Saya ini mungkin tipe orang yang belajar dari kegagalan. Jadi disuguhi kesuksesan malah kurang greng. Buku adventure yang saya baca juga kebanyakan 'ketidak suksesan' atau 'kematian' (halah maksudnya bukan justified kalau petualang itu emang ngga takut mati).
Ada buku menarik yang saya ingat terus. Kisah kelima wanita pemanjat gunung K2 dimulai dari awal ketertarikan mereka, petualangan hingga kisah kematian mereka yang tragis. Pergulatan mereka mencari dana, mencoba membuktikan kemampuan di dalam dunia yang maskulin hingga kisah asmara dan kegalauan hubungan dengan suami/pacar ataupun rekan setim. Tayangan TV dan film tentang kegagalan mungkin disimak berbeda dengan kultur bangsa Indonesia. Secara tidak langsung, orang Asia sangat memuja kesuksesan (itulah kenapa David Beckham dan Tiger Woods ngetop luarbiasa). Tapi pernahkah kita tahu tentang Scott Fischer atau George Malorry? Mengilustrasikan kegagalan itu seperti 'wirang'(malu, shame, sharm -urdu) hal yang tidak perlu diungkap. Menunjukkan ketidakmampuan di depan umum menurut orang Jawa adalah hal yang big NO. Yang menarik 'sharma' dalam bahasa sansekerta artinya bliss, happiness, good fortune. Jadi bukankah sebuah kegagalan bisa dilihat sebagai berkah? Mungkin sebagai produser saya akan memutuskan kegagalan ngga bakal menarik penonton. Apa sih yang bakal dilihat. Air mata? Well, bukankah hidup ini adalah drama. (hi hi..maunya mengutip American Idol). Salam Ambar --- In [email protected], Arina Hanisthan <dears...@...> wrote: > > Setuju dengan Mas Aris... seingat saya, saya belum pernah disuguhi tayangan > TV mengenai liputan pendakian gunung yang baik dan sukses kalaupun ada > (mungkin terlewatkan oleh saya) itu hanya tayangan yang sifatnya laporan saja > dan hiburan, tidak ada pembelajarannya. > Kapan ya ada media yang mau membuat hal2 semacam itu? > Salam, > Pipin >
