Menarik sekali Pak Joko tulisannya.

Indonesia ini memang aneh dan suka mencari2 excuse. Jika dipikir2, seorang 
pengusaha kapal mampu membeli kapal kayu penumpang seharga 600 juta namun ngk 
mampu (atau ngk mau?) membeli safety vest, pelampung, fire ext dll yang paling 
hanya seharga 35jt. Alasannya takut membuat harga tiket mahal karena 
terkompensasi ke situ. Lah, emang 35 jt, depresiasinya dibagi pertahun (anggap 
lifetime 5 tahun saja), perbulan, perhari didistribusikan ke tiket penumpang 
yang 250 orang, berapa rupiah saja selisihnya?Nggak sampe 100 rupiah!

Belum lagi edukasi dari syahbandar. Ingat dulu naik speedboat transportasi umum 
di pulau kecil di Sulawesi. Kapasitas penumpang 50 orang, diisi hampir 85 orang 
belum lagi barang bawaan mereka yang banyak sampe ke atap. Hingga muka air laut 
sejengkal dari jendela, syahbandar setempat cuek saja! Akhirnya kami yang tidak 
mau naik dan memilih kapal kayu yang dua jam lebih lama tetapi jauh lebih aman. 
Itu syahbandar gila kali ya, speedboat itu dipakai untuk menyeberang lautan, 
bukan sungai atau danau yang airnya tenang. Apa dia nggak merasa berdosa kalo 
ada yang mati karena ulah dia. Atau jangan2 dia cuma berfikir :'Ah biar saja, 
yang penting saya dapat tips gede dari pemilik kapal. Kalo ada kecelakaan toh 
paling saya dimutasi aja'. Astaghfirullah. Dikira manusia mati itu batang 
pisang apa.

Di lain sisi, kesadaran masyarakat kita juga rendah. Teringat kembali 
kecelakaan kapal kayu penumpang di perairan Bau2 1 tahun lalu. Mau tau kenapa 
kapal itu bisa tenggelam? Selain sedikit sarat penumpang, ternyata saat kapal 
mendekati Bau2 dan mulai mendapat sinyal HP para penumpang ramai2 naik ke atap 
untuk berkomunikasi shg pusat berat kapal berpindah, terbalik dan tenggelam. 
Konyol bukan? Saya belum nemu kecelakaan laut mengakibatkan korban mati belasan 
orang dengan alasan sekonyol itu.

Belum lagi ferry2 penyeberangan kita, mana pernah mengikat mobil di deknya. 
Padahal kapal segede gaban (mother vessel 50.000 ton) pengangkut ore saja tidak 
mau mengangkut jika kadar air melebihi 35pct. Saya baru tahu kenapa, ternyata 
kadar air itu walau ibaratnya tercampur di dalam tanah dan tidak tampak, saat 
di palka bisa bergeser sana-sini dan mengumpul menjadi satu massa besar. Sekali 
mengumpul, tidak bakalan bisa bergeser balik sehingga beban kapal tidak 
seimbang dan terbalik. Itu yang tidak tampak, apalagi semacam kendaraan truk 
yang nongkrong di ferry penyeberangan. Walau di handbrake, enginebrake dll 
tetap aja gaya gesek roda dengan lantai besi licin sangat kecil sehingga 
gampang bergeser.

Kita yang sering travelling laut, sebaiknya di pihak yang aktif. Jangan mau 
naik kapal sarat muatan, kalo bisa punya lifevest sndiri (murah kok, ada yang 
50rb rp dgn kualitas standar dan ukuran kecil), memilih kapal dgn safety yg 
lebih baik dll. Jangan menganggap remeh. Okelah anggap saja kita bandel, 100 
kali perjalanan sana-sini kita selamat. Tapi pas sekali saja 'kena' nggak ada 
gunanya perjalanan yang 100 itu karena yang 1 ini membuat kita koit he he.  



Salam


R. Heru Hendarto

------------------------------------
'Sent from Sony Ericsson P1i smartphone device over TelkomFlash network.... Who 
needs the damned BB anyway?'

________________ Reply Header ________________
Subject:        [indobackpacker] Safety di Kapal Motor
Author: joko santoso <[email protected]>
Date:           18th January 2009 15:36



Musibah yang menimpa Kapal Motor “Teratai Prima 0” di perairan Majene dan 
paparan pakar Teknik Perkapalan ITS di METRO TV, Kamis,15-Januari-2009, patut 
disimak rekan-rekan yang kerap bepergian dengan kapal.  Kapal yang saya maksud 
di sini meliputi seluruh jenis.  Mulai dari perahu nelayan hingga armada PELNI 
yang rutin mengitari perairan Nusantara.  Berkaca pada paparan pakar itu, saya 
pun merasa mendapat teguran.   Banyak hal yang dulu saya lakukan ternyata jauh 
dari standar keselamatan (safety)  yang layak.  Ukuran layak di situ baru saya 
sadari 10 tahun belakangan yang lantaran terkait pekerjaan, setiap hari saya 
berinteraksi dengan isyu-isyu safety.
 

Kirim email ke