Idealnya yang menulis ini adalah para peserta Try Scuba 4-5 April 2009. Namun okelah tidak ada salahnya saya sebagai penggagas Try Scuba mencoba inisiatif sharing catatan kecil ini. Setidaknya berdasarkan pengamatan dan langsung bersama rekan-rekan peserta Try Scuba. Kegiatan yang dihandel oleh rekan saya, Oktafiano, PADI Divemaster # 496316 diikuti 4 orang yaitu Bp Sigit dan putrinya Asti, Winarti, Elizabeth. Mereka ber-4 ingin merasakan langsung seperti apa diving langsung di laut tanpa sertifikat namun aman.
Sejak kami mengajak via forum ini sekitar 3 minggu sebelum hari H, banyak peminat yang sekedar bertanya, mendaftar lalu cancel karena sesuatu hal dan yang benar-benar berminat serius. Yang cancel atau mengalihkan kegiatan ke snorkeling, yang juga kami jalani di hari dan waktu yang sama, ada yang beralasan belum siap, ada juga yang merasa mahal. Mengenai harga, biaya sharing per orang sebesar 540.000 barangkali bukanlah yang termurah untuk ukuran backpacker. Namun untuk kegiatan diving itu sendiri boleh bilang sangat murah. Walau kami berusaha untuk tidak menjadi murahan. Gawat kalau murahan. Bisa-bisa factor savety & comfort pun di diskon. Lokasi pertama adalah di Pulau Semakdaun, Kep Seribu. Di pilih pulau tersebut dengan pertimbangan pantai yang masih landai, save untuk kegiatan Try Scuba. Sebelum mulai ada breafing. Oya.wajib dilakukan sebelum breafing yaitu tandatangan liability release, yaitu semacam surat keterangan sehat, tidak ada penyakit jantung, darah tinggi, dan lain-lain. Selain itu semacam pelepasan tanggungjawab risiko terhadap Dive Master bila terjadi something wrong. Lho kog..? iya donk.meskipun sudah dilakukan sesuai prosedur namun bila terjadi musibah maka menjadi tanggungjawab masing-masing. Breafing pertama langsung di pinggir pantai sebelum turun. Pertama-tama diperkenalkan yang namanya alat. Hanya perkenalkan bukan memahami. Antara lain, tanki, BCD (Bouyancy Compansator Divice), fungsi inlator yang ada di BCD, weightbelt, Regulator, Masker, Fin, dll yang merupakan alat wajib untuk kegiatan Scuba. Tanpa alat itu maka kegiatan tidak bisa dilaksanakan. Beda dengan kursus yang harus bisa pasang sendiri, untuk Try Scuba semua sudah dipasangin. Sudah pasti donk karena mereka sama sekali belum pernah dan belum terlatih pasang alat. Pun tuk yang "ringan" seperti cara pasang masker yang benar menjadi materi breafing. Ini juga penting untuk kenyamanan selama di bawah air. Pasang masker yang tidak bener akibatnya air masuk kena mata. Akibatnya penyelaman tidak hanya tidak aman tapi juga tidak nyaman. Masker clearing, menjadi materi yang diberikan saat breafing. Masker clearing adalah proses "membersihkan" masker akibat berembun selama kegiatan menyelam. Di kelas openwater menjadi materi dasar. Tujuannya adalah untuk kenyamanan dan keamanan. Nyaman.karena tentunya ingin menikmati nuansa laut tanpa gangguan pandangan akibat masker berembun. Aman..dengan masker yang jernih berarti memudahkan Divemaster memantau dari pandangan mata apakah ybs panic atau tetap tenang. Saat kami praktekan, berhubung semua peserta baru pertama kali, yang namanya masker clearing tidaklah mudah. Walau akhirnya bisa juga dilakukan. Selain itu yang juga tidak kalah penting adalah equalizing. Wajib juga. Karena begitu turun 1 meter, telinga sudah terasa sakit karena ada factor tekanan. Begitu sakit maka perlu dilakukan proses equalizing, yaitu "menyamakan" tekanan di telinga agar penyelaman pun aman dan nyaman. Dive pertama, yang disebut "teori basah" dipraktekan di pinggir pantai. Setelah memakai tanki, BCD, pemberat, dan semua peralatan Scuba, peserta diajak untuk turun dan masuk ke bawah air. Ngga dalam. Batas akhir hanya sebatas dada orang dewasa. Setelah turun peserta diajak "berlutut" sehingga semua badan berada di bawah air. Lalu Oktaf mengajak untuk "adaptasi" singkat sambil menerapkan masker clearing. Namun bila ternyata ada yang panic dan tidak nyaman, karena dalamnya hanya sebatas dada orang dewasa, gampang, tinggal naik aja.aman dech. Dalam prakteknya, melakukan masker clearing ternyata tidak mudah.Yang memang.Namun tidak boleh tidak dilakukan kalau mau diving. Karenanya butuh beberapa kali latihan. Lama kelamaan akan bisa sendiri. Membiasakan bernapas dari mulut ternyata juga tidak mudah.Kita biasa bernapas lewat hidung, lalu tiba-tiba harus dan wajib bernapas lewat mulut, tentu membutuhkan penyesuaian. Namun percaya dech, lama kelamaan akan terbiasa. Breafing yang lain, sebelum turun adalah cara menggunakan inflator, yaitu mengembungkan/mengisi atau mengempeskan BCD. Setiap divers, pun yang Try Scuba harus bisa melakukan-nya. Makanya wajib diberikan sebelum turun. Setelah breafing cukup coba dipraktekan. Faktanya memang tidak mudah juga. Masih ada yang grogi dan tidak lancer pencet tombol isi maupun mengeluarkan udara. Ya wajarlah.. Pertama kali menerapkan Try Scuba ini terlihat dari rekan-rekan tidaklah mudah. Belum lagi ukuran alat. BCD ukuran S ternyata masih saja longgar. Alat yang sudah sempit di permukaan sudah pasti tidak akan sempit setelah di bawah air. Ya maklum lah BCD sewaan. Akibatnya selama di bawah air tidak stabil, tidak bisa "stay" dengan mantap. Apalagi ada arus.sempat "linglung".ha.ha. Itu biasa untuk yang pertama kali. Langsung kami coba "ajak" tuk fun dive setelah mempraktekan masker clearing.Ngga dalam, hanya 2 meter aja.Sayang karena arus mulai kenceng tidak bisa dipraktekan. Akhirnya diving kami hentikan tuk dilanjutkan besok pagi. Kesimpulannya, diving itu tidak mudah. Apalagi baru pertama kali. Minggu, 5 April 2009, Pagi-pagi, jam 7, Pak Sigit, Winarti, Elizabeth, dan Asti sudah stand by di Dermaga Pramuka. Kegiatan kali ini adalah langsung kita fun dive. Rencana diving tidak dalam-hanya 5 meter selama kurang lebih 15 menit. Alat sudah tersedia, Tanki dalam kondisi penuh. Oktaf, saya, dibantu rekan Eddy akan dampingin ke-empat rekan kita. Setelah membuat plan dive yang aman dan nyaman, breafing diberikan kepada peserta. Tujuan penyelaman kali ini selain fun dive adalah mengajak peserta merasakan zero gravitasi alias melayang di bawah air, yang sudah pasti akan memberikan kenikmatan tersendiri. Bahasa signal tangan yang kemarin sudah diajarkan, di penyelaman pagi ini kembali diingatkan. Berhubung laut lumayan pasang, maka memungkinkan untuk entry dengan giant step. Sebenarnya teknik entry ini baru diberikan saat ambil licence. Namun setelah melihat situasi yang aman dan peserta siap, memungkinkan entry dengan teknik ini. Sebelum entry, dibantu Eddy, semua alat dikenakan kepada peserta secara bergantian. Wuiii..berat banget...Lah iya donk.Bayangkan aja, Elzabeth misalnya.Tinggi sekitar 160 cm, berat sekitar 50 kilo, harus memanggul tanki seberat kurang lebih 15 kilo, pemberat 5 kilo, memakai fin..Wuaaa ribet..Tapi ya memang harus begitu. Beratnya diving sebagai olah raga bukan saat penyelaman (kecuali nge-drift ya), tetapi justru saat persiapannya. Berat ngga berat tetap harus panggul itu alat.dan bisa lalu entry secara giant step. Pak Sigit, Winarti, Elizabeth terlihat lancer dan tidak ragu. Tapi Asti masih terlihat takut. Kami support Asti dengan tujuan tidak ragu 'n takut. Di bawah sudah ada Oktaf dan saya yang sudah ready. Akhirnya Asti berani juga giant step.byurr... Oooo..masker-nya lepas karena rupanya saat entry Asti tidak pegang masker.namun berhasil di tangkap. Untuk fun dive ini dilakukan satu per satu. Tidak langsung empat orang. Satu peserta langsung di kawal 2 orang. Oktaf sebagai dive master lansung memandu.saya mendampingi dan coba membantu bila terjadi trouble. Mulailah little adventure. Pak Sigit, yang paling senior, pertama-tama kesulitan dan merasa sakit di telinga. Oh rupanya telat equalizing.Setelah ready, lanjut petualangannya. Pelan-pelan dan pasti kami ajak turun di 3.4.5 meter..Mengajak Pak Sigit merasakan zero grafitasi.. Asyik..Ngga lama, hanya kurang 15 menit.Namun sudah merasakan sensasi di bawah air seperti apa.Pun juga Asti, Winarti, dan Elizabeth. Rata-rata kami bawa sampai kurang lebih 5 meter..Walau barangkali belum optimal menikmati gugusan softcoral karena baru pertama kali, namun lumayan lah sudah merasakan menjadi "mahluk air" walau hanya sejenak saja. Khusus Elizabeth.sebelumnya nyaris harus di skip atau di batalkan. Berhubung kami mendapat informasi bahwa Elizabet merasa flu dan hidung tersumbat walau hanya satu. Prosedur penyelaman yang aman untuk kondisi seperti ini sudah pasti tidak di-ijin-kan. Oktaf pun mulai tegas untuk tidak meng-ijinkan menyelam. Namun setelah diskusi kecil dan ybs merasa fine, tidak terganggu, akhirnya kami teruskan penyelaman. Dengan catatan tidak dalam-dalam.. Iya memang tidak dalam sich.namun setelah melihat Lisa tenang dan enjoy, sampai di kedalaman 9 meter...Gileee di 9 meter..Oktaf, pelan-pelan membawa naik sampai muncul di permukaan. Welcome to underworld Liza. Walau tidak hanya semenit tapi sudah nyentuh 9 meter.Sudah merasakan zero grafitasi seperti apa ya... Overall kesan teman-teman untuk kegiatan try scuba, pertama awalnya tidak mudah. Pengenalan & penggunaan alat membutuhkan latihan rutin. Kedua. Sudah pasti membawa kenikmatan yang sulit terkatakan. Terutama saat melayang, merasakan grafitasi nol seperti apa, bertemu dengan gugusan softcoral nan apik, turun disambut dan bersua dengan penghuni laut... Kepada Pak Sigit, & Asti, Winarti, dan Elizabeth..welcome to underworld. Semoga kegiatan ini berkesan ya. Bagi rekan-rekan IBP yang ingin merasakan try Scuba, rencana kami akan adakan lagi bulan depan, tepatnya Sabtu-Minggu 9-10 Mei 2009. Maksimal 4 orang. Sekalian juga di trip yang sama rekan-rekan yang ingin join untuk snorkeling. Welcome. Via japri. Cheers R Adolf Izaak T [Non-text portions of this message have been removed]
