Halo,

Coba ikut "urun" ya...



Kalo di Medan satu hari, kalo mo ke tempat yang bersejarah, silahkan ke Sekawan
square. Di situ ada restaurant Tip-top, restaurant jadul yang juga menyuguhkan
makanan khas belanda (mirip Toko Oen di Malang, tapi tampilan lebih keren
Tip-top). Disitu juga ada tungku turun temurun untuk memasak makanan yang masih
digunakan ampek sekarang, jadi emang tradisinya di jaga banget. Silahkan
menyoba seperti risoles (appertizer) disitu, hanya aku lupa apa nama makanannya
(masih banyak ditemukan di bandung). Itu khas belanda. Tapi waktu orang belanda
di kasih makan makanan itu, dia bilang kalo emang rasanya begitu tapi sedikit
beda. hehehe.... Jadi ya tetep ala indonesia lah. Ice-creamnya juga ice-cream
tempo dulu ga kayak sekarang yang emang bener2 soft karena kebanyakan susu,
tapi kalo ice-cream tempo dulu tuh berupa bunga-bunga es. Dan nikmat asli
banget. Waktu saya di situ, saya memesan steak. Lumayan. Sekawan square juga ga
jauh dari airport kok. Biasanya lansia banyak yang nongkrong di situ untuk
bernostalgia jaman kolonial  sore-sore. Cuman sekedar mengobrol dan temu
sapa kerabat. Dan kayaknya tempat tersebut kurang terlalu popular bagi
pemuda-pemuda lokal. Sayang sekali



Oh ja, sepanjang perjalanan sekawan square (one way road) tuh peninggalan
sejarah semua. sebelah kanan, terdapat rumah Tjong A Fie Mansion yang tertutup
untuk publik namun ya bisa dilihat rumah asli perpaduan bergaya victorian dan
china. Dia tuh pedagang china yang terkenal pada jaman dahulu. Tjong A Fie
Mansion juga ga jauh dari restauran Tip-Top yang melegenda itu kok. Silahkan
memarkir mobil di depan restauran Tip-top, setelah makan untuk menuju ke
Mansion itu, cuman tinggal menyebrang aja.



Masih dalam kawasan sejalan Sekawan Square, terdapat kampung keling di mana
banyak orang keturunan orang india tinggal. Di sebelah kanan terdapat kuil
orang hindu yang banyak ornamen-ornamen dewa hindu yang bisa kita telusuri. Kita
juga diperbolehkan masuk kok. Pendetanya asli muka orang india. Orang india ga
mau kampunya dibilang kampung keling, karena menurut mereka itu sangat menghina
sekali (keling berarti hitam). Menurut mereka sebutan itu sangat rasis karena
memang kulit orang india asli kebanyakan adalah hitam (bangsa dravida). Namun
sebenarnya orang lokal menyebut kampung itu sebagai kampung keling, karena
memang dulunya orang-orang india yang datang tuh dari daerah Kalingga (kalo ga
salah). Mangkanya disebut kampung keling. Kalo ga salah beberapa kali ganti
nama tempat itu. di seputar daerah tersebut terdapat martabak khas india, namun
sebenarnya ada satu yang asli. Di depan stand-nya, pedagangnya nulis
"tidak membuka cabang".. Nah sedangkan pedagang lain yang membuka
usaha yang sama ada juga yang iseng menulis "tidak membuka ranting".
Cuman ya.... pokoknya daerahnya deket-deket situ aj, masih di kampung keling. Ga
tau persisnya.

 

Dari Sekawan square, terus ke utara, terdapat lapangan
merdeka yang dikelilingi bangunan Art Deco yang cantik-cantik. seperti Bank
Indonesia, Balai Kota dan Kantor Post. untuk informasi lebih lanjut tentang
aristektur kolonial di medan, silahkan lihat di "tours through historic
medan and its surroundings” oleh Dirk A Buiskool. Penulis buku itu juga,
mempunyai Tri Jaya Tours & Travel (7032967; www.trijaya-travel.com), yang
menawarkan tur kota bersejarah.

 

Istana Maimun juga boleh tuh dikunjungi. Alamatnya di jalan
Katamso. Tiket masuknya, ya sesuai donasi aja. Biasanya pihak pengelola bilang
untuk biaya mengurus istana dan di bilang bahwa keturunan raja masih tinggal di
situ. Di dalamnya cantik semua bernuansa kuning yang identik dengan warna
bangsawan. Ukiran dindingnya juga cantik. Terdapat kursi tahta raja yang masih
dijaga. Dan sayang kita tidak bisa duduk di situ maupun untuk menyentuh. 
Silahkan
untuk dilihat-lihat saja hehehe…. Tapi jangan khawatir. Pihak pengelola juga
menyewakan baju adat untuk berfoto-foto di dalam. Kalo’ ga salah bayar 50 ribu.
Istana Maimun ini di bangun oleh Sultan Deli tahun 1888. Oh ja, di dalamnya
terdapat juga foto bangsawan dari Jawa. Dan memang, dulu kerajaan Jawa sudah
melakukan hubungan yang baik dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Sumatra.

 

Mesjid Raya Medan juga bagus. Kalo mau masuk ke dalam bagi
yang perempuan harus memakai kerudung. Tenang aja kalo ga pake kerudung. Pihak 
pengelola
sudah menyiapkan kerudung nan cantik berwarna biru muda bercorak bunga, namun
ya “sedikit” bau. Kalo ga mau lihat ke dalam, boleh tuh bisa dilihat dari
Jembatan Penyebrangan. Melihat dari situ juga ok kalo ga mau menginjakkan kaki
masuk lingkungan masjid. Oh ja, jangan lupa untuk menyisipkan uang untuk donasi
jika ada guide yang menerangkan seluk-beluk masjid. Masjid ini adalah pemberian
dari Sultan pada tahun 1906. Masjid yang bergaya Maroko ini memunyai 
ornament-ornamen
ukiran, pualam dari Italia dan kaca dari China. Sayang pada waktu itu, saya
hanya bisa ada di beranda masjid, ga bisa masuk ke dalam karena sedang off.

 

Kalo suka ke museum, ada Museum Sumatra Utara di jalan HM
Joni 51; 7716792; buka jam 8.30-siang & 1.30-5sore (Selasa-Minggu). Museum 
tersebut
mempunyai koleksi beberapa artefak sejarah dan budaya Sumatra Utara dan beberapa
ukiran batu dari Pulau Nias. Selain itu ada Museum Militer Bukit Barisan di
jalan H. Zainal Arifin 8; buka jam 8-1 (Senin-Kamis & Sabtu), yang dekat
dengan Hotel Danau Toba Internasional. Dia memiliki beberapa koleksi senjata,
foto dan memorabilia PD II, perang kemerdekaan dan perlawanan orang Sumatra pada
tahun 1958.

 

Kalo untuk makanan, untuk makanan Cina, datang aja di Pasar
Malam, Jalan Semarang, sebelah timur rel kereta api Jalan Pandu.. Ada juga sup
kambing di seputar daerah pecinan. Sayang lupa nama jalan dan nama warungnya. Di
situ enak banget dan ada minuman khas china yang kayak dari jeruk tapi bukan
semacam jeruk, malah daging buahnya itu seperti sawo. Warnanya kuning kayak
jeruk dan bisa di makan. Di dalam minuman itu juga ada rempah-rempah lainnya. 
Rasa
minumannya manis asem. Aneh tapi enak banget. Maklum pertama kali minum hehehe….

 

 

 

Have a nice trip

Ciao

LEAH







--- Pada Sen, 9/3/09, Hubertus Satrio Yudanto <[email protected]> menulis:

Dari: Hubertus Satrio Yudanto <[email protected]>
Topik: Re: [indobackpacker] 1 hari di Medan baiknya kemana ?
Kepada: [email protected]
Cc: [email protected]
Tanggal: Senin, 9 Maret, 2009, 10:39 AM











    
            

Wah memang kalo cuma 1 hari tanggung yaa.. yang jelas makanan di Medan

enak2 tergantung dari anda apakah pemakan segalanya atau tidak....

kalau anda pemakan segalanya saya sarankan anda ke jalan S Parman atau

ke daerah selat Panjang di malam hari... untuk tempat bersejarah anda

bisa pergi ke Istana Maimun....



2009/3/8 Dheva Ibnu <dheva.hingis@ gmail.com>:

> Dear IBP's,

>

> Saya berencana utk pergi ke medan dan hanya punya waktu 1 hari disana

> sebelum ke aceh. Saya sudah browse beberapa informasi dari web mengenai

> tempat2 yg patut dikunjungi, spt danau toba, lapangan merdeka/kesawan

> square, dll.

>

> Saya menyukai tempat2 brsejarah, pusat keramaian, makanan2 khas, dll.

> Berhubung ini pertama kalinya saya jalan ke medan (selama ini saya cm

> transit saja di polonia), mhn rekomendasi teman2 mengenai tempat2 yg patut

> dikunjungi dlm waktu 1 hari saja.

>

> Terima kasih byk :)

> Thanks!

> Transported from my RIM's device

>

> 



-- 

Regards,

Hubertus Satrio Yudanto ( Berto )

08129051890


 

      

    
    
         
        
        








        


        
        


      Apakah saya bisa menurunkan berat badan? Temukan jawabannya di Yahoo! 
Answers!
http://id.answers.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke