Nuwun sewu juga.  Tulisannya saya potong dan saya tanggapi, tapi justru di 
bagian aksesorinya.

Sepertinya hispanisasi di tanah Latin tidak nggebyah uyah.  Artinya tidak semua 
simbol-simbol ke-Katholik-an (dari kata Yunani 'katholikos' yang padan kata 
Inggrisnya 'universal') di Latin memakai barang import dari Iberia.  Di Cuzco, 
atas inisiatif Spanyol tentunya, pernah berdiri 'Escuela Cuscuena', semacam 
ISI-nya Peru yang menampung seniman-seniman lokal berbakat.  Utamanya seniman 
pahat dan lukis.  Karya jebolan sekolah seni Cuzco banyak menghiasi 
gereja-gereja kolonial di kota-kota besar Peru.  Gaya karya mereka kerap disebu 
campuran gaya Spanyol dan Indian.  Di biara Fransiskan, Lima, saya pernah 
melihat lukisan 'The Last Supper' versi (tentu saja bukan 'Da Vinci Code') 
Amerika Latin.  Ke-12 murid Yesus tidak dicitrakan dalam wajah 'greco-roman' 
tetapi dalam 'pribumi America Selatan'.  Yang terhidang di meja adalah daging 
'Guinea pig'.  Saya sempat menguping pertanyaan iseng dari sebelah "Apakah di 
Timur Tengah ada Guinea pig?"

Di sini lain, hispanisasi juga merambah bidang-bidang kehidupan lain.  Tepatnya 
menjadi semacam pola identifikasi.  Secara ras orang Amerika Latin terbagi atas 
(1) mestizo (putih), (2) indigena (orang lokal kulit merah), dan (3) morena 
(kulit hitam asal Afrika).  Mulanya ketiga ras hidup dalam sekat-sekat yang 
ketat dengan ras 'mestizo' ada di strata teratas.  Pada perkembangannya, 
utamanya setelah 'kemerdekaan', orang bisa merasa 'mestizo' bila (1) berbicara 
dalam bahasa Spanyol, (2) menganut agama Katholik, (3) bersekolah atau 
mengikuti pendidikan modern, (4) berbusana cara Eropa.  Padanannya, orang udik 
bisa sesaat merasakan jadi orang gaul ketika tersesat di mal dan mengudap junk 
food.  Dalam prakteknya antara mestizo dan indogena masih ada diskriminasi.  
Hotel-hotel bintang di Lima. misalnya, kadang masih menolak tamu idigena.

Salam dari Sangatta
10-Januari-2009 


 



________________________________
From: Yudhi <[email protected]>
Sent: Sunday, 4 January 2009 9:35:50
Subject: [indobackpacker] Natalan ala Ganjuran


Maaf, nuwon sewu juga kalo kasih ceritanya mungkin udah basi...
Kaena saya baru aja pulang. Kemarinnya, setelah ikut misa malam natal, saya
ikut retret meditasi di mendut yang nggak boleh berkomunikasi. ..
Berikut ini saya sampaikan cerita Natal ala Ganjuran, seperti yang telah
teman Puguh kasih tahu...

Tabik, 
yudhi

Natalan ala Ganjuran

(dipotong)

Pembawa acara, atau apalah namanya yang mengantar ke setiap tahapan acara
berikut berbahasa jawa kromo inggil. Mungkin hanya sepertiganya saja yang
bisa aku tangkap dan mengerti. Yang menarik adalah penyebutan kata Tuhan
atau (tuhan) Yesus, kali ini diganti dengan Gusti atau Pangeran. Ada semacam
pribuminisasi, tepatnya jawanisasi Tuhan dan agama. Bisa juga dikatakan
akulturisasi agama dengan budaya. Mungkin seharusnya begitu, para penggiat
agama sudah selayaknya memikirkan atau mempertimbangkan budaya lokal pada
daerah2 yang menjadi obyek dakwahnya. Adalah suatu kecongkakkan dalam
sejarah persebaran agama-agama samawi, atas nama "kebenaran dari Tuhan"
mereka sodorkan nilai-nilai baru pada bangsa yang berbeda. Semuanya
diusahakan semirip asli dari "sono"nya. Sebagai referensi mungkin sejarah
masuknya kekristenan di Amerika Latin patut menjadi pelajaran. Ingatlah film
Mission ketika sekelompok padri katholoik yang berdakwah di suku Indian,
atau juga kisah Jenderal Pizzaro beserta ulama gereja yang membawa pesan
dari Tuhan (juga Raja Spanyol) pada suku Inca di Peru. Semuanya disertai
dengan darah yang tumpah.. 

(dipotong)
Recent Activity
        *  90
New MembersVisit Your Group 
Yahoo! News
Odd News
You won't believe
it, but it's true
Yahoo! Finance
It's Now Personal
Guides, news,
advice & more.
All-Bran
10 Day Challenge
Join the club and
feel the benefits.
. 
 


      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke