Bagian terakhir dari catatan perjalanan pertama saya ke Bangkok - Thailand.
Acara di hari terakhir ini: menemani teman nyari masjid untuk ibadah Sholat 
Jumat, jalan ke fashion mall.
Anyhow, sebuah perjalanan backpacking seperti juga perjalanan relationship: 
semua ada akhirnya.
Pada akhir perjalanan ini, saya juga harus kehilangan sebuah relationship (*loh 
kok malah curhat!!!)

Terima kasih temans, terima kasih untuk moderator (mbak Ambar) yang mengijinkan 
postingan saya.

20 Maret 2009

Bangun pagi trus ngurus check-out hotel karena nanti malam sudah balik ke 
Jakarta. Tas ransel dititipkan di hotel. Bayar oy! 15 bath! (IDR 5 rebu)

Trus nongkrong sebentar di Santichaiprakarn Park. Dalam perjalanan ke sana beli 
kopi panas di jalan. 10 bath. (IDR 3500) Nonton kapal lalu lalang dan orang2 
yang menghabiskan waktu di taman. 
Jam 0930an naik kapal lagi sampai Central Pier.
Melewati banyak hotel2 bintang 5 yang masing2 punya dermaga dan perahu sendiri. 
Pada beberapa bagian, serasa di Venesia. Hehe..

Dari Central Pier naik BTS ke stasiun National Stadium. Tujuannya ke mall Siam 
Paragon. 
Sampai mall itu kira2  jam 100- an ternyata belum banyak toko yang buka. 
Sarapan berat di resto jepang, namanya lupa. Tapi resto ini punya jaringan 
dimana-mana.

Habis makan, cabut lagi naik tuktuk ke Soi Petchaburi. Tepatnya Soi Petchaburi 
7. Menurut peta di sini ada masjid Darul Aman: ada teman yang mau ibadah sholat 
Jumat.
Sambil menunggu, aku muter2 daerah yang sepintas kayak kampung Kauman di Solo. 
Banyak makanan berlabel halal. Kayaknya enak dan pasti murah Nyesel tadi makan 
di mall ga makan disini saja.

Di depan Masjid ada yang jual roti bakar dan teh. Bosan dan cape muter2 mulu, 
aku duduk saja disitu nungguin sholat Jumat selesai.

Dari situ jalan kaki ke arah dimana aku tadi melihat Kedutaan Republik 
Indonesia.

Pas jalan, eh ketemu tukang durian. HORE!!!
Tanpa nawar dan milih, lansung nunjuk satu paket durian yang ga terlalu banyak. 
70 bath!
Dan saya salah! Karena saya mikir disini durian pasti enak semua.
Tepatnya salah milih! Durian yang saya beli masih rada mentah! Huek! Serasa 
makan styrofoam :D

Serasa aneh lewat kedutaan RI. Ada rasa bangga juga. Dipapan pengumumannya di 
tempel pengumuman pemilu.

Ga jauh dari situ ada Platinum Fashion Mall, kayak Tanah Abang gitulah.
Muter2 ga jelas, ga beli apa2 sampai jam 1500 an.

Trus nyari taksi balik ke Khaosan lagi ambil tas, nyari taksi lagi untuk ke 
bandara Suvarnabhumi.

Taksi + tol kira2 400 bath.
 
Bandara Suvarnabhumi penuh orang. 
Padahal kata resepsionis hotel dan beberapa orang yang aku tanya, saat ini 
untuk pariwisata di Bangkok sedang low-season. Trus kayak apa ya kalau pas peak 
season?
Kenapa ga nular ke Indonesia ya? Kenapa?

Check-in dan imigrasi cepet banget.

Dibandingkan dengan ketika arrival, saat itu lebih bisa menikmati bandara ini; 
seperti biasa bagian departure/keberangkatan biasanya lebih mewah dan menarik.
Sama dengan bandara Soekarno Hatta, bagian arivval dan departure terpisah. 
Penumpang kedatangan tidak bisa menikmati fasilitas toko dan resto 
keberangkatan.

Padahal kalau di KLIA – Malaysia, penumpang kedatangan bisa menikmati area 
keberangkatan. Check-point untuk security ada di pintu boarding-room.

Tapi sekali lagi aku lebih suka Changi!

Sempat makan sandwich di resto Volare. Ga enak! Mahal lagiii!

Pesawat AirAsia QZ 7717 terbang dan sampai CGK tepat waktu jam 2345, tapi antri 
imigrasinya lama karena bareng flight yang tiba dari Philipina. 
Beberapa orang WN Philipina yang antri di depan aku lama di wawancara oleh 
petugas imigrasi, bahkan ada yang di bawa ke ruang imigrasi. Ada beberapa yang 
dicurigai ke Indonesia mau jadi TKP (tenaga kerja Philipina).

Giliran aku cepet, begitu gesek langsung di jedok-jedok. :) Clear jam 0030 an.

Karena penerbangan balik Yogya jam 6 pagi, malam itu begadang di bandara CGK.

Pesawat balik Yogyanya juga tepat waktu. AirAsia beregistrasi PK-AWC

Dari Yogya naik Prameks dari stasiun Maguwo yang ada persis berhadapan dengan 
bandara Adisucipto. Tiketnya IDR 7.000. Sampai rumah jam 1000 an. 


Epilog

Dari segi biaya, aku puas karena perjalanan ke Bangkok ini bisa dilakukan 
dengan dana minimal. Pengeluaran hanya untuk kebutuhan primer: hotel, transpor 
dan makan. Aku ga beli souvenir atau barang lain. Kalau dihitung2 total biaya 
perjalanan aku tidak lebih dari 1,6 juta rupiah.

Catatan perjalalan ini dibuat seminggu setelah perjalanan. Sekarang sudah mulai 
ngintip2 lagi route dan promo AirAsia dan airline lain. Sudah mengincar ke 
Tiruchirapali, India atau Dhaka, Bangladesh.
Selangkah demi selangkah suatu saat aku pasti bisa nyampe ke kawasan 
Mediterania.

Perjalanan kali ini juga memberi pelajaran lain tentang makna integritas. 
Selain mengenal (sedikit) budaya Thailand, aku belajar mengenal situasi 
kehidupan yang bisa muncul dalam interaksi perjalanan seperti ini. 

Seperti lagu Ariel `PeterPan': "Tak Ada Yang Abadi"
Semua perjalanan, kehidupan, kebersamaan pasti ada akhirnya. 
Namun ada pilihan dengan apa kita akan mengakhirinya:
rasa syukur atau kekecewaan.
kejujuran atau kesewenangan.
kedamaian hati atau rasa bersalah yang abadi.

Nug, seorang teman merespon "the un-told story" dalam perjalanan ke Bangkok ini 
dengan lagu James Morisons : Broken Strings.

Anyhow, perjalanan ini menjadi perjalanan yang pasti terkenang tapi juga ingin 
aku lupakan.

Oops…kayaknya Ho Chi Min - Vietnam menarik juga!
Tulisan yang sama juga dimuat di:

http://phoek.multiply.com/journal/item/267/267


Kirim email ke