Saya jarang sekali backpacking berombongan. Maksimum bertiga, paling sering berdua. Namanya ngumpulin temen untuk jalan apalagi backpacking ada resiko2 seperti terjadi konflik. Yah namanya orang Jawa- yang suka menghindari konflik agar terlihat harmonis (cieee....jadi inget alm Pak Harto), saya memilih bicara terus-terang (anomali tapi Penataran P4 itu yang ngajarin). Entah sebelum, ditengah atau setelah backpacking sebaiknya konflik dibicarakan. Intinya sih ngga boleh ada hard feeling.
1. Menyatukan tujuan itu susah banget. Ada yang pasang target kudu menjelajah sebanyak mungkin negara (tempat), ada yang disesuaikan dengan budget dan waktu yang ada. Soal persiapan sendiri terkadang udah muncul benturan. Cuman emang kudu sebisa mungkin kompromi dan terbuka. Klo saya memperlakukan sebagai individu yang merdeka, bebas untuk pergi dan tidak setuju. 2. Pelajaran berharga adalah masalah duit. Yang namanya 'trust' itu emang muahal, lebih mahal dari biaya perjalanan itu sendiri. Dan 'trust' itu seperti harga bensin. Bisa naik turun berdasar kondisi :) 3. Ngomong jujur itu terkadang menyakitkan. Tapi ya ituh kembali ke pribadi. Apakah konflik itu dikubur untuk selama-lamanya, simpan dendam hingga akhir hayat, atau sebagai proses pembelajaran? well, enaknya ngomong di depan daripada dibelakang. Secara kentut itu or apapun yang di belakang baunya lebih ngga enakkan :) 4. Emang kudu ditentukan dulu 'hirarki' backpacking seperti apa, terlebih sampe berombongan. Siapa jadi leader (tapi bukan berarti EO otomatis Leader loh), siapa bendahara, dan siapa bagian ketebelece. Kalau ngga jelas, bakal jadi sumber masalah. Kok di anu kerjanya dikit sih, kok si itu cuman perintah-perintah. Pola backpackingnya juga perlu ditentukan di depan. Apakah seperti tur itu yang udah bayar terpaksa kudu ngikut sampe selese, atau ada kebebasan untuk keluar kapan aja. 5. Ada satu karakter backpacker yang susah saya temukan seperti yang dicontohkan Al Amin, yakni "satunya kata dengan perbuatan". Bagaimanapun konflik adalah manusiawi. Cuman gimana sih nyelesein konflik itu loh rasanya yang lebih penting. Dan lagi mengaku salah dan meminta maaf itu sungguh mulia. Backpacking itu bukan pertarungan super-ego. 6. Yups masih pada bingung antara travelling dan backpacking. Konsepnya masih aja bingung. Pokoknya klo jalan dengan superhemat itu namanya backpacking. But the demand still in high end facilities (McD, KFC, Starbuck, dianter kemana-mana -apa bedanya sama tour yaks, Sinyal kuat -ngabarin keselamatan itu penting tapi tech-savy juga perlu istirahat..he he). Klo aku sih gini Ris, "Warung Starbuck terdekat adalah berjarak 120km dari sini, arah Surabaya. Jadi silakan jika ingin kesana untuk dapet wi-fi gratis. Biaya dan transport ditanggung sendiri". 7. Beberapa tahun ini saya backpacking berdua dengan mantan pacar. Yah konflik mah selalu ada, tapi kalau adem ayem jadi boring banget . Tapi biasanya siapa yang jadi leader itulah yang bertanggung jawab, dan leader itu tidak berarti si mantan pacar (aka cowok). Perannya kudu interchangeable berdasar pengetahuan dan kemampuan tempat yang kita tuju. Kembali itu tadi 'conflict management' dan kelegaan atas peran masing2. Tips terakhir Om Pug juga sempet saya praktekkan. He he he manjur dah, cuman siap-siap dicap antisosial. Ternyata punya kacamata kuda itu lebih enak :) Salam, Ambar Briastuti www.ceritaambar.com | ym : ambar_briastuti | Adventures. Backpacking. Photography. On 1 Jan 2009, at 23:42, puguh_imanto wrote: Saya sendiri gak demen jalan dengan EO ato apapun namanya kecuali ada potensi penghematan biaya. Yang paling tidak menarik kalo jalan banyakan adalah akhirnya rame dengan gosip sesama peserta perjalanan dan jadi memperhatikan rekan baru selama perjalanan dibanding memperhatikan apa yang ada di tempat tujuan. Satu tips terakhir adalah; maintain a certain degree of autism, you travel together for the sake of the destination and cost saving...hell with others! hehehe... Ada yang mo nambahin gimana cari temen jalan2? Tabik, Puguh --- In [email protected], "Aris" <kunlun...@...> wrote: > > > Saran saya, sebaiknya keluhan dan kekesalan di sampaikan langsung ke eo nya, > agar mereka bisa lakukan perbaikan.. > > Dan salah satu nya, saya juga pernah di complain abissss..... padahal trip > jalan Bareng, tapi ya.. lain belalang, lain pula tanaman Lalang nya. > Ada peserta yang Nuntut Makan enak di hutan, ada yang Tanya.. di pulau tampa > penghuni apakah ada signal HP? Pizaa Hut, atau bisa order Fried Chicken > kayak di Jakarta? [Non-text portions of this message have been removed]
