Jadi pengen cerita soal UG (Day 1) 
berawal dari e-mail bertajuk cari temen ke UG 24-25-26 Alhasil 41 orang yang 
mendaftar, namun setelah saya infokan via japri kalau itenerynya adalah ngeteng 
dan Camp, peserta menyusut sampai hanya 20 orang, dan di luar dugaan pasca 
ketemuan untuk membahas agenda kegiatan yang di hadiri 17 orang bertambah 
menjadi 30 orang, yang akhirnya menyusut menjadi 24, orang karena pekerjaan dan 
tidak mendapat ijin dari orang tua, tanggal 23 januari 2008 jumat jam 18.00 
saya menunggu temen untuk bareng dari UKI menuju Kp. Rambutan sebagai check 
point, jam 19.00 kami meluncur ke Kp. Rambutan. karena bus yang kami tumpangi 
tidak masuk terminal akhirnya kami jalan kaki dari jalan baru menuju terminal, 
tal berapa lama satu persatu peserta mulai hadir dan suasana mencair, walau tak 
saling kenal sebalum nya tapi seakan2 semua telah saling mengenal sebelumnya, 
mungkin bagi yang telah hadir di semanggi ini hal kedua mereka bertemu, jam 
21.00 ada teman yang menelpon dan minta di tungguin karena terjebak macet di 
UKI, jam 21.30 kami meluncur ke ciawi dengan naik bus jurusan tasik, di dalam 
bus non ac yang awal nya sepi menjadi riuh, dan sesak, tapi kami tak tampak 
gundah malah terdengar suara tawa diberbagai penjuru bis, karena kami sengaja 
duduk tidak saling berdekatan, kemudian sesuai jadwal kira2 satu jam kami 
sampai di ciawi, karena kabetulan ada temen yang menyusul ke ciawi kami pun 
berhenti sebentar sambil menunggu temen kami menawar mobil dan dapat cukup 
murah, awal nya sangsi karena sang sopir sedang sibuk dengan teman wanitanya, 
malah kita ganggu dengan tawaran yang lebih menggiurkan yaitu mengantarkan kami 
sampai lembur situ sukabumi, setelah harga di sepakati kamu pun meluncur di 
sepanjang jalan kami bermain sms dan mobil satunya untuk menego gimana kalau 
kita booking lanjut sampai surade,al hasil kami harus berhenti sampai3 kali 
karena budjet menjadi meninggi dan kami pun memutuskan untuk hanya sampai 
lembur situ sesuai kesepakatan awal, di lembur situ kami pun langsung naik elf 
menuju surade karena 24 orang di paksa harus masuk dalam satu mobil dengan 
sangat terpaksa ada temen yang naik diatap elf kalau tidak salah jam 12.00 kami 
berangkat dari lembur situ menuju surade, di sepanjang perjalanan yang kami 
temui hanya pohon sehingga kami memutuskan untuk mencari warung atau masjid 
untuk hanya sekedar meluruskan kaki, di situlah kami mendapati temen-teman yan 
tidur di bergai tempat di warung walau ada juga yang saling ejek tapi disinilah 
keakraban itu muncul setelah tuker posisi yang berada di atap elf kami 
melanjutkan perjalanan, seperti tak berujung akhirnya ada yang meminta untuk 
berhenti kembali dan ternyata kami sudah dekat surade dan jam menunjukkan pukul 
04.00 pagi, setelah temen kami selesai buang air kecil dan meluruskan kaki 
serta ganti posisi kamu pun menuju ke surade untuk menjemput temen yang sudah 
menunggu di masjid agung, rombongan dari IBP Bandung. untuk beberapa saat kami 
berhenti dan nego kembali untuk hantar kita keliling surade setelah harga di 
sepakti dan temen dari bandung memilih pisah, kami pun melanjutkan perjalanan, 

Menuju Curug Cikaso
di pagi yang cerah itu dan masih berembun kami mengepak barang-barang dan 
menuju ke sungai cikaso di sana kami di sambut oleh pak ibot, ibu tuti dan ibu 
pemilik homestay setelah ngobrol sebentar dan ganti baju kami menaiki perahu 
menuju curug cikaso, sungainya agak keruh mungkin karena habis hujan, tak 
berapa lama kami sampai curug dan terlihat temen-teman dari IBP bandung telah 
berphoto-photo, kemudian kami bergabung dan saling photo serta berendam 
ternyata airnya cukup dalam, menurut info dari local guide kami tidak boleh 
berenang di bawah air terjunm karena selain dalam kurang lebih 30M juga 
berarus, tempo hari ada wisatawan cewek asal malaysia yang hanyut, setelah 
cukup berenang dan berpose dalam photo kami menuju ke perahu untuk kembali ke 
mobil pengangkut, karena masih terpesona dengan curug cikaso kamipun enggan 
untuk balik terbukti ada temen yang masih asik menikmati pesona cikaso padahal 
temen-teman nya sudah duduk di dalam perahu menunggu kedatangannya, tak berapa 
lama mereka muncul dan kami pun bergegas untuk melanjutkan menuju curug 
cigangsa, karena rombongan IBP bandung masih ingin berlama di cikaso kami pun 
berpisah.

Menuju Curug Cigangsa 
dengan baju yang basah kamipun berhimpitan di dalam elf, tapi tidak menyurutkan 
niat untuk saling bercanda dan membahas hal-hal yang lucu. karena belum sarapan 
dan hanya makan kue ada beberapa temen yang minta berhenti di warung pas 
terlihat gerobak mie semua serasa ingin kabur dan melompat dari mobil tapi 
sengaja mobil saya paksa untuk terus melaju, karena aku berharap kita bisa 
minta bantuan warga untuk memasak, akhirnya kami melihat spanduk bertuliskan 
selamat datang di curug cigangsa, saat mobil berhenti dan kami menurunkan 
barang terlihat 2 local guide mendekat dan bersiap mengantarkan kami ke curug, 
sebelumnya saya meminta beliou untuk menyiapkan nasi liwet dengan lauk 
tempe,tahu dan sambal serta lalapan, sembari membiarkan temen2 panic karena 
belum makan dan hari semakin siang. setelah itu kami pun bergegas menuju curug 
cigangsa melewati pematang sawah dan sungai kecil akhirnya kami sampi juga di 
lokasi, namun sayang sungai terlihat mengering walau dimusim penghujan, menurut 
penuturan local guide, hal ini terjadi karena hulu sungai yang telah gundul. 
setelah selesai berpose di bagian atas kamipun bergegas untuk turun, dan 
menikmati curug dari bawah, terlihat tebing yang yang tinggi, walau sempat 
gatal dan terpeleset karena melewati pematang dan turunan akhirnya sampai juga 
pada bagian bawah sungai, terlihat tebing yang sangat indah dan kami baru sadar 
bila tadi kami berfoto2 diatas, andai ada yang mengambil photo, dari bawah 
pasti lebih menarik dan terlihat macho, setelah di rasa cukup kami pun kembali 
ke mobil elf, dan terlihat ada beberapa teman yang mandi dan saya pun menemui 
ibu tadi untuk menanyakan apakah masakan telah siap, sembari itu local guide 
mencari daun pisang dan kejutan pun datang nasi di tumpahkan diatas daun pisang 
disusul sambal terasi, ikan teri, ikan asing dan tempe tahu serta lalapam timun 
dan terong pun langsung di serbu sampai habis 2 panci, sayapun sempat kaget dan 
sang ibupun mengeluarkan satu panci lagi dan sayapun membuka satu kaleng 
sarden, dan semua habis sampai tanpa sisa, ternyata makanan favorit pantai UG 
adalah nasi liwet dan sambal lalaban, kemudian kami bergegas untuk menuju GOA 
di Gunung Sungging 

Menuju Goa Gunung Sungging 
Bersambung .....






























[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke