Selasa, 30 Desember 2008

Pagi2 kita udah semangat 45 jalan kaki ke Lebuh Armenian untuk 
mengunjungi Sun Yat Sen Base.  Ah sukur banget, shophouse ini masih 
buka (tiket masuk RM3). Kita disambut ramah oleh Miss Goh Mai Loon, 
caretaker museum mungil ini. Dengan bahasa Inggris yang lancar (dulu 
kuliah di Minnesota ternyata), Miss Goh menerangkan sejarah Dr. Sun 
Yat Sen selama menghuni rumah di 120 Lebuh Armenia ini.  Oh ya, di 
museum ini kita bebas foto2. Segudang pernak-pernik antik menghiasi 
segala sudut rumah yang masih orisinil, dari lemari besi kecil tahun 
1900 yang berat banget (buka pintunya  aja mesti pake otot dan 
ngotot), sampai perkakas dapur dan perabotan kayu jati khas Cina 
yang berhias kulit mutiara. Rupanya Mis Goh juga pernah jadi 
produser film "Road To Dawn" yang shootingnya seratus persen di 
Penang. Film yang menceritakan sekilas hidup Dr. Sun sewaktu tinggal 
di Penang ditahun 1910 ini dibintangi oleh dara cantik kelahiran 
Malaysia, yaitu Angelica Lee (dari film horror `The Eye').
Sebagai Dr. Sun Yat Sen adalah Winston Chao, aktor Taiwan ganteng 
yang sering membintangi film-film Ang Lee (The Wedding Banquet, Eat 
Drink Man Woman).  Kata Miss Goh, kostum Winston Chao di film ini 
akan dilelang. Lha kalau baju Nyonya milik Angelica Lee yang 
dilelang, saya mau banget dong!!! 
Kita pun beli buku `Streets of George Town Penang' seharga RM35 yang 
berisikan panduan lengkap jalan2 di George Town lengkap dengan 
sejarahnya dan diurut secara alphabet. Halah setelah disimak 
sebentar, ternyata masih banyak harta karun rumah2 tua di Penang 
yang belum sempat kita telusuri!!! Juga kita beli DVD film `Road To 
Dawn' (RM 19.90), semata-mata karena saya mau lihat kostum para 
pemeran film dan keindahan tempat2 historis di Penang yang dijadikan 
tempat shooting. By the way, buku 'Streets of George Town' ini 
ditulis oleh Khoo Su Nin alias Khoo Salma Nasution. Ternyata 
perempuan cantik penggagas Penang sebagai UNESCO World Heritage site 
ini menikah dengan pria asal Mandailing, makanya pake nama belakang 
Nasution. 

Tak jauh dari Lebuh Armenian, ada Lebuh Acheh. Nah di sini ada 
Mesjid Jamek, yang dibangun oleh Tengku Syed Hussain Al-Aidid, 
saudagar kaya dari Aceh, pada tahun 1808. Mesjid cantik ini 
berbentuk menara octagonal, kini sudah dipugar rapi, di cat kuning 
pucat. Kita masuk sampai ke pekarangan dan menemukan beberapa 
bungalow kayu tingkat dua, peninggalan kampong Arab dari abad ke 19. 
Puas menelusuri Lebuh Armenian dan Acheh, kita mampir makan siang di 
Edelweiss Café yang bertempat di shophouse unik. Hehehe bagi para 
pengunjung harap jangan lupa mampir ke toilet, ada kejutan lho… you 
gotta pull a chain to find it!

Dari Edelweiss kita jalan kaki menuju Fort Cornwallis yang terletak 
di tepi pantai. Tapi saat kaki melewati Lebuh Church, kita teringat 
ada Pinang Peranakan mansion di jalan ini. Yo wis, detour dulu deh 
ke museum lagi. Tiket masuk seharga RM10 sudah termasuk guide, yang 
akan menerangkan panjang lebar sejarah rumah ini (2 jam bow!!!). 
Ratusan barang2 kuno yang tak ternilai harganya menghiasi setiap 
kamar, sudut, dan dinding rumah dua tingkat ini, dari perhiasan emas 
24 karat yang dulu dipakai oleh para baba dan nyonya, puluhan sepatu 
manik2 antik, lukisan2 sulam segede umat, sampai vas2 bunga rapuh 
dari Inggris. Pemilik rumah, Peter Soon, adalah kolektor dan trader 
barang antik yang sudah menggeluti dunia jadoel selama 35 tahun. Gak 
heran koleksinya segudang! 
Empat tahun lalu dia beli rumah ini yang sudah dalam kondisi rusak 
dan akan segera di bumiratakan. Maklum, di Penang rumah ini terkenal 
sebagai `House of Horror', karena dulu sang pemilik mansion, Kapitan 
Cina Chung Keng Kwee adalah seorang gangster yang kejam dalam 
menghadapi musuh2nya. Banyak kepala sudah menggelinding di sumur 
belakang rumah, makanya orang Penang pada emoh membeli dan 
merenovasi rumah penuh darah ini. Tapi sekarang mansion ini sudah 
kembali seperti sedia kala, renovasi mansion ini selesai dalam waktu 
singkat, satu tahun saja, dengan tukang2 yang didatangkan Peter Soon 
dari daratan Cina. 

Sekarang mansion mewah ini sering ditanggap untuk acara kawinan. 
Waktu kita datang, courtyard open air di tengah rumah masih dihiasi 
oleh libatan panjang kain merah khas cina, rupanya ada mantenan gaya 
baba-nyonya kemarin. Guide kita bercerita betapa hatinya was2 
melihat 200 undangan memenuhi tingkat ke dua yang masih asli 
berlantai kayu, takut rubuh katanya. Tapi dengan tiang2 besi cor 
yang luar biasa padat dan di impor dari Glasgow, rumah ini terbukti 
kuat, tetap berdiri kokoh walau umurnya sudah seratus tahun lebih. 
Saking kaya-rayanya si Kapitan Cina ini, dia bangun kuil pribadi di 
sebelah rumahnya dan dia buat patung dirinya sendiri untuk disembah 
keturunannya. Buat yang serem karena sejarah berdarah rumah ini, 
haiya, jangan takut, sumur tempat buang kepala sudah ditutup, jadi 
arwah2 penasaran sudah pada cabut ke akhirat…

Waktu sudah menunjukkan jam 4, hujan rintik2 sudah mulai turun, kita 
lanjut jalan lagi ke tujuan semula, yaitu Fort Cornwallis. Bayar 
tiket masuk RM3, kita diantar masuk oleh penjaga pintu yang 
berkostum Eropa, seragam merah bersabuk putih dengan topi segitiga 
hitam. Foto2 sejenak di patung Francis Light, sang pendiri Penang, 
kita lanjut ke sebaris Galleri2 yang menceritakan sejarah berdirinya 
Penang. Galleri ini bekas penjara, gelap dan berbentuk setengah 
lingkaran, tapi ada AC dan display2 yang diterangi spotlight. 
Sejarah Penang mengalir lancar di display demi display dalam dua 
bahasa, Melayu dan Inggris. Ada chapel kecil di sebelah galleri, 
ternyata upacara pertama di chapel ini adalah perkawinan Martina 
Rozzels seusai ditinggal mati sang suami, Francis Light, yang 
notabene adalah sang pembangun chapel…ironis banget…hehehehe…janda 
kembang kali yeee…  

Kita kelilingin benteng batu dari ujung ke ujung, sampai ketemu 
meriam VOC besar yang menghadap ke laut. Foto2 narsis sebentar, 
hujan tambah seru neh, jadi kita memutuskan balik ke Hutton Lodge. 
Iseng2 ambil jalan muter dikit, eh kita nemu Christian Cemetery 
(Kuburan Kristen) di jalan Sultan Ahmad Shah. Luas, rindang oleh 
puluhan pohon kamboja berbunga putih, pemakaman ini terlihat suram 
di sore hari yang sedang gerimis. Jadi kita membulatkan tekad untuk 
kembali ke makam ini besok pagi. Selain makam Francis Light sang 
pendiri George Town, ada satu tokoh terkenal yang bermukim abadi di 
sini. Siapa dia? Baca cerita hari selanjutnya…

Hujan tambah parah, kita neduh di kedai kopi Ho Ping dekat hotel, 
saya makan char kwey teow seafood yang pedes dan maknyoos, si 
Patrick yang bahasa Melayunya ancur pisan, main asal tunjuk aja dan 
alhasil dia makan mee berkuah merah dengan lauk gorengan dan 
rajangan selada hijau. Jangan2 ini Kelinga mee, fusion antara mee 
Cina dan kari India? Enak jek, manis2 gurih, panas di lidah, dan 
wangi bumbu khas India. 

Jam 7 setempat langit masih terang, hujan akhirnya berhenti. Baju 
dari basah keringat, kering kena terik matahari dan angin kencang di 
Cornwallis, terus basah lagi tersiram air hujan, akhirnya jadi 
demek2 lembab bau asem. Daripada masuk angin, kita buruan balik ke 
hotel trus mandi air hangat. Nyantai sejenak sambil baca2 buku, eh 
menjelang jam 10 perut lapar lagi. Patrick bergegas pergi beli 
murtabah Hameediyah di Lebuh Campbell yang kita sudah santap di 
malam pertama di Penang. Kali ini dia beli murtabah sayur (RM 2 per 
porsi). Alamak tebalnya martabak ini, kaya oleh bawang Bombay, 
bawang daun, kubis, wortel, buncis, dikocok dengan telur, dibungkus 
oleh kulit tipis dari ulenan terigu, digoreng sampai coklat 
keemasan, terus makannya sambil di celup di kuah kari merah harum 
semerbak dan ditemani acar rajangan bawang merah…. I have died and 
gone to heaven… 

Patrick sempat ngobrol2 dengan orang India pembuat murtabah, dia 
bilang dari umur 6 tahun dia sudah kerja di restoran ini! 

Haduh, efek samping murtabah, yaitu jari2 berparfum kari sampai pagi 
hari, akan terulang lagi….


Rabu, 31 Desember 2008

Pagi2 setelah breakfast (menu gak berubah, 2 potong toast, orange 
juice, kopi/teh, dan sepotong kue), kita keluar pintu gerbang Hutton 
Lodge, belok kiri, lurus terus sampai ke kuburan Kristen (masuk 
gratis). Untung hari ini matahari sedang bersahabat, jadi suasana 
makam yang rindang dan gelap menjadi lebih terang, cercah surya 
menembus dedaunan kamboja yang lebat, bikin fotografi nisan lebih 
mudah. Ada puluhan nisan dari abad ke 18 membujur di tanah yang 
dilauti perdu hijau dan daun mati semata kaki, kaki harus hati2 
menapak, kalau nggak bisa kesandung akar pohon atau nginjak residu 
anjing (atau orang?)… sedikit sampah mengotori celah2 makam, ada 
juga bekas lilin dan bunga di beberapa nisan. Kita dengan semangat 
mulai membaca nisan satu-persatu. Rata2 penghuni makam wafat di usia 
muda, 20, 30 tahun-an. Jarang ada yang berumur 60 tahun ke atas. Ini 
membutikan betapa alam tropis sangat tidak bersahabat dengan kondisi 
tubuh para pendatang asing. Ada yang meninggal di laut, sakit 
malaria atau kolera, dan yang paling ngenes adalah makam mini yang 
berisi balita, ada yang umur satu minggu, satu bulan, satu tahun, 14 
tahun, dan makam yang didirikan oleh orangtua untuk anak2 mereka 
yang baru berumur 20 tahunan. Orangtua nguburin anaknya..haduh sedih 
pisan euy...
Kebanyakan orang Inggris, ada juga Belanda, Polandia, Jerman dan 
Amerika. 

Nah di kuburan ini ada makam terkenal (menurut saya lho), yaitu 
pusara sederhana Thomas Leonowens yang meninggal di usia 31 tahun. 
Beliau meninggalkan seorang istri, Anna, yang terdampar di tanah 
asing tanpa seorang suami yang menafkahinya. Anna akhirnya mendapat 
pekerjaan sebagai guru sekolah di Siam. Memoir Anna tentang hidupnya 
di Asia pada awalnya tidak mendapat banyak perhatian, akhirnya 
setelah ditulis ulang dan menjadi populer dikalangan anak sekolah di 
Inggris, memoir ini menjadi terkenal, sampai diadaptasi ke pentas 
teater, dan dibuatkanlah filmnya, "The King and I", dibintangi oleh 
Yul Brynner dan Deborah Kerr. 

Perlahan-lahan saya menelusuri satu-persatu nisan, sambil melamatkan 
mantra `numpang-numpang anak babi mau lewat' yang diajarkan oleh ibu 
saya setiap kali lewat malam2 di tempat sunyi, maksudnya biar 
makhluk halus yang mungkin lagi nongkrong tidak iseng merasuki 
badan, karena mana mau setan nyurup ke anak babi? Gak level bow… 
Yah percaya gak percaya, makam adalah tempat peristirahatan terakhir 
umat manusia, jadi sebaiknya kita khidmat dan hormat pada mereka. 
Jangan nyampah, jangan manjat nisan yang sudah rapuh, apalagi pipis! 

Selain Thomas Leonowens, sang pendiri George Town, Francis Light 
juga di makamkan di sini. Partner bisnisnya, James Scott, juga 
dikuburkan tak jauh dari Francis Light. 

Di sebelah makam Kristen ada makam Katolik, nisannya gak seindah 
yang Kristen menurut saya, juga penghuninya lebih jarang. Udah gitu, 
banyak semut rangrang! Setelah kaki kena sengat beberapa kali, 
akhirnya kita ngacir keluar makam. Perut keroncongan, kita jalan 
kaki ke Little India. Kita pilih resto Woodlands, yang menyajikan 
makanan vegetarian India. Seporsi set menu makan siang harganya RM7. 
Lengkap, ada nasi putih, dhal, raita, sayur okra, kari merah, tumis 
wortel, tahu kotak kecil campur toge, naan, papedam, semua disajikan 
dalam mangkok stainless steel imut2. Nyam nyam gurih, asin, gurih, 
kecut, manis, semua nyampur jadi satu bikin lidah goyang Bollywood, 
haduh di Surabaya gak bisa nemu resto murmer lazat kayak gini nih…

Beres makan, kita jalan kaki menyusuri Lebuh Leith, terus ke Lebuh 
Farquhar, dan tepat jam 3 sampailah kita di Cheong Fatt Tze Mansion. 
Rumah megah berwarna biru tua ini yang renovasinya memakan waktu 6 
tahun, terkenal kerana memenangkan penghargaan `Most Excellent 
Project' dari UNESCO Heritage Awards di tahun 2000. Tiket masuk RM 
12, sudah termasuk guide. Gak ada jam karet yah, kalau jam 3 lewat 5 
menit baru sampai di rumah ini, gak bisa ikutan tour dan kudu datang 
besok harinya ikut tour yang jam 11.  Jo Ann, cewek hitachi (hitam 
tapi china) pemandu tour yang berbadan lebih kecil dari saya, 
menerangkan kisah Cheong Fatt Tze dengan bahasa Inggris yang lancar. 
Diceritakan betapa Cheong miskin yang pada umur 16 tahun merantau 
dari Guandong ke Batavia dan bekerja sebagai tukang air pikulan. 
Kebayang gak sih betapa berat kerjanya, jualan air dengan pikulan di 
bahu dari rumah ke rumah.  Untung nasibnya berubah, dia berhasil 
memicut hati anak boss-nya, dan sebagai menantu, dia dipercaya untuk 
mengelola toko kelontong milik sang  mertua. Dari satu toko, dia 
berhasil mengembangkan usahanya menjadi beberapa toko. Dari situ, 
dia terus maju, berdagang di hampir segala jenis usaha, dari hasil 
bumi sampai opium, dari kereta uap sampai winery. Istrinya ada 8, 
istri nomor 7 adalah favoritnya, dan Penang adalah kota yang paling 
dia suka, jadi dia membangun rumah megah berasitektur cina di sana, 
manakala kebanyakan orang lagi doyan gaya Anglo-India. Maksudnya 
biar rumah ini gak ada yang minat beli, jadi tetap ditangan anak2 
keturunannya. Sayangnya gak ada anak2nya yang punya otak dagang 
seperti Cheong, pada akhirnya cucu lelaki terakhirnya menjual rumah 
ini dan mengangkut hampir seluruh isinya ke Melbourne, Australia. 
Sebenarnya di surat warisan Cheong dia telah menyisihkan uang 
sejumlah 250 untuk membiayai perwatan mansion ini tiap bulannya. 
Tapi jumlah 250 ini tidak mengikuti perkembangan jaman, jadi dari 
Straits-dollar, sampai jadi ringgit Malaysia, jumlah tetap gak 
berubah. Yah duit RM 250 gak cukup untuk mengurus mansion ini, 
sampai keturunan Cheong terakhir terpaksa menyewakan kamar2 yang ada 
ke 32 keluarga (total kamar ada 38), dan mereka semua gak ada yang 
ngurus rumah ini. Menurut guide kita, lantai ruang utama total 
tertutup berlapis2 debu campur tanah, kagak pernah disapu apalagi 
dipel. Jadi begitu proyek restorasi dimulai, pemilik baru rumah 
kegirangan melihat lantai asli rumah yang berbentuk mozaik batu 
warna-warni masih ada. 

Si cucu terakhir yang telah menjual rumah ini, juga memboyong 2 
patung batu singa yang telah setia menjaga gerbang depan semenjak 
rumah dibangun. Keluarganya telah mewanti-wanti anak kemaruk ini, 
semua perabot boleh diangkut asal jangan patung singa itu. Nasehat 
mereka gak digubris, lima hari setelah container berangkat ke 
Melbourne, cucu ini meninggal mendadak di rumah sang kakek. Kena 
kutuk looooo….

Sebenarnya kalau dibandingkan dengan Penang Peranakan Mansion, 
Cheong Fatt Tze Mansion kalah jauh dalam hal koleksi barang, namun 
untuk melihat feng shui at its best, Cheong Fatt Tze patut 
dikunjungi. Kalau pundi2 kalian lagi penuh, bisa nginep di sini, 
harga kamar mulai dari RM 400 per malam.

Habis tour, kita foto2 dihalaman depan mansion. No photography 
allowed inside, guide kita dengan galak pada awal tour sudah 
memperingatkan pengunjung. 

Dari sini kita jalan2 lagi, muter2 di Lebuh Chulia dan sekarang lagi 
duduk2 santai di Hutton Lodge menunggu pergantian tahun. Langit 
mendung nih, sukur2 gak hujan ntar malam, mau ke Fort Cornwallis ah, 
nanti tengah malam ada kembang api dan mulai jam 6 ada live music di 
panggung. 

To be continued...besok, Penang to Johor Bahru naik AirAsia.



Kirim email ke