Kamis, 25 Desember 2008 Melaka KL by bus Pagi hari Natal, bangun dengan kepala masih berdentam lagu RnB, di sambut dengan celotehan kaw kaw burung gagak, ceriwit wit burung walet, dan bunyi deru mobil/motor warga Melaka yang baru bangun atau jangan2 baru tidur? Breakfast menunya masih sama, pagi ini ada bread pudding dan sisa brownies semalam. Check out jam 12, pesan taxi di resepsionis, dalam 10 menit kita sudah naik taxi full AC (RM15) ke Melaka Bus Sentral. Begitu sampai di kompleks terminal bus yang merangkap mall, kita tinggal mengikuti papan petunjuk ke terminal bus interstate untuk naik bus ke KL. Ada ibu2 teriak2 `KL berangkat sekarang', jadi kita beli tiket RM 26 total untuk 2 orang, dan naik ke bus Melor Express, dan dalam waktu setengah jam kita sudah on the way ke KL. Jam 3 sore kita sampai di terminal bus Puduraya KL yang macet total dan chaotic. Kita sudah diwanti-wanti oleh Puan Norma (kenek bus Melor) untuk naik taxi yang sedang melaju, jangan naik yang sedang tunggu karena akan lebih mahal. Okelah, kita stop taxi yang lewat, setelah tawar menawar (setengah hati, soalnya pengen buru2 cabut dari Puduraya yang penuh polusi asap bus dan ramai calo), kita sepakat harga borongan RM 20 ke Cititel Express, hotel kita di daerah Tuanku Abdul Rahman. Kita booking hotel ini online (RM 128 nett/room only), jadi waktu check in lancar, dalam waktu 5 menit kita sudah sampai di kamar 1303. Luas, bersih, dengan jendela yang menghadap ke jalan Tuanku Abd Rahman (TAR), kita bisa lihat KL monorail sliweran di bawah. Oh ya, lift di hotel ini dioperasikan dengan keycard, jadi jangan lupa kalau keluar kamar keycard orange manyala ini dibawa yah. Room kita di lantai 13, kamar 03. Ada meja setrikaan lengkap dengan setrikanya pas di depan kamar, bebas siapa saja boleh pakai, asal jangan dibawa masuk kamar.
Jalan2 di daerah TAR, ternyata banyak orang Indonesia. Kedengaran logat Jawa di mana2, banyak pengurup wang (money changer) yang memasang kurs 1 juta rupiah = RM300an. Juga berbagai agent perjalanan menawarkan tiket ke berbagai kota di Indonesia, dan ada layanan transfer uang langsung ke Bank BNI. Lagi asik jalan kaki arah ke Petronas Tower, hujan lebat turun, kita pun berteduh di food court Kampung Baru yang btw buka 24 jam. Pesan teh tarik dingin, eh aroma ikan bakar mengundang lapar perut, jadilah kita makan nasi campur yang self-service plus ikan kemboong bakar. Menu nasi campur segudang, ada ikan bilis masak pete, tumis kol, daging bumbu merah, telur goreng, sambal cincalok (nah lho ini sambal ajaib, ikan teri putih fermentasi yang kecut dicampur cabe rawit ssshhhegarr dan syedap) dan masih banyak lagi. Ambil nasi dan lauk sendiri, trus bawa ke meja, tunggu sebentar, ada cowok pake apron yang datang ke meja untuk menghitung harga makanan yang kita ambil. Tertulis di kertas kecil yang dia taruh di meja, total dua piring nasi dengan lauk segunung plus ikan bakar, RM 12.60. Tambah 3 es teh tarik RM 4.50, total RM 17.10. Enak tenan . Perut kenyang, kita balik ke hotel, terus rehat tuk malam ni . Oh ya di Cititel Express, kalau mau connect ke Wifi, mesti beli Internet access, RM 10 untuk satu jam, RM 20 untuk 24 jam. Yo wis beli yang 24 jam. Makanya saya masih online sampai jam 2 pagi, gak mau rugi dong! Jumat, 26 Desember 2008 Bangun siang (karena gak ada breakfast jadi nyantai aja), bikin kopi di kamar, sebel deh gak ada kopi tubruk, semuanya serba instant. Note to self: lain kali bawa kopi tubruk made in Indonesia... Online sebentar untuk cari tahu alamat tempat tujuan kita (Coliseum Café & Heritage Station), trus kita turun ke resepsionis minta peta KL. Kita sepakat untuk menyambangi Coliseum dulu. Café yang sudah berumur 86 tahun ini gak jauh dari hotel, tinggal keluar lobby, belok kiri, trus lurus aja, melewati puluhan toko2 tekstil, SOGO, hotel Tune milik AirAsia. Café Coliseum terletak di seberang Gedung KOMDAR. Buat kita yang doyan jalan kaki, jarak ke Cafe ini hitungannya masih dekat, tapi buat yang alergi sama trotoir, yah naik taxi lah... Haduh café ini jadoel abis, interiornya masih original serba kayu, tapi tampak kotor berdebu. Pelayannya juga antik, ada engkoh yang kurus kering badannya udah melengkung, kayaknya dia udah seumur hidup kerja di café ini Kita pesen baked crab meat dan fish n chips. Beres makan, kita pindah ke bar di ruang sebelah resto untuk melihat foto2 hitam putih yang terpajang di dinding. Terus lanjut lagi jalan kaki ke Heritage Station. Amboi, jauh juga jek! Mana cuaca lagi panas terik. Tapi sesampainya di stasiun kereta yang sudah berumur hampir 100 tahun dan bergaya Moor, segala capek dan keringat langsung lenyap. Stasiun ini luas sekali, ada hotel dan resto juga. Kita nylonong boy sampai ke platform (gak pake bayar lho), dan mata kita langsung terfokus pada rangka2 baja yang menjadi langit2 stasiun. Bersih, terang, sepi banget. Puas foto2 di platform, kita masuk kembali ke ruang tunggu. Eh, ada museum mini, menjelaskan sejarah perkeretapian Malaysia, lengkap dengan jam tua, signal tua, foto tua, lengkap deh! Ada kursi antik juga yang sedang dipakai seekor kucing untuk bobo buat para penggila kereta api, stasiun ini kudu di samperin. Kita pun nongkrong sebentar di resto untuk menghilangkan capek, sekalian sesi foto2 narsis di resto kuno ini. Hmmm kemana lagi yah? Kita pun back track ke Lake Gardens alias Taman Tasik. Di tempat ini ada museum Nasional, planetarium, musim polisi, musim kesenian Islam, taman kupu2, hah apa lagi yah, banyak deh. Kita pun jalan kaki naik bukit ke Taman Tasik. Clingak clinguk nyari entrance gak ketemu, akhirnya kita lompat masuk ke dalam taman luas ini dari pinggir jalan. Ada danau buatan, jogging track, taman herbal, taman bermain anak2, semuanya dinaungi pohon rindang dan berselimut rumput hijau Dan akibat kita main lompat masuk seenaknya ke Taman, kita pun muter2 nyasar nyari jalan keluar. Akhirnya ketemu tempat kita lompat masuk, manjat pagar dikit dan baliklah kita turun bukit sampai ke jalan raya. Gak kuat jalan kaki balik hotel, kita nyerah dan nyetop taxi. Tawar menawar,setuju harga RM 15 sampai ke TAR. Setelah keringatan jalan kaki muter2 di taman, ohh AC taxi ini serasa angin dari surga oh ya taxi di Malaysia pada ogah pake argo, hehehe mendingan Indonesia ke mana2 dong! Udah deh, tenaga udah abis, kita mandi dan bobo sejenak di kamar. Terus dinner di Kampung Baru lagi, kali ini makan kwee tiauw kerang goreng, mee goreng, nasi lemak, es teh tawar. Perut kenyang, lanjut bobo lagi Sabtu, 27 Desember 2008 Kerana esok kita akan berangkat ke Penang, pada pagi hari kita ke Hentian Puduraya dulu untuk membeli tiket bus. Dari hasi riset di internet, kita memutuskan hanya akan beli tiket dari company yang terpercaya, karena banyak laporan turis2 maupun orang lokal yang beli tiket dari calo dan tertipu karena a) beli tiket eksekutif tapi dapat bus yang ancur, b) katanya berangkat segera tetapi harus nunggu berjam-jam, c) sudah naik bus tapi kursinya sudah ada yang nempatin. Jadi hati2 yah, jangan beli tiket dari calo biar harga murah atau dibilang bus akan berangkat saat itu juga, hanya beli tiket di loket bus yang terpercaya. So langkah kaki kita tertuju ke loket bus Transnasional. Alamak, tiket ke Penang untuk hari Minggu sudah habis terjual. Putar punya putar, kita ketemu loket Konsortium. Antriannya lumayan panjang. Akhirnya dapat tiket ke Penang, berangkat jam 9.30 pagi, harga RM35 per orang (termasuk surcharge weekend), dapat kursi nomor 26 & 27. Hah hati tenang, kita pun makan makanan India di restoran Prittha, tak jauh dari Puduraya. Pelayan di resto ini gak bisa Inggris, Melayu apalagi mandarin, jadi kita pakai bahasa Tarzan emmmhhh enak tenan . garlic naan, nasi putih hangat, kembang kol goreng, telor dadar goreng bumbu jinten, semua disiram kari merah harum ketumbar...gak nyangka resto kumuh ini ternyata chef-nya yahud banget! Kenyang makan, kita naik Star LRT dari Plaza Rakyat di belakang Puduraya, dengan tujuan ke Bukit Bintang. Mirip2 busway, beli tiket sekali jalan di loket, masukin tiket ke slot, trus naik escalator ke platform. Semua tujuan tertulis jelas di dinding, gak mungkin salah naik kereta deh. Ganti kereta di Hang Tuah, kita naik KL Monorail ke Bukit Bintang. Seru juga naik monorail, buat yang takut ketinggian, jangan lihat ke bawah yah Pemandangan gedung2 bertingkat KL berbaur dengan cepat, dalam hitungan menit kita sudah sampai di stasiun Bukit Bintang. Dari atas platform sudah kelihatan belasan anak muda break-dancing, warming up untuk show pada malam harinya. Jalan2 ke Lot 10, window shopping dikit (halah lagi Malaysia Big Sale tapi kantong lagi cekak neh), terus lanjut jalan kaki menyusuri jalan Bukit Bintang ke arah Pavillion. Wakss .Bukit Bintang, pusat shopping mall di KL benar2 meriah pada malam Minggu. Banyak ABG bergaya punk-gothic nongkrong di trotoir. Baju item2, pake celak mata tebel, rambut cepak sebelah, Mohawk sebelah, panjang sebelah bersapu warna-wani pelangi. Ramee banget sampe bingung mau jalan sebelah mana, desak2an memenuhi trotoir di depan mall. Oh ya, kartu ATM BCA bisa narik duit ringgit di Maybank yang ber-sign board kuning. Sampai di Pavilion, kita foto2 di depan pohon natal raksasa. Haduh ini mall bener2 surga shopaholic. Berbagai merk international ada di sini, Marc Jacobs, DKNY, Calvin Klein, dan masih banyak lagi. Puas window shopping, kita turun ke basement. Ada food court guedue banget, segala makanan ada di sini. Padang, Penang, Ipoh, Jepang, Itali, Amerika, Singapura, apa lagi yah, pokoke banyak deh. Dari Pavilion kita balik ke stasiun monorail, melewati kerumunan anak muda yang jumlahnya makin banyak. Antrian panjang beli tiket monorail bikin keringatan bercucuran. Tiket tujuan Chow Kit harganya RM 1.60 per orang. Akhirnya setelah lelah ngantri tiket dan menunggu monorail dating, jam 11 malam kita sampai di hotel. Tidur dulu ah besok mau bangun pagi Minggu, 28 Desember 2008 KL-Penang by bus Naik taxi jam 9 pagi dari Citiel (RM10) ke Puduraya, 10 menit udah sampai. Supir taxi ternyata masih berdarah Indonesia, neneknya dari Magelang katanya. Ngobrol2 dikit tentang polisi di M'sia, kata pak sopir polis di sini bisa di sogok, tapi mesti lihat2 dulu, kalo sepi, baru dia mau terima duit hehehehe . Sampai di platform 4 tempat Konsortium bus berangkat, kita longok2 ke bawah tangga, ternyata busnya belum ada. Yo wis, daripada nunggu bus di bawah yang notabene penuh dengan asap bus yang bikin pusing, kita nunggu di atas aja. Jam 9.20 kita ngecek lagi ke bawah, ada bus warna hijau "Freebury" yang masih kosong, Tanya punya tanya, inilah bus kita ke Penang, walaupun warnanya bukan merah dan gak ada nama Konsortium, ini bus masih milik perusahaan yang sama jadi kita berasa aman, dan mulai naikin bagasi ke bus. Banyak turis yang pada kebingungan juga, dan kita pun jadi ikutan paranoid, double check, triple check, sampai kita bener2 yakin ini bus betul ke Penang. Tempat duduk nyaman, ada sandaran kaki, full AC, yo wis yang penting ke Penang deh, gak peduli apa nama busnya. Bus berangkat tepat pukul 9.47, kita adjust tempat duduk, terus molor pules sampai ngiler . Jam 12.00 berhenti untuk toilet break, lanjut lagi, jam 14.30 kita pun tiba di pulau Penang. First impression kita, ternyata pulau kecil ini udah modern abis yah, banyak bangunan tinggi menyambut kedatangan kita. Bus tiba di Sungai Nibong terminal, turunin bagasi, langsung naik taxi borongan RM 25 sampai ke Georgetown. Hotel kita di Penang adalah Hutton Lodge di jalan Hutton. Hotel banguan tua ini sebenarnya merangkap hostel juga, ada dormitory dengan shared bathroom, tapi kita pilih kamar double dengan bathroom di dalam, harga RM 100 nett termasuk surcharge peak season. Di depan hotel ada tempat parkir dengan pohon rindang, di seberang hotel ada restoran Nasi Kandar dan Tandoori House, bikin mata dan perut jadi laper Usai check in, kita langsung ke Chowrasta Market yang cuma berjarak beberapa menit jalan kaki. Bau pasar tua ini udah tercium beberapa meter sebelum kita sampai di sana .bau ikan asin jek .maklum ini pasar jualan segala macam, dari daging segar sampai souvenir Pada pagi hari di belakang bangunan Chowrasta ada pasar open air yang menjual sayur mayur segar, baju, sepatu, DVD, dan so pasti, makanan Langkah kita tertuju ke tingkat dua Chowrasta, yang katanya ada toko buku bekas. Letak toko2 buku bekas ini ada di ujung lantai dua. Buset deh, ribuan buku2 novel bahasa Inggris ada di sini, bertumpuk- tumpuk seperti menara Pisa. Tapi mahal2 jek, RM 17-35 per buku. Kita ngeborong 9 buku, total RM 81 jeezzz mahal juga yah, ini pun setelah tawar menawar. Puas dapat buku untuk bekal bacaan kita di Penang, kita nyari makan. Penang adalah surga bagi para foodies. Penangites (penduduk Penang) hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup! Di tiap sudut jalan, pasti ada hawker centre. Makanan yang di tawarkan bermacam2, bikin susah menentukan pilihan. Kita minum kopi ais (ice coffee milk n sugar) dan soup noodle pake ikan dan udang, total abis RM8. Murmer dan lazat nian . Jalan kaki sebentar untuk orientasi kota Georgetown, kita pun kebablasan sampai ke St. George Church. Ada segerombolan fotografer dengan kamera Nikon DSLR yang ber lensa tele panjang sibuk motret model2 cantik pakai cheong sam di di gazebo kecil di halaman St. George. Ternyata mereka adalah club Nikonian yang sedang traveling bikin kontes fotografi. Memang Georgetown patut dijadikan background foto2, banyak shophouse yang masih terawat rapi, banyak museum, mansion, dan hotel tua. Kita pun sempat ngintip Easter & Oriental Hotel, yang dibangun oleh orang yang mendirikan Majapahit Hotel di Surabya, yaitu Sarkies Brothers. Mentereng pisan, doorman berkostum colonial dengan celana pendek khaki, topi