Situs Sekitar Bororbudur

 

Ada thesis yang mengatakan bahwa candi Borobudur dulunya berada di tengah
danau. Argumentasi untuk menguatkan pendapat ini antara lain adanya
peninggalan perahu, dan nama-nama desa di sekitar candi yang berkonotasi
dengan air.

 

Dalam perjalanan menuju dusun Tutup Ngisor (selanjutnya disebut Tutup,
seperti warga desa sendiri sering menyebutnya seperti itu) untuk melihat
acara Suran, yaitu acara yang sudah rutin dilakukan oleh masyarakat lereng
gunung Merapi ini sejak 1937, sebuah ritual tolak bala untuk keselamatan
warga, dan juga pesta seni rakyat, saya sempatkan melihat-lihat situs-situs
candi dan artefak yang ternyata banyak sekali. Bisa dikatakan berserakan
menyebar, pating tlecek, istilah jawanya, karena tidak sedikit yang utuh
berbentuk walau ukurannya tidak gigantik seperti Borobudur, tapi banyak juga
yang tinggal reruntuhan berupa batu-batu berserakan. Dan, ini hanya sambil
jalan dari Muntilan ke Babadan, pos pengamatan Merapi itu, dan sedikit naik
ke arah Ketep. 

 

Ada candi Asu yang didekatnya mengalir sungai Tlingsing di hamparan lahan
yang subur menghijau royo-royo. Dari jalan utama desa, candi Asu terlihat
jelas, hanya 20 meter dipisahkan oleh sawah. Tinggi candi mungkin hanya 10
meter. Tidak terlampau besar namun relatif tampak utuh. Melewati pematang
dan sedikit masuk, ada candi Pendhem. Asu di sini bukan berarti anjing dalam
bahasa jawa, tapi, katanya ngaso, istirahat, sementara Pendhem berarti
tertanam. Memang Pendhem tidak terlalu utuh. Tidak jauh dari situ terdapat
candi Ngawen yang katanya dibangun abad ke-8 masehi. Saya coba sedikit
menganalisa, mengira-ngira, dan teringat perkembangan beberapa kota dunia
bahwa sebuah peradaban biasanya bermula di dekat mata air atau sungai.
Betapa sungai menjadi sangat penting bagi kehidupan, bahkan sampai sekarang.


 

Candi-candi ini, dan juga tentunya masih banyak berserak di Jawa Tengah dan
Jogja yang keberadaanya mudah dijangkau, menyebabkan rawan sekali untuk
dimutilasi, dijarah oleh "kolektor" partikelir jahat tidak mempunyai
kesadaran sekaligus penghormatan pada nilai sejarah budaya bangsa yang
mengambil secara diam-diam tanpa izin. Bentuk eksotisme patung dan artefak
candi-candi, mampu menggoyahkan "iman" orang untuk memindahkan ke
ruang-ruang di rumah, untuk mengoleksinya, atau untuk sekadar kepentingan
finansial pribadi, apalagi tidak ada aturan dan sanksi yang jelas, selain
tidak adanya perhatian yang "lebih baik" dari pemerintah, atau pihak2 yang
seharusnya mengurusi ini. Mungkin juga mereka hanya peduli pada Candi
Borobudur yang didanai dari luar negeri dan kadung jadi perhatian seluruh
dunia.?

 

Dalam acara Suran Tutup Ngisor yang tidak seperti banyak dilakukan daerah
lain yang banyak melakukan kegiatan dikaitkan dengan tahun baru penanggalan
lunar, seperti hijriah atau muharam seperti tahun baru Islam, warga Tutup
merayakannya pada tanggal 13, 14 dan 15, yang kali ini jatuh bersamaan
dengan tgl 10, 11, dan 12 januari 2009, saya sempatkan ngobrol-ngobrol
dengan tokoh penggerak kesenian dusun Tutup, mas Sitras Anjelin, anak bungsu
Romo Yoso (+) leluhur masyarakat Tutup. Katanya, di desa sebelah ada candi
yang kalau muncul (karena mungkin tergerus aliran sungai) akan membuat sakit
seluruh warga. Legenda candi ini menjadi seperti misterius. Di bukit tidak
jauh dari desa, yaitu gunung Gono, ada situs berupa patung Ganesha yang
sudah tidak utuh, karena itu Gono, nama bukit, atau gunung bagi penduduk
Tutup asalnya dari Ganesha. Dan kita tahu, setiap patung Ganesha selalu
dikelilingi oleh empat patung lainnya (sorry, saya lupa siapa saja) di
setiap empat sudutnya yang berjarak cukup jauh. 

 

Yang menarik, di dekat Babadan baru saja ditemukan, perkiraan dari titik
pusat dari suatu candi dan dinding luar-nya yang kalau ditarik garis,
diameternya melebihi Borbudur. Kalau ada pekerjaan ekskavasi dan penelitian
arkeologi tentunya menjadi pekerjaan yang maha dahsyat dengan
konsekwensi-konsekwensi yang tidak kecil, seperti relokasi desa-desa,
perusakan ekologi dan tatanan sosio kultural masyarakat, belum lagi risiko
seperti yang baru saja terjadi di Trowulan Majapahit....

 

Sebelum saya kembali ke Jakarta kemarin, bersama kawan saya diajak ke
pegurus desa Borobudur, pak Lurah dan mas Jack, penggerak masyarakat dalam
arti susungguhnya, karena dia pernah melakukan demo menentang cara kerja PT
Taman Nasional Borobudur itu, seperti preman. Mas Jack ini beristrikan
seorang wanita Swedia. Dua anaknya cantik dan ganteng yang mungkin kalau
dilihat Raam Punjabi akan diajak bermain dalam sinetron produksinya. Mungkin
juga karena beristrikan ekspat, dia cukup punya wawasan dan kesadaran ruang
serta berpikir metodologis, tapi yang pasti dia lahir dan besar di desa
Borobudur ini sehingga cukup mengusai medan.

 

Mas Jack mencatat, katanya riset, yang saya istilahkan menelusiri ginekologi
sebuah desa yaitu mencoba merekonstruksi sejarah dan kehidupan Borobudur
pada awal berdiri dari nama-nama desa dan artefak atau situs-situs yang ada
sekarang. Yang dia lakukan seperti merangkai sebuah puzzle. Sekarang ini ada
nama desa Jogonegoro, yang bisa dipadankan dengan militer atau polisi jaman
sekarang, Tirtonegoro, seperti perusahaan air minum, PAM mungkin. Ada juga
desa Tanjung, seperti dermaga tempat kapal ditambatkan. Katanya di bukut
Menoreh, di satu titik, ada situs yang diduga sebagai tanda awal orang
melakukan ritual atau prosesi bila ingin ke Borobudur, di titik lainnya
setelah melakukan trek di bukit Menoreh, turun ke desa tanjung itu dengan
menggunakan kapal, dan ada desa namanya Kapalan. Bentuk Borobudur sendiri,
jika dilihat dari ketinggian akan seperti bunga Lotus yang sedang mekar di
tengah air danau.Mas Jack juga mencatat desa-desa yang berkonotasi dengan
alat-alat musik karena ada temuan-temuan alat musik juga. Mungkin juga dia
terlalu bersemangat ketika berbicara tentang daerahnya dan apa yang telah
dia lakukan, tapi mungkin para sejarawan atau dunia akademi perlu juga
mempertimbangkan local genius seperti mas Jack ini dengan kemudian melakukan
riset yang lebih mendalam.

 

Ada juga hipotesa yang menarik dari mas Jack ini yang datangnya dari
kecurigaan betapa gunung Tidar yang katanya ada suber mata air hutan dan gua
yang keramat, dibuat steril oleh pihak militer, karena selain memang masuk
di lingkungan Akedemi Militer, dia menduga di situlah pusat kerajaan atau
pusat pemerintahan jaman awal Borobudur didirikan. Dan di situ sarat dengan
dunia mistik. "karena itu, semua pemimpin Indonesia pernah ke gunung Tidar
itu, coba saja sebut, Suharto, SBY, Wiranto, Prabowo", katanya lagi.

 

(cerita saya berikutnya tentang Dusun Tutup Ngisor dan Padhepokan Seni
Tjipta Budaya, Dusun Tutup Ngisor, Lereng Merapi)

 

Tabik,

yudhi

Pengecer Jasa Yoga

 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke