Maaf, nuwon sewu juga kalo kasih ceritanya mungkin udah basi...
Kaena saya baru aja pulang. Kemarinnya, setelah ikut misa malam natal, saya
ikut retret meditasi di mendut yang nggak boleh berkomunikasi...
Berikut ini saya sampaikan cerita Natal ala Ganjuran, seperti yang telah
teman Puguh kasih tahu...

Tabik, 
yudhi

Natalan ala Ganjuran

Ganjuran adalah sebuah desa di kabupaten Bantul. Dari Kantor Pos Jogja,
jalan Bantul adalah pararel dengan jalan Paris (Parang Tritis) menuju ke
arah laut selatan. Kira-kira 40 menit dari Kantor Pos naik mobil untuk
sampai ke Ganjuran. Orang-orang Jogja pintar membuat singkatan atau istilah,
karenanya ketoprak plesetan tumbuh subur dari sini. Coba perhatikan, monumen
jogja kembali disingkat monjali, jalan kaliurang sering hanya disebut jakal,
ambarukmo plaza mungkin sudah akan hilang dari kamus fonetik orang jogja
karena orang lebih sering menyebut amplas. Jalan Bantul sementara ini belum
ada singkatannya, dan kepada kawan yang mengantar, saya usulkan menyingkat
jalan Bantul itu menjadi jambal, jalan mBantul.

Berbelok ke kiri dan keluar dari jalur utama jalan bantul, sudah mulai
banyak terlihat di sore itu, orang-orang berpakaian adat jawa. Umumnya orang
dewasa. Yang laki-laki lengkap berbeskap atau surjan dan blangkon mataraman
dengan keris terselip di punggung, sementara kaum ibunya berkebaya Kartini
atau simbok di pasar Beringharjo. Selain berjalan kaki, banyak yang dengan
pdl, pakaian dinas lapangan (untuk Nalatan) itu naik sepeda motor, tidak
sedikit yang berboncengan.

Kira-kira 500 meter keluar dari jambal itu, berbelok ke kiri 20 meter baru
kita sampai kompleks gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran itu. Tempat
misanya, itu juga gerejanya, adalah bukan gedung bangunan tembok tertutup,
hanya atap rumbia yang menaungi dengan ditopang tonggak2 bambu, silir bila
angin berhembus. Di belakangnya altar adalah candi bentar dari batu setinggi
kira2 20 meter. Seperti Candi Lorojonggrang, dari kejauhan patung di dalam
candi gereja itu terlihat karena ada cahaya yang mengarahkan ke situ. Adalah
patung Yesus yang berbusana jawa plus kuluk, topi ala sultan. Pada dinding
tembok luar (keliling kompleks) ada relief2 yang menggambarkan perjalanan
Yesus sebelum disalib, pada relief itu Yesus sendiri, juga pengikut2nya
berpakaian jawa. 

Selain bangku2 kayu untuk duduk, pengunjung atau peserta misa dapat juga
duduk secara lesehan di atas tikar. Di sebelah kanan depan, di depan altar
ada diorama kandang domba lengkap untuk menggambarkan adegan kelajiran
Yesus. Di samping sebelah belakangnya ada perangkat gamelan untuk mengiringi
koor lagu2 pujian dengan para penyanyinya yang (pastinya) berpakaian kebaya
jawa. Lagu2nya pun sudah pasti dijawakan, dengan pengecualian beberapa kata
Latin (yang rasanya sulit dialihbahasakan) seperti : Gloria gloria in
exelcis deo.

Misa dimulai pukul 16:40 dengan pebukaan tarian yang dibawakan 4 gadis muda
bepakaian basahan (punggung terbuka). Salah satu penarinya mengingatkan saya
pada Enny Beatrice yang waktu itu memerankan penari ronggeng di film
Ronggeng Dukuh Paruk. (maksudnya cantik gheto loh). Empat penari ini
kemudian turun dari panggung untuk menjemput rombongan pastur, pembantu
pastur dengan anak-anak altarnya yang membawa perlengkapan prosesi, seperti
tongkap panji yang puncaknya ada Yesus yang disalib, cawan anggur, bandulan
metal yang mengeluarkan asap yang dibawanya dengan selalu diayun-ayunkan,
seperti misa natal di gereja Basilica Santo Petrus Vatican yang dipimpin
Paus, hanya saja di sini semuanya berpakaian adat jawa. 

Pembawa acara, atau apalah namanya yang mengantar ke setiap tahapan acara
berikut berbahasa jawa kromo inggil. Mungkin hanya sepertiganya saja yang
bisa aku tangkap dan mengerti. Yang menarik adalah penyebutan kata Tuhan
atau (tuhan) Yesus, kali ini diganti dengan Gusti atau Pangeran. Ada semacam
pribuminisasi, tepatnya jawanisasi Tuhan dan agama. Bisa juga dikatakan
akulturisasi agama dengan budaya. Mungkin seharusnya begitu, para penggiat
agama sudah selayaknya memikirkan atau mempertimbangkan budaya lokal pada
daerah2 yang menjadi obyek dakwahnya. Adalah suatu kecongkakkan dalam
sejarah persebaran agama-agama samawi, atas nama "kebenaran dari Tuhan"
mereka sodorkan nilai-nilai baru pada bangsa yang berbeda. Semuanya
diusahakan semirip asli dari "sono"nya. Sebagai referensi mungkin sejarah
masuknya kekristenan di Amerika Latin patut menjadi pelajaran. Ingatlah film
Mission ketika sekelompok padri katholoik yang berdakwah di suku Indian,
atau juga kisah Jenderal Pizzaro beserta ulama gereja yang membawa pesan
dari Tuhan (juga Raja Spanyol) pada suku Inca di Peru. Semuanya disertai
dengan darah yang tumpah..  

Kembali ke Ganjuran. Ketika pastur kepala memberi wejangan, romo EM
Martosudjito Pr berbahasa jawa ngoko. Ini 100% aku bisa ikuti. Beliau cukup
lucu dan mempunyai sense of  humor yang baik sehingga suasana cukup riuh dan
menghilangkan kantuk banyak orang. Khotbahnya tentang perlunya beriman
dengan kerendahan hati, bahwa beriman itu tidak perlu dengan disertai pamer
akan keberhasilan, baik yang material atau juga yang immaterial..

Tentu saja seperti layaknya setiap misa. Sampailah kepada pemberian kue dari
romo pada ummat, yang katanya kue itu adalah representasi tubuh Yesus yang
telah berkorban demi keselamatan ummatnya. Suasana menjadi ramai sekali,
terutama yang anak-anak berebut untuk lebih cepat. Selesai itu, yang tua,
terutama yang mempunyai anak-anak balita, beriiring untuk menyorongkan
kepala anak2nya untuk dielus-elus, mungkin semacam pemberian berkat dari
romo. Rangkaian acara berakhir pukul 19.45 denga bersalam-salaman. "Sugeng
Natal, Sugeng Natal.".

Walaupun sudah berakhir, namun banyak peserta masih berkeliling kompleks,
sebagaian munuju sumber air, tapi sudah lewat keran yang katanya berpetuah.
Menurut teman yang orang Jogja asli dan penganut katholik yang taat, dulu
romo yang membawa katholik di Ganjuran ini adalah seorang Jerman, beliau
yang kemudian dikenal menjadi penyembuh dengan kekuatan doa dan air di
gereja itu.

Di dekat pintu keluar, banyak kios cendera mata. Yang menarik setiap kios
menjual desain yang berbeda, tidak ada yang sama, walaupun temanya tetap,
kaos dengan topik atau tema kekristenan. Yang paling menarik menurutku,
adalah kaos dengan aksara arab, tapi berarti, atau dengan terjemahan dari
Mathius, Doa Bapak Kami yang di Surga.. 

Saya yang bukan katholik menikmati sekali peristiwa budaya malam itu. Dan
pulang ke penginapan dengan girang dan tidur dengan nyaman. Mungkin mimpi
bercinta dengan Enny Beatrice, eh penari itu....



-----Original Message-----
From: puguh_imanto [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, December 23, 2008 11:22 AM
To: [email protected]
Subject: [indobackpacker] Re: Wisata Upacara Adat?

Temans,

Mahap sedikit mepet, baru terima pesan dari kawan di seputaran Jogja.

Di Ganjuran, mBantul tanggal 24 malam akan ada prosesi misa Natal 
dengan prosesi adat jawa dan gamelan....

...selalu menarik memperhatikan bagaimana agama2 besar beradaptasi 
atau diadaptasi dengan budaya lokal... naik haji ke gunung, waktu 
telu... 

benar atau salah? siapa anda untuk bisa bilang kepercayaan orang 
lain benar atau salah???

Tabik,
Puguh


dak berbicara), menarik untuk diliput.

Kirim email ke