Halo Tari, Aku mau bantu kasih info tentang scam bus. Penjelasan ini hasil dari pengalamanku menaiki salah satu dari scam bus, dalam perjalananku dari Bangkok ke Siem Reap, November 2007. Jadi sepertinya, akan lumayan panjang niy ;-)
Sebenarnya istilah scam bus ini mengacu pada agen penjualan tiket bus yang bertebaran di Khao San Road, yang menawarkan tiket 'murah' ke berbagai tujuan ( Siem Reap, Phnom Penh, Koh Pang an, Koh Samui dst). Padahal tiket murah itu hanya sekedar kedok dari serentetan 'hal nggak enak' yang bakal terjadi selama perjalanan. Peringatan dan penjelasan detail modus yang dijalankan scam bus sudah banyak di posting oleh para traveler yang pernah menjalani rute Bangkok-Siem Reap, di berbagai situs traveling. Juga tercantum di buku LP. Aku pun sudah membaca peringatan2 tersebut, sebelum berangkat jalan ke keliling Indo China waktu itu. Makanya aku sudah bertekad nggak akan beli tiket scam bus. Tapi kenyataan berkata lain, tiket bus yang kubeli di salah satu agen bus di Khao San Road ( kawasan tempatku menginap) adalah salah satu scam bus ;-). Tiket bus Bangkok-Siem Reap, kubeli dengan harga 500 baht ( Rp 150 ribu dengan kurs saat itu). Selain karena murah, juga karena aku enggan ribet ganti-ganti kendaraan jika memilih alternatif ngeteng ( yang kalau dihitung-hitung, biayanya lebih mahal karena aku solo traveler). Mbak yang jualan tiket juga bilang, kalo bus-nya bagus, berangkat jam 7 pagi dari Bangkok dan bakal nyampai di Siem Reap sekitar jam 5 sore. Meski mbak-nya baik banget, aku tetap punya dugaan kalau bus yang akan kunaiki ini scam bus. Tapi karena ada seorang teman sepenginapan yang mau barengan ke Siem Reap, ya sudahlah, kami berdua akhirnya membeli tiket tersebut. Aku pikir nanti kalo ternyata benar scam bus, kan bisa dihadapin berdua. hehehe. Busnya memang keren. AC, double deck, kursinya 2-2, dan nyaman. Ada kenek merangkap guide yang sok ramah pada para penumpang ( kebetulan isinya bule semua kecuali aku dan satu perempuan dari Jepang). Perjalanan menuju perbatasan Kamboja nyaman dan cepat, karena jalanan juga bagus. Jadi sebelum jam 12, bus kami sudah tiba di perbatasan. Di sinilah modus pertama scam bus mulai dijalankan. Bus kami berhenti di salah satu rumah makan beberapa ratus meter dari pintu perbatasan Thailand-Kamboja di Poipet. Di sini kami semua diminta turun dari bus dengan membawa semua barang bawaan. Lalu semua paspor penumpang diminta, kata sang kenek/guide, mereka akan membantu mengurus visa on arrival masuk Kamboja. Kenek itu lalu membagikan formulir pengisian VoA dan bilang kalau tarifnya 1200 baht ( sekitar 37 USD) dan hanya dalam waktu 10 menit selesai. Waks gilingan, mahal amit. Karena VoA untuk Indonesia dan sebagian besar negara para bule di bus kami itu hanya 20 USD. Segera kubilang ke keneknya, kalau aku mau urus sendiri VoA. Kenek langsung bermuka masam dan memasang wajah garang. Lalu dia bilang ke semua penumpang lain, kalau mereka milih ngurus sendiri VoA, bakal antri berjam-jam, sehingga akan ketinggalan bus yang membawa ke Siem Reap. Ia juga bilang kalau kami akan berganti bus setelah melewati pintu perbatasan ( katanya karena bus berplat Thailand tidak boleh masuk ke Kamboja) Aku langsung protes ke kenek: Anda wajib nunggu kami, karena kami sudah bayar tiket bus sampai Siem Reap. Ehhh malah dibalas sama si kenek: kalau mau begitu, ikuti cara kami, serahkan urusan VoA ke kami. Tingkah kenek ini langsung mengingatkanku pada modus yang sudah banyak dijelaskan di situs dan buku. Kejadian bener niy, pikirku. Namun, meski sudah diancam, aku tetap berkeras tak mau menyerahkan pasporku dan mengurus sendiri VoA. Meski ada seorang penumpang lain ( dari Kanada) yang berhasil melobi keneknya dengan bayar hanya 1000 baht. Akhirnya hanya aku yang ngurus sendiri VoA ( teman sepenginapanku udah urus visa sebelumnya). Inilah yang mau nggak mau membuat aku deg-degan, gimana nanti kalau beneran ditinggalin. Selain rugi duit, masih harus puyeng nyari angkutan lain ke Siem Reap. Ternyata, ancaman bakal antri panjang pas urus VoA itu hanya isapan jempol. Di loket imigrasi Poipet yang mirip dengan loket karcis pasar malam di Indonesia itu, sama sekali nggak ada antrian ( jangan-jangan karena semua turis dipaksa urus lewat jalur belakang yak). Tapi, petugas imigrasi ternyata korup abis. Meski tarif VoA dengan mata uang USD sudah terpampang jelas di depan loket, petugas imigrasi memintaku bayar 1000 baht. Aku bilang nggak punya baht hanya punya USD ( sebenarnya aku punya baht tapi nggak rela saja mereka bikin kurs semaunya). Mereka nggak mau terima. Debat kusir pun terjadi. Singkat cerita, mereka kasih VoA di pasporku setelah aku serahin 25 USD (aku kena peras 5 USD). Urusan imigrasi ( buat VoA, jalan melewati pasar berdebu dan mengantri dapat stempel masuk Kamboja) memakan waktu 45 menit. Setelah kelar, seorang anak buah dari Scam Bus ( yang beda dengan si kenek) mengantarku ke terminal yang terletak di sisi kanan pintu keluar kompleks kantor imigrasi Poipet. Masalahnya, aku tak melihat ada penumpang bus-ku yang lain. Hanya ada teman sepenginapan yang ternyata sengaja nungguin. Nah disinilah modus kedua scam bus dijalankan. Mereka memang sengaja memisah-misahkan kami. Alasannya dibuat-buat, mulai dari waktu pengurusan visa dan stempel yang beda-beda hingga ketiadaan bus. Dari terminal ini, kami berdua diojekin ke tempat mangkal bus yang katanya akan membawa ke Siem Reap. Ternyata tempat itu adalah ruko money changer yang ada di pasar. Di sana sudah banyak turis-turis lain yang sedang duduk menunggu ( tapi tak satu pun yang berasal dari bus yang sama denganku). Kami berdua disarankan untuk menukar uang di sini. Saran yang jelas kutolak, karena rate-nya ngawur. Money changer ini jelas-jelas bagian jaringan scam bus. Setelah menunggu sekitar 30 menit, kami berdua diminta naik bus. Tampang dan warna busnya mirip dengan Mayasari Bakti yang ijo tanpa AC. Kursinya 3-2 dan keras. Aku pasrah, karena sepanjang jalan tadi memang tak kulihat bus yang lebih bagus kondisinya ( apalagi yang dobel deck). Busnya jalannya kayak keong, karena kondisi bus juga karena jalanan menuju Siem Reap lebih banyak tanahnya daripada aspal. Jadi aku sudah bersiap dengan modus scam ketiga, kami akan tiba tengah malam di Siem Reap sehingga mau nggak mau harus menerima tawaran tinggal di guest house rekanan jaringan ini. Biasanya guest housenya jelek tapi harganya mahal. Untunglah, bus kami sudah tiba di pusat kota Siem Reap sekitar jam 7 malam ( dari janji awal sekitar jam 5 sore). Kami berdua dan dua kenalan baru di bus 'Mayasari', akhirnya memilih menginap di Hilton Angkor Wat Guest House yang disarankan oleh sopir bus. Kondisinya persis seperti di brosur yang diberikan ke aku saat di perjalanan. Bangunan baru 3 lantai, bersih, dan murah ( 3 USD/malam utk kamar dengan double bed, kamar mandi di dalam, TV satelit, dan kipas angin). Jadi, pengalaman naik scam bus, menjadi pengalaman unik, berharga, dan tak terlupakan. Meski sebal, tapi aku senang karena bisa dapat teman-teman baru sepanjang jalan. Pertemanan yang hingga kini masih terjalin meski kami terpisah jarak belasan ribu kilometer. Namun aku tetap menyarankan hindari scam bus (apalagi bagi yang perempuan solo traveler). Kalau pun ternyata dapat scam bus, segera cari teman supaya bisa berjuang bersama ( dramatis banget yah ..hehehe). Dan jangan lupa setiap perjalanan itu pasti berharga. Salam, Astari Yanuarti Astari Yanuarti Journalist Gatra Weekly News Magazine Jalan Kalibata Timur IV No 15 Jakarta Indonesia 12740 mobile :+628159971758 office :+62217973535 ext 219 fax :+622179196941 web :http://indonesiapresent.blogspot.com --- On Wed, 3/25/09, Ms tari rahardjo <[email protected]> wrote: From: Ms tari rahardjo <[email protected]> Subject: Re: [indobackpacker] Vietnam-Kamboja-Thailand To: [email protected] Date: Wednesday, March 25, 2009, 10:43 PM Halo Rio, Apa ciri2nya scam bus? Gmn supaya "tidak kena" scum bus? Trims ya Salam, Tari YM ID : kuntarini_rahsilawa t...@yahoo. com http://kuntarini. multiply. com http://profiles. friendster. com/kuntarini
