Temans,

Setelah dua hari keliling2 Pantai Selatan Gunung Kidul, kaget juga karena 
banyak sekali perubahan yang dirasakan. Entah karena terakhir ke sana sudah 
lewat dari 6 tahun lalu atau memang pembangunan lagi giat2 digeber yang jelas 
bagi saya banyak perubahan yang terasa.

Pertama singgah ke Pantai Wediombo di Jepitu, tidak banyak yang berubah. Tempat 
parkirannya sudah jadi. Musholla sedang dibangun, ada bangunan tingkat warna 
pink, entah untuk penjaga pantai atau malah losmen yang tidak digunakan. 
Pantainya pasir putih, masih bersih dengan karang2 lava andesit di pinggirnya. 
Siang itu ada sekitar 8 perahu nelayan di sisi utara (pantai menghadap barat), 
sepertinya tidak banyak nelayan yang singgah disitu. Wediombo asik untuk 
kemping, mancing atau bersepi2.

Dari Wediombo, menuju ke barat, menyempatkan diri ke Pantai Siung. Selain belum 
pernah ke sana, penasaran juga tampangnya seperti apa karena Siung terkenal 
dengan tebing vertikal yang menantang, direkomendasikan para pemanjat. Tebing 
Siung ini katanya mengalahkan Parangendog dekat Parangtritis. Jalanan ke Siung 
lumayan baik, tapi seperti tipikal daerah situ, sempit, belak-belok, ngk ada 
marka dan pandangan terhalang tebing serta tanaman. Harus ekstra hati2. Tiba di 
pantainya, kecewa juga karena ga bagus2 amat. Karang2 plus rumput laut menutup 
pantainya, di pinggir banyak bongkah batu segede rumah berserakan. Di sebelah 
kanan ada petunjuk 'to cliff' tp tebingnya ngk keliatan. Yah, sepertinya Siung 
ini cocok untuk manjat2 aja.

Dari Siung, terus ke barat menuju Sundak. Dulu Sundak ini begitu indah. 
Pantainya pasir putih bersih memanjang, di tepinya pepohonan cemara dan kelapa, 
teduh dan damai rasanya. Ternyata sekarang pantainya sudah dihuni puluhan rumah 
dan warung, jadi tidak nyaman. Dahulu jalan masuk menuju ke Sundak adalah dari 
barat, sekarang di timurnya bisa juga diakses namun ya itu sudah tidak seindah 
dulu, rame. Kalau bagian baratnya sepertinya tetap sama hanya lebih banyak 
bangunan saja. Kami batal kemping di sini karena kecewa, plus kawatir 
kekurangan air bersih.

Pantai Krakal kami lewati, dan di perbatasan Sundak-Krakal bergidik juga liat 
bangunan hotel Krakal Indah yang terlantar. Konsepnya bungalow mengelilingi 
kolam renang kecil. Pantas aja sepi, sapa yang mau berenang di pinggir jalan. 
Sekarang, bungalownya pada ambruk2, rumput tinggi2, kolam renangnya tinggal bak 
kering dikelilingi semak2. Kayaknya horor kalau malam, he. Tapi di baratnya, 
banyak bangunan hotel yang disewakan. Hanya ngk tau airnya ada apa tidak.

Karena sudah sore, kami lewati Drini dan Kukup langsung ke Baron. Kalo Baron 
tidak banyak berubah, tetap seperti itu teluknya hanya beberapa tebing runtuh 
dihajar gempa kuat Jogja bbrp tahun silam. Naik di tebing kiri atas, ada mercu 
suar berdiri. Materialnya besi, kayak menara BTS. Tinggi kira2 80 meter lebih. 
Terbuka, jadi kalo ada nyali silakan naik mpe atas. Sepertinya instalasi air 
bersih dari sungai bawah tanah sudah ada, tampak dari bangunan dan pipa 
distribusinya. Buat yang belum tahu, Baron adalah muara sungai bawah tanah 
sehingga air tawar melimpah. Saya pernah melihat citra Landsat IR di Baron pada 
pagi hari, tampak jelas batas antara air sungai yang dingin dengan air laut 
yang hangat bertemu di luar teluknya. Kami kemping di sini karena air bersih 
banyak, ada TPI shg bakar ikan tidak masalah. Sehabis liat sunset, sudah agak 
gelap kami dirikan tenda. Yang masalah adalah lokasi tenda, bisa di pinggir 
pantai dekat tebing tp sdh hampir penuh bangunan, klo di tebing atas tidak ada 
tempat rata-apalagi batunya gamping rongga runcing2, kec mau nongkrong di 
warung yang tutup. Akhirnya tenda kami dirikan di tengah pasir. Orang2 di sana 
sdh biasa sama yang kemping, jadi saat malam tidak ada yg mengganggu sama 
sekali kecuali kucing, he. Paling pas ndirikan tenda saja ada dua mas2 nimbrung 
ngobrol. Oya, semua pantai di sana tidak boleh berenang, kalo basah2an di 
pinggir boleh aja. Terakhir korban 2 minggu lalu di sana dua orang, hilang di 
Kukup. Ketemu stlh 3 dan 8 hri dgn kondisi tubuh sudah 'protholan'. Pagi2, baru 
sadar kalo kami tidur di atas pasir penuh sampah. Pantai Baron memang bagus 
pemandangannya apalagi pas perahunya jejer2, tapi pantai hitamnya kuotor. 
Maklum perkampungan, pengunjung juga tidak tertib. Dari tebing kiri memandang 
deretan Kukup, Drini, Krakal sepertinya tidak berubah. Hanya bangunan gardu 
pandangn dan tangganya saja yang dicat jadi rapi dari kejauhan.

Capek di Baron, kami menuju Ngrenean. Dulu pernah sekali ke sana tetapi hujan 
jadi penasaran mengulang. Ngerenean persis seperti Baron, hanya teluknya lebih 
kecil. Ada TPI, perahunya lebih sedikit. Walau begitu, viewnya jauh lebih 
indah! Pas saat itu cuaca cerah sehabis mendung semalaman, naik ke tebing atas 
indah sekali menyaksikan view teluk membiru dan deretan perahu yang kembali 
dari lautan.

Habis dr Baron kami trus ke Panggang lalu masuk Jogja lewat Imogiri. Ada 
beberapa pantai kecil namun kami skip karena cuaca mulai tidak bersahabat. 
Sebelumnya sempat ke Ratu Boko yang ternyata apik. Hanya dari Kiara Pandang sdh 
tidak leluasa melihat Prambanan, Merapi dan Jogja karena kehalang pohon dan 
semak rimbun di tebing.



Salam

Kirim email ke