bunder, dan bersarung tangan putih. Oh ya, coba deh bisik2 di tengah2 lobi yang berbentuk bundar, suara kita di pantulkan sedemikian rupa hingga bergema keras, unik banget deh . Cape jalan kaki, kita balik ke hotel. Niat mau makan Nasi Kandar batal karena Patrick yang diutus beli bir Thai di Lebuh (jalan) Chulia malah bawa pulang oleh2 murtabah (martabak) India. Kuah karinya merah kental dan harum, martabaknya legit, aduh enaknya makan pakai tangan... harum kari masih melekat di jari2 kita sampai pagi harinya lho! Senin, 29 Desember 2008 Pagi hari kita bangun untuk makan pagi, menunya sederhana pisan, jus jeruk, kopi/teh, toast dua potong dan 1 slice brown cake. Usai brekkie, kita ke Cheong Fatt Tze Mansion untuk ikut tur yang jam 11. Eh nyasar bow telat deh gak bisa ikut tur. Ya udah, kita plongok2 Hotel Cathay di seberang Cheong Fatt Tze yang sama jadoelnya. Kata engkoh resepsionis, pemilik asli bangunan ini dulunya teman pemilik Cheong Fatt Tze. Dari seberang Cathay, kita ke Chocolate Boutique. Wah di toko coklat ini kita disambut dengan meriah, ditempelin stiker pengunjung, terus di bawa keliling ruangan demi ruangan yang dipenuhi coklat beraneka ragam, dari coklat almond, green tea, espresso, durian, mangga, markisa, bluberi, cabe dan semua jenis coklat ada testernya. Waduh hancur diet saya, mulut tak henti menguyah kepingan2 sampel coklat. Puas belanja coklat, kita ngider2 gak tentu arah, akhirnya sampai di Lebuh Chulia yang dipenuhi hostel2 backpacker dan buku bekas! Di tiap pengurup wang (money changer) pasti ada toko buku bekas. Belanja buku lagi deh harganya lebih murah daripada di Chowrasta. Dari sana kita sepakat mau ke Lebuh Armenia, ke Sun Yat Sen base. Puter2 nyasar gak tentu arah, nanya2 beberapa kali, akhirnya ketemu juga jalan bersejarah ini. Sayangnya museum Sun Yat Sen udah tutup, bukanya cuma 2 jam tiap hari, dari jam 10 sampai jam 12. Jalan2 lagi sampai perut lapar, kita makan Nasi Kandar di sebelah Masjid Kapitan Keling. Haduh enaknya, kuah kari wangi, tambah pancake telur- kentang, telur ikan goreng, okra rebus, cabe hijau utuh, ayam goreng, 2 es limau, 2 ice coffee, semua total RM23. 100% halal, murah dan nikmat!!! Jalan kaki lagi, kita ketemu Khoo Kongsi (tiket masuk RM5). Dari namanya, kuil tua ini adalah tempat marga Khoo berkumpul. Turis ramai menyemuti bangunan megah ini. Oh ya, kalau ada yang udah pernah nonton remake film `The King and I" yang dibintangi oleh Jodi Foster dan Chow Yun Fatt, pekarangan luas Khoo Kongsi menjadi setting salah satu adegan di film ini. Lanjut lagi membakar kalori, kita jalan kaki lagi menyusuri berbagai lebuh, dari Buckingham, Campbell, Pintal Tali, King, Queen, Pitt, Cannon, Carnavron, Muntri (mantri), Pantai, Kimberley, Cintra, sambil nonstop foto2 bangunan tua shophouses, sampai akhirnya kita berhenti untuk rehat di coffe shop seberang Wisma Cintra. Hmmm bau Nasi Hainan bikin napsu yah makan lagi deh . Balik ke hotel, cuci badan, bobo sebentar, jam 10 malam kita kelayapan nyari makan. Kita berlabuh di Lebuh Kimberley, di Bee Hoi Coffe Garden. Di sini ada noodle soup yang enak banget, engkohnya gak bisa Melayu atau Inggris, jadi dengan bahasa Mandarin saya yang pas2an, akhirnya terhidang dua mangkok mie dengan bakso ikan yang huaduh lazat gurih (RM6 total) ..Patrick masih bisa2nya mesen nasi goreng (RM4), ini bule emang punya perut sapi kali yah . Bobo dulu ah...to be continued....next, Penang some more!
