Raja (kepala suku) Boti yang sekarang, seperti kata orang, tidak sehebat sang ayah yang bisa mengetahui tamu dan jumlah tamu yang datang
Harga kain berbeda2 tergantung besarnya, saya cuma beli yang kecil untuk oleh2 yang besar memang bagus tapi harganya mahal, mungkin bisa sekitar ratusan ribu sampai 1 juta tergantung besar kainnya --- In [email protected], "ewing_eyo" <ewing_...@...> wrote: > > TFS.... > Cerita yg menarik.....sampai skrg blm kesampaian mau ke Boti..... > BTW, Raja Boti yg dulu (sudah wafat) terkenal dgn kemampuannya bisa tau tamu > yg bakal datang. Setiap bayi perempuan yg lahir, ari2nya digantung diatas > pohon, ibunya menenun dibawahnya supaya kalo anak sudah besar pintar > menenun..... > Boleh tau brp hrg kain tenun asli Boti ? (OOT) > > salam, > Erwin > > > --- In [email protected], "androsa" <androsa@> wrote: > > > > Jelajah di Timor Barat? Apa yang menarik? Pertanyaan ini berhenti saat saya > > putuskan pergi ke Boti, suku asli Timor yang menolak kehidupan modern. > > Petualangan ini membawa saya seperti pergi ke Timor di awal abad 20 dengan > > bonus pemandangan alam yang menarik dan budaya serta adat Timor yang menarik > > > > > > Waktu saya bimbang akan tempat penjelajahan di Timor dari Kupang, seorang > > teman menyarankan saya pergi ke Boti, satu suku asli Timor yang sampai > > sekarang menolak kehidupan dan agama modern. Suku yang terletak di satu > > daerah perbukitan di dekat Soe, kota di Timor Tengah Selatan (TTS), > > ternyata pernah saya lihat di tayangan teve sebelumnya. Akhirnya dengan > > bertekad bulat disertai rasa penasaran saya dan rasa bingung > > saudara-saudara, saya putuskan pergi menjelajahi Boti dari Kupang > > > > Penjelajahan > > Dengan menumpang satu bus saya berangkat menuju Soe, tempat perhentian > > sebelum tiba di Boti. Dengan menyusuri jalan berkelok-kelok, semakin lama > > cuaca terasa makin sejuk karena jalan membawa saya ke daerah perbukitan. > > Pemandangan perbukitan membuat sejuk di mata. Ternyata Timor bagian tengah > > terlihat subur dan cuacanya tidak sekering yang saya duga. Saya juga sempat > > tertawa melihat babi berteriak protes waktu diikat di belakang bus, ingin > > rasanya keluar dan mengambil gambar si babi malang, sayang tidak sempat. > > Sempat juga bingung waktu ditanya kesatuan tempat saya bertugas oleh > > seorang bapak yang duduk di samping saya. Halaaah, saya disangka tentara, > > hahahahaha. > > > > Setiba di Soe, tugas pertama adalah mencari hotel atau penginapan yang > > layak dan murah. Dari rencana menginap di Hotel Bahagia, ternyata saya > > turun di Hotel Bahagia II yang agak jauh dari pusat kota, dan ternyata ada > > mobil UN diparkir disana, Walah sepertinya staf PBB urusan pengungsi dan > > Timtim masih ada di sini. Lanjut makan di warung depan hotel nasi campur > > dan susu kedelai yang hargaya cukup mahal untuk ukuran Timor, karena saya > > membayar hampir 20 ribu rupiah, Kok tidak jauh beda dengan harga di Jakarta > > ya? > > > > Karena ingin mencari hotel yang lebih di tengah kota dan berharga lebih > > murah, saya mencari tukang ojek yang membawa saya berkeliling karena > > ternyata hotel Bahagia I sudah penuh juga dengan hotel lainnya. Akhirