Mba Endah dkk.

 

Sedikit menambahkan,  waktu Mba Naik Bus dari Pancasila ke Lombok, Bus yang
sama saya juga naiki juga. Dia kenal beberapa kawan seperti nya dia juga
kenal dengan Mba Endah.  Hendri Nama Sopirnya..  tapi waktu itu saya nggak
mau berlama-lama di Bus  yang

Saya menyebutnya Bus CARGO!

Jumlah barang lebih banyak dari jumlah penumpang.

 

Di calabai, bus melajut cepat.. nyampe Kempo, Bus memuat sekitar 100 Karung
Pagi, yang akan di bawa ke Lombok. Semua tatakan Kaki, nggak bisa nempel ke
dek mobil karena penuh dengan Karung Padi.

 

Abis muat, saya liat Bus ini sudah Overload.. Begitu, sampe Empang (kec
penghasil Udang)  Bus, di stop lagi.. ada 30 Box Udang dinaikan di atas Kap.
Yang saya pikirkan."walah, Keril saya akan bau Udang..Nih".hehe

 

Beruntung saya dapat Sunset yang Indah.

Bus lanjutkan perjalanan ke Sumbawa, baru 30 minute perjalanan, kami di
dalam Bus Mulai Bingung!  Air udang bocor dan tumpah ke dalam Bus.
Sepanjang perjalanan lengket dengan Aroma Udang yang sedap.

 

Akhir, bilang ke Pak Sopir yang ramah.  Pak, Kami mau turun di Sumbawa aja.
Nggak jadi direct ke Lombok..

Dan dengan ramah, dia mengembalikan Uang yang sudah saya bayar Rp. 100.000

 

Kalau Mau Naik Bus ini, bisa tunggu di dekat GOR - Lombok.  Atau cari aja
Pak Hendri di terminal. Bus nya berangkat Sore hari.  Kan lumayan, nggak
perlu adu otot di Mandalike!

 

Salam

ARIS

 

From: Endah RH [mailto:[email protected]] 
Sent: 17 Maret 2009 16:28
To: [email protected]; 'Lydia Hutabarat'
Cc: [email protected]
Subject: Re: [indobackpacker] Tambora

 

2007 saya ke Tambora lewat Dusun Pancasila. Jalurnya relatif landai, namun
tapi memang muter-muter banget. Jika lewat sini selain pacet, ada beberapa
pohon tumbang menutup jalur setapak dari Pos III-V. Waktu itu ada 3 pohon
yang tumbang, panjang sekitar 50 m, 20m dan 30 m. Ketika lewat di atas pohon
tumbang yang mirip titian itu harus hati-hati sekali. Pas naik karena habis
diguyur hujan, jadinya sangat licin, bergeraknya kadang merangkak atau
sambil duduk.Bukannya semata-mata takut terpeleset, tapi yang parahnya kita
tidak bisa pegangan di kiri kanannya karena full dipenuhi tumbuhan jelatang
yang kalo kena ke kulit seperti panas terbakar dan gatal (ada teman yang
sempat kena). Kalo mau tetap lewat jalur ini diusahakan musim kemarau,
karena kalo paz musim hujan pohon jelatangnya sangat rimbun (benar-benar
full dari Pos III-Pos V).

NB : jadi inget waktu ke Argopuro, kebetulan juga ada pohon ini, cuma tidak
sebanyak Tambora. Katanya penduduk setempat menamainya 'Pohon Jancukan'.
Nama ini jadi populer karena saat kulit terkena daun ini, ada yang spontan
mengumpat khas Jawa Timur (maaf... 'jancuk/diancuk...:)).

Terus dari Dusun Pancasila - pintu gerbang pendakian bila pakai ojek (2007
tarifnya Rp. 25.000). He.. he.. maklum balung tuwo (tulang tua), penginnya
jalan sedekat mungkin, dan ojek ini juga bisa menjemput pas kita turun (jadi
PP Rp. 50.000). Lumayan..., irit tenaga.

 

Jalan setapaknya lumayan jelas, cuma pacetnya ga ketulungan banyaknya karena
lembab banget. Tangan dan kaki sudah dioles pake anti pacet, tetep aja yang
ngerayap di sepatu, nyelip di jari, nemplok di badan, gigitin kaki banyak
sekali. Pas ke sana Mei 2007, jadi pemecah rekor ditempeli pacet (43 ekor),
sementara temen yang lain rata-rata di bawah 10 ekor. Pas di treking Halimun
juga begitu, ketempelan pacet sampai 37 ekor, padahal temen lain paling
banyak 6 ekor. He.. he.. kali aja darahnya jadi favoritnya pacet.

 

Dusun Pancasila - pintu gerbang pendakian (ojek)

Pintu gerbang - Pos III (camp)

Pos III - Puncak - Pos III (camp)

Pintu gerbang - Dusun Pancasila (ojek)

Dusun Pancasila - Desa Kenanga (ojek), untuk menuju Pulau Satonda


Waktu itu ke sana via Mataram naik bus AC (Angin Cemiliiiirr...), alias bus
3/4 (mirip bus Kopaja) dengan kipas angin kecil di pojok kiri depan itu pun
ga jalan alias rusak. Berangkatnya Mataram-Dusun Pancasila = 17 jam 15
menit, pulangnya 22 jam karena busnya sempat patah knalpot dan ganti ban.
Kalo lewat rute yang sama sebaiknya nyiapin roti, karena ketika berhenti
untuk makan malam di sebuah rumah makan langganan bus tersebut hampir jam 12
malam, jadi antara laper yang sudah lewat, capek plus ngantuk.

Kondisi jalan ke Pancasila jelek banget, begitu juga jalan raya utamanya
(Sumbawa-Bima) banyak yang rusak. Sedih banget liat kondisinya karena kalo
di Jawa mirip jalan kecamatan itu pun yang di pelosok, padahal harusnya ini
adalah jalan propinsi. Pas pulangnya ketika turun dari bus, kaki saya dan
teman-teman (10 orang) bengkak semua, karena peredaran darah kurang lancar
waktu di bus (full penumpang). Temen dari Jakarta sempet marah-marah sehabis
turun. He.. he.. kerilnya di atas bus ternyata berdempetan dengan satu
karung ikan asin, jadi bukan hanya keril tapi seluruh bajunya bau ikan asin.

 

Nah, dari Dusun Pancasila kita bisa naik ojek lagi (2007 tarifnya Rp.
25.000) menuju Desa Kenanga kemudian menyeberang ke Pulau Satonda carter
speedboat. Nanti untuk menuju Mataram kembali bisa minta dijemput sama bus
trayek Dusun Pancasila - Mataram. Pulau Satonda tidak berpenghuni dan
relatif bersih. Kalo nyeberangnya agak sore, perahu tidak bisa merapat
karena air masih surut, jadi harus jalan lagi menuju saung (ada 3 saung
besar di situ, jadi ga usah gelar tenda, tinggal tidur pakai sleeping bag,
lagian kalo nenda di bawah banyak sekali semutnya). Tapi asyiknya untuk
menuju kesana saat melewati batu karang, banyak terdapat kerang yang
terperangkap di sela-sela karang dan tinggal ambil aja untuk dimasak. Bukan
kerang biasa, tapi agak mirip siput. Kerang jenis ini hanya disajikan di
restoran besar tertentu dengan harga yang sangat mahal, per ons yang hanya
berisi kerang beberapa biji harganya bisa sampai Rp. 50.000, padahal untuk
sajian dengan jumlah standar perlu beberapa ons.

Di pintu gerbang Pulau Satonda, terdapat anak tangga yang menuju bukit dan
Danau Satonda. Dengan berjalan kaki sekitar 15-20 menit, kita akan tiba di
atas bukit dan menikmati dua keindahan sekaligus dan unik yaitu laut di
sebelah kanan dan danau di sebelah kiri. Yang harus diwaspadai di sini
adalah ular hijau berekor merah yang merupakan katanya merupakan salah satu
ular berbisa (kami sempat 'disambut' ular ini saat tiba malam hari di sana).
Selebihnya sih asyik, pagi-pagi menyususuri batu karang menuju pantai pasir
putih yang biasa dipakai berjemur para bule yang memakai perahu pesiar dari
Bali maupun Lombok.

Maaf..., kalo emailnya kepanjangan. Selamat menikmati eksotisme alam
Tambora.

 

Salam dari Borneo.

 

Wassalam,

Endah RH

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke