memang seperti ini perkembangan wisata di > borobudur sekarang? Benar2 harus dibenahi, jangan sampai ada oknum2 yang > memanfaatkan situasi utk mendapatkan keuntungan dari turis2 asing yang > datang ke borobudur. > > Ada yang punya contact person yang menangani keluhan/saran utk kompleks > wisata candi borobudur? > > Terima kasih > > Aci > > [Non-text portions of this message have been removed]
