Temans, Kalo birokrat pariwisata ditanya, apa yang jadi asset industri pariwisata?
Kemungkinan jawabannya adalah: keunikan objek: candi, fenomena alam, budaya, dll...yang cuma ada satu2-nya di indonesia...(which is partialy true) ...tapi tanpa pengunjung, obyek yang unik cuma akan teronggok menjadi obyek yang unik, tanpa bisa jadi potensial pendapatan dari industri wisata. So, yang jadi asset pariwisata sebenarnya adalah wisatawan yang datang. Jadi kalo ngomong tentang menjaga asset pariwisata, yang mestinya dijaga ya wisatawan yang datang, jangan sampai 'dilukai' fisik dan emosinya. SIngapur dan malaysia sudah membuktikan, dengan obyek yang 'gitu aja' bisa mengundang wisatawan segitu banyak... kata pak Rheinald, mungkin butuh 'recode your change DNA'... weleh-weleh... orang pintar tentu tak sampai masuk angin, pak.... :) tabik, puguh --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Soal perbedaan harga, saya tidak terlalu keberatan, foreigner itu juga > saya yakin tidak terlalu keberatan, mengingat nilai tukar rupiah masih > rendah dibandingkan dengan uang mereka. Masalahnya saya pikir lebih > kepada, bagaimana caranya, tips and trick buat si petugas ini untuk > membedakan antara wisdom dan wisman ? Apa sebatas dari penampilan saja, > atau dari bahasa yang dipakai ? Atau dari warna kulit ? Atau dari apa ??? >
