Tanjung putting 2.. Perjalanan di Taman nasional tanjung putting sungguh2 menakjubkan, kami sempat ketemu juga dengan beberapa pemburu kura-kura dan rusa di kawasan taman nasional ini, setelah kami tanyakan kenapa berburu di kawasan yang dilarang oleh pemerintah, mereka menjawab " bahwa meraka tidak tahu dimana batas kawasan yang dilarang dan dimana batas yang tidak dilarang", malah menurut pak anda, salah seorang penunjuk jalan mengatakan, bahwa daerah tanjung puting ini juga telah dimasuki oleh para perambahan kayu atau istilah krennya oleh pemerintah disebut para "illegal logging".
Di hari ke4 perjalanan ini terbukti, karena kami menemukan jalan rel dari kayu dan sebuah camp yang beratapkan terpal warna biru, dan ada beberapa para penebang alias "logger' duduk-duduk dalam camp mereka. Karena kebetulan kami juga butuh istirahat, maka kami dipersilahkan untuk numpang nginap di camp para logger ini. Aku merasa miris betul-betul dengan kehidupan para penebangn kayu liar ini, kalo pemerintah mencap mereka,sebagai pengrusak hutan, emang iya tapi dari padanganku mereka ini hanya mencari sesuap makan. Dan celakanya yang melakukan perambahan di dalam kawasan ini adalah orang-orang dari jawa, kebanyakan dari jawa timur. Camp ini bisa disebut "pondok" oleh mereka, dengan beralasakan kayu kecil2 yang di buat seperti papan, dan dilapisi dengan kulit kayu meranti, dan di setiap sudutnya ada kasur gulung yang banyak djual orang dipasar, dan kelambu warna warni untuk menjaga supaya tidak kenyamukan kalo tidur malam hari. Salah seorng logger yang bernama "sugiono" mengatakan kepada ku bahwa mereka terpaksa masuk kedalam hutan ini karena tidak ada lagi pekerjaan, susah dapat kerja mas," ujarnya. Malah menurut sugiono yang juga merangkap sebagai ketua rombongan para penebangn ini mengatakan malah ada yang membawa keluarga (anak dan isteri) dari jawa yang ikut ke dalam hutan ini, kalo ditinggal di tempat siapa mas, karena kami datang juga ngga ada saudara di Kalimantan, jadi terpaksa deh dibawa masuk kedalam hutan juga. Pada saat masuk kawasan semangatku sudah 45, dink jadi turun lagi, bukan satwa2 liar yang kami temui tapi para penebang liar yang ada di dalam kawasan, dan sedih juga aku melihat pohon2 bergelimpangan dan terpotong2 dibuat oleh para logger ini. Jadi selama 3 hari lagi perjalanan kami hanya mengikuti rel para logger saja untuk sampai di tujuan, sebelum kami masuk pada kampung pertama di tanjung puting bagian barat, yaitu desa Teluk Pulai. Salam harry _____ From: Humphry Sinyal [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: 21 Nopember 2008 11:55 To: Harry Gunawan Subject: Bls: [indobackpacker] BORNEO Adventure (serie. Tanjung Puting) Mohon Infonya dong ada jalur untuk waisata air nngak disana trims Salam IBP _____ Dari: Harry Gunawan <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: indobackpacker <[email protected]> Terkirim: Jumat, 21 November, 2008 10:53:17 Topik: RE: [indobackpacker] BORNEO Adventure (serie. Tanjung Puting) Ini bagian lain dari perjalanan kelana 2 diriku di pulau Kalimantan, di Taman Nasional Tanjung Putting di Kalimantan Tengah. Taman Nasional Tanjung Putting. Kalo mo apa yang paling dikenal oleh orang bule tentang Kalimantan Tengah, pastinya jawabanya adalah "tanjung putting", yang merupakan rumah orangutan terakhir di Dunia, katanya. Perjalanku kali ini adalah perjalanan membelah taman nasional tanjung putting dari bagian timur ke bagian barat. Tanjung putting sendiri merupakan kawasan Taman Nasional yang memiliki spesies endemic berupa "orangutan" atau Kahiu orang dayak menyebutnya. Awalnya nama tanjung putting sendiri ada beberapa versi, dari orang tua-tua di kampong yang aku tanyai, Tanjung Putting karena areal/wilayah ini memang berada di sebuah tanjung yang berupa/mirip ujung ato putting (bhs.banjar/ melayu), sedangkan dari versi yang lain karena sejak dahulu emang namanya udah segitu. Sejarah Tanjung Putting sendiri sebagai kawasan lindung orangutan, sejak tahun 1970, dimana ada seorang peneliti dari bule (kanada) yang bernama Birute Galdikas, yang merupakan salah satu dari 4 wanita peneliti terkenal dunia untuk kera besar. Birute ini adalah murid dari Profesor Leaky, dan untuk mengenang sang professor yang terkenal ini, maka disalah satu kawasan tanjung putting ini di berinama dengan nama sang professor. Dan sampai saat ini sang peneliti sudah menjadi professor juga dan terkenal dengan sebutan professor Birutte dan tinggal di salah satu kota di Kalimantan Tengah yaitu kota Pangkalanbun, di salah satu daerah yang bernama Desa Pasir Panjang yang merupakan desa komunitas Dayak. Mungkin ini gambaran umum tentang tanjung Putting. Kembali ke perjalananku sendiri, bersama dengan teman dari palangkaraya aku menuju Tanjung Putting, tapi tujuanku bukan ke kota pangkalanbun tapi kota Sampit, sempat terkenal karena ada prestiwa berdarah pada tahun 2001, dengan sebutan tragedy "SAMPIT BERDARAH", yaitu perkelahian antara suku Dayak dan suku Madura yang banyak memakan korban jiwa. Dari Palangkaraya menuju sampit ini bisa menggunakan jalan darat, dengan waktu tempuh kurang lebih 3,5 jam perjalanan menggunakan mobil. Untuk harga sekitar 75-100 rebu per orang. Sepanjang perjalanan emang kita bisa nemuin beberapa kampong suku dayak seperti kota kasongan, ini adalah salah satu komunitas dayak yang berada di tepi DAS Katingan. Dan pada bulan September - desember biasanya di Kasongan ini pada musim buah duren, dan untuk Kalimantan tengah sangat terkenal sekali buah duren dari Kasongan ini. Selain itu kita juga bisa melihat, perkampungan para penambang emas di daerah Kereng Pangi, dan istilah masyarakat setempat ini adalah daerah " TEXAS" kalteng, karena disini semua hal ada, ada judi, prostitusi, perampok, maling, pokoknya seperti "toserba". Apa yang ngga ada di daerah lain, di kota ini ada segala macam orang dan segala macam kelakukanan. Selain kota kereng pangi ini ada kota lain yang cukup mudah diingat, yaitu namanya "KOTA BESI". Pertama2 aku dengar dari sopir travel yang aku tumpangi, "ini kota yang paling kuat pa, di Kalimantan ini" sebab kotanya sekuat besi, dalam banyangan ku kota ini emang bangunanya atawa ada satu monument yang terbuat dari besi atawa kayu besi gitu, tapi ngga ada tuh. Dan kutanya kepada pak sopir, "kenapa kok kotanya di beri nama Kota Besi, mungkin dahulu ada tambang besi atawa ada kejadian yang berhubungan dengan besi", tapi menurut beliau " mungkin juga", allah wualam. Dari kota besi ini ke Sampit hanya butuh waktu 30 menit, dan kami menginap satu malam dikota sampit untuk, dan masih terlihat puing-puing sisa konflik berdarah antara dayak vs madura beberapa waktu yang lalu, dan ada beberap bangunan yang masih ada tulisanya " milik warga dayak" dengan warna kuning cat. Kota sampit sendiri cukup rame, dengan ada fasilitas yang cukup lengkap, ada Bandara yang penerbangan ke Surabaya dan Banjarmasin, dan juga ada Kapal laut dengan jurusan Surabaya dan Semarang, jadi klo emang untuk trasportasi. Perjalanan besok harinya kami lanjutkan ke Kuala Pembuang, sebuah kota yang berada di muara sungai Seruyan, dan sudah berbatasan dengan tanjung putting. Perjalanan ini butuh waktu 5 jam, karena kondisi jalan yang tidak bagus, penuh lumpur dan banjir. Jadi kami kadang-kadang harus turun untuk ikut mendorong mobil dan berjalan dengan mengangkat celana dan sepatu untuk pindah ke sebrang nungguin mobil naik ke rakit melewati banjir. Tapi akhirnya kami sampai juga, tapi matahari sudah bulai turun, dan menggunkan feri kami menuju kota Kuala Pembuang. Menurut cerita salah satu penghuni hotel yang aku ajak ngobrol tentang asal usul nama kota Kuala pembuang, katanya dahulu eang banyak orang buangan di zaman belanda yang menetap di daerah ini, termasuk juga para pendatang dari makasar/bugis singgah dan selanjutnya menetap. Hari ke 3 aku mulai menyelusuri sungai Seruyan untuk menuju kawasan tanjung putting, desa yang menjadi tujuan utama kami adalah desa JAHITAN, desa ini udah berdiri kuranglebih 50 tahun yang lalu, dan komunitas di kampong ini udah bercampur bukan ada dayak, banjar, jawa dan juga orang bugis. Dan kampong ini hanya 10 kilometer sudah masuk dalam zona inti tanjung putting. Dengan ditemani oleh penduduk lokal kali nyiapin perlengkapan dan peralatan perjalan untuk menembus jantung taman nasional ini. Jalur yang kami pilih adalah melewati sungai dengan di antar oleh penduduk dengan menggunakan perahu klotok/getek melewati sungai Segintung. Sungai segintung merupakan anak sungai di DAS Seruyan yang langsung menuju jantung taman nasional. Perjalan menuju tanjung puting menggunakan perahu getek, dan sesekali kami berpapasan dengan Bekantan, salah satu satwa penghuni tanaman nasional ini, atau yang dikenal masyarakat "monyet belanda" karena bulunya warna kuning ke emasan dengan hidung yang besar dan mancung, dan beberap kali kami harus mematikan mesin getek karena untuk melihat dari dekat beberap orang utan yang sedang sarapan pagi di puncak pohon, di dekat tepi sungai. Dan aku langsung pasang posisi dengan kamera untuk abadikan moment, karena jarang2 lho bisa memphoto langsung satwa liar, kalo yang jinak atawa di kebun binatang udah sering benaran, jadi yang ini emang terasa lain banget ada rasa senang, bangga dan campur aduk deh....yang jelas suprise banget bisa liat orang utan di habitat aslinya dan bisa mepoto lagi. 5 jam perjalanan dengan getek ini tidak terasa, karena banyaknya hal2 eksotik dan menajubkan yang aku temukan, malah kadang2 kami harus angkat geteknya karena banyaknya kayu yang tumbang di sungai dan kadang2 kami harus tiarap di dalam getek karena melewati sulur-sulur akar kayu yang melintasi sungai. Airnya juga warnanya merah dan item, karena pengaruh gambut. Menjelang sore kami sampai di ujung sungai segintung, dan kami harus melakukan perjalanan dengan jalan kami melewati lautan pasir yang kurang lebih 5 kilometer. Lautan Pasir ini disebut oleh orang lokal dengan istilah "padang", jadi kami akrab dengan sebutan padang pasir. Kurang lebih 30 menit perjalanan melewati padang pasir ini, ternyata ada danau ditengah2nya, dan kami berkesempatan untuk istirahan melihat burung2 air, dan banyak juga yang kami jumpai jenis bangau, dan ada beberap jejak seperti rusa, kancil dan kucing hutan ditepi danau kecil ini, mungkin mereka butuh minum juga. Dan kami sepakat untuk mendirikan tenda dan menginap karena mata hari sudah mulai turun ke barat. (akan saya ceritain selanjutnya, dalam perjalnan lintas taman nasional tanjung puting) Wasalam harry _____ From: Kang Giman [mailto:[EMAIL PROTECTED] <mailto:gimana_aja%40yahoo.co.id> co.id] Sent: 20 Nopember 2008 18:44 To: 'indobackpacker' ; Harry Gunawan Subject: Re: [indobackpacker] BORNEO Adventure Mbak Tracy ' NAKED TRAVELER " mendokumentasikan pengalaman nya dalam sebuah Blog, dan alhamdulillah ada yang tertarik dan mencuba membukukannya walu sempat di baned karena mengisahkan sebuah pantai nudis dan dia juga melakukan nya, suatu hal yang belum pernah di lakuaknya di indonesia dan buah dari tulisan itu dia harus menarik bukunya, tapi saat ini telah terbit edisi keduanya, saya juga belum pernah ketemu langsung paling cuman kirim pesan di FS nya melihat e-mail di bawah seperti nya kang heri juga suka menulis, atau malah udah punya Blog regard Kang Giman ----- Original Message ----- From: Harry <mailto:harry_gunawan@ <mailto:harry_gunawan%40telapak.org> telapak.org> Gunawan To: 'indobackpacker' <mailto:indobackpacker@ yahoogroups. <mailto:indobackpacker%40yahoogroups.com> com> Sent: Thursday, November 20, 2008 4:02 PM Subject: [indobackpacker] BORNEO Adventure Ini pengalaman 2 tahun yang lalu, Karena ini adalah bagian kerjaan dari kantorku, maka aku di tugaskan untuk melakukan pembuatan filem di sebuah komunitas adat di disalah satu pulau di Indonesia, yaitu Borneo alias Kalimantan. Tujuanku adalah mendokumentasikan aktivitas sebuah komunitas adat di Jantung Boerneo dalam pengelolan hasil hutan non kayunya, yaitu MADU LEBAH di alam. Perjalanan ini aku membawa salah seorang filem maker dari Bogor dan ada 2 orang pemandu local dari pontianak. Tujuan kami adalah Danau Sentarum, sebuah danau rawa yang amat luas. Perjalanan Dari pontianak menuju Danau Sentarum ini memakan waktu 24 jam, ini kalo tidak dalam keadaan hujan, karena jalan yang dilalui adalah jalan logging perusahan kayu dan Perkebunan sawit. Selama perjalan dari pontianak kita akan melewati kabupaten Sintang, dan dilanjutkan kabupaten Kapuas Hulu. Satu-satunya trasportasi menuju lokasi ini adalah naik Bus, tidak ada alternative angkutan lain, kalo pun ada hanya pesawat, tapi harus ke Putusibbau dahulu baru naik bis lagi menuju Danau Sentarum ini. Memang sih lebih dekat, tapi mengenai cost 2-3 kali lipat ongkos naik bis. Jadi pilihan kami adalah alternative pertama, naik bus dan juga karena ada banyak bawa peralatan berupa kamera video, dan perangkat pembuat filem, jadi pilihanya adalah naik bus tapi bayar 3 kursi untuk peralatan kami. Karena aku baru pertama kali ke Pontianak, dan salah seorang temanku nyeletuk. "senangnya kalo ke pontianak itu, senang bisa liat orang cina miskin" awalnya aku sih ngga nanggapi, tapi selama perjalanan menuju lokasi, aku banyak melihat orang2 cina peranakan yang jualan pisang goreng, jadi pengamaen. Baru aku ngeh dengan gurauan temanku itu. Emang orang cina itu di konotasikan dengan orang kaya. Ternyata perjalan ini sangat menarik perhatianku, karena sepanjang jalan banyak sekali orang jualan buah2han, ada duku ponti, dan yang paling terkenal adalah jeruknya. Karena Kalbar terkenal dengan jeruk pontianaknya. Kami berangkat jam 7 pagi, dan sampai di ujung aspal terakhir sebelum memasuki jalan logging, kami berhenti dahulu untuk memgisi bensin dan makan siang, tapi sebetulnya itu sekaligus makan malam, karena nantinya kami tidak akan bertemu lagi dengan kampung dan hanya bertemu dengan hutan dan kebun sawit tok. Ternyata di warung makan ini, kami banyak bertemu dengan TKW yang juga ada yang mau ke Malaysia (Serawak) dan ada yang baru datang, mo balik kampung gitu ceritanya. Dan kita kaya berada di negara tetangga, karena bahas yang di pake udah logat2 malaysia gitu. Dan cewek2 juga amoy-amoy istilah orang ponti terhadap para cewe-cewe cina yang masih bujang atao perawan. Pagi jam 8.00 wit, kami sampai di kampung terakhir dari yang menjadi tujuan kami, setelah itu kami akan naik perahu lagi untuk sampai ke Danau Sentarum lokasi dimana kami akan memulai pembuatan filem, dan kampung ini ke danau sentarum kira-kira 6 jam menggunkan perahu klotok, tapi yang kami sewa ini adalah jenis perahu klotok yang memiliki kelengkapan cukup mewah, ada tempat tidur berupa kasur, kamr mandi, dapur untuk masak dan ada radio panggilnya juga. Menurut pak Janggut masinis perahu ini, dahulu perahu ini adalah milik para peneliti orang bule yang meneliti tentang ekositem danau sentarum yang unik, karena kontraknya habis, maka perahu ini dia hibahkan untuk masyarakat dan kalo ada turis atawa teman2 wartawan atau jurnalis bisa menggunkan perahu ini untuk melakukan promosi danau sentarum. Perahu klotok ini kalo dalam bahasa lokal adalah perahu Bandung. Asal nama Perahu BANDUNG ini, adalah pemberian orang-orang dayak, karena dahulu yang sering membawa perahu ini adalah orang2 dari Bandung untuk jualan pakaian, jamu dan barang epcah belah sepanjang sungai Kapuas, semacam toko berjalan gitu. Karena mayoritas masyarakat dayak berada di tepi sungai dan hulu-hulu sungai, jadi alat trasportasi yang paling ideal dan efesien adalah menggunkan perahu klotok ini, kalo di kalimantan. Alat trasportasi favorit selian getek. Perjalan menggunakan perahu Bandung ini, ternyata memiliki sensasi yang sangat berbeda dan sangat mengasikan, terus terang selama seminggu hidup nomaden dnegan perahu lagi, kaya seperti salah satu suku di thailand sono, kalo ngga salah. Ada ulasannya di nasional gegorafi edisinya aku lupa. Dari pagi, malam sampai pagi lagi kami berada di dalam perahu dan kami tidak pernah menemukan daratan, karena rumah ato kampung penduduk juga berada di atas air, pokoknya dunia yang berbedalah. Sepanjang sungai yang kami lewati, warna airnya berubah-rubah, kadang-kadang warnanya kaya aer susu dan kadang-kadang kaya coca cola, dan ada beberapa wilayah yang airnya item pekat benar, sampai-sampai kalo kita celupin tanagn atawa kaki ngga kelihatnya, menurut pak Janggut sopir klotok ini, itu karena air di danau ini dari GAMBUT. Semacam zat yang dikeluarkan oleh tumbuh2 rawa dan akar-akaran yang ada di dalam danau sehingga menyebabkan air berubah warna menjadi merah agak keitem-iteman. Kampung yang kami tuju adalah Desa LABOYAN, desa ditepi danau dan berada di atas air, dan penduduk disisni selain pencahari Madu lebah juga memelihara ikan gabus dalam bentuk keramba-keramba di depan maupun di dalam rumah mereka, karena dia atas air jadi kalo mo cebok, mandi, atawa cuci tangan klo mo makan tinggal celupin aja kebawah rumah udah deh, byuur..byuur. ..tiada hari tanpa air. Hari 3 kami bersama dengan beberapa masyarakat suku dayak di desa Laboyan, mulai mempersiapkan alat2 untuk panen lebah di tengah danau, dengan menggunkan perahu kecil (getek) kami melunjur membelah danau dan meliuk-liuk diantara celah-celah pohon, pokoknya kaya balapan mobil F one gtu, pengalaman yang tak pernah terlupakan. Sampai di sasaran kami semuanya harus nyebur, karena emang ngga ada tanah, dan menurut kepala suku yang bareng satu perahu ama aku, nanti kalo emang di serbu lebah, " nyelam aja pak", waduh..dalam bayanganku gawat juga nih, syukur2 klo cuman sebentar klo lama, berabe deh. Peralatan yang pertaman aku abwa dalah baju tebal dengan jaket di kancing penuh, dan menggunkan helem motor kaya orang mo balapan dan didepannya di pasang jaring supaya ngga kena senga lebah. Hampir 2 jam kami panen lebah, dengan menggunkan asap darikulit kayu yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh masyarakat, akhirnya beberapa kali juga diriku di sengat lebah, tp dalam pikiranku ini pengalam sangat berharga sekali, dan kalo teringat bagaimana susah dan sangat berbahayanya orang mengambil madu, pasti kita tidak tega klo orang jual madu kita tawar2, karena resikonya mungkin klo kita diserang lebah tidak sesuai dengan harga madu yang kita beli. Ini menjadi pengalaman diriku dan menajdikan aku sadar, bahwa hidup sebagai pencahari madu itu sangat -sangat berbahaya. Mungkin ini salah satu pengalam diriku dalam menyelusuri slah satu kekayaan alam Indonesia tercinta ini, dan masih banyak lagi hal2 menarik, yang mestinya kita banggakan kepada dunia, bahwa Indonesia itu memiliki keunikan dan keanekaragaman yang besar. Salam Harry _____ From: Kang Giman [mailto:gimana_ [EMAIL PROTECTED] <mailto:gimana_ aja%40yahoo. co.id> co.id] Sent: 20 Nopember 2008 12:40 To: 'indobackpacker' ; Harry Gunawan Subject: Re: [indobackpacker] Alam Liar papua Thanks for sharing, Mendengar Papua dan Raja Ampat, mengingatkan aku pada email di milis sebelah, dimana atas sebuag usaha dari 1 orang berkebangsaan belanda, dan 1 orang berkebangsaan jerman untuk memperkenalkan raja 4 ke dunia luar, sehingga raja 4 mejadi cukup terkenal dan sempat mendapat award juga bantuan dari bank dunia, dan kalau tidak salah juga pernah di ulas di elshinta TV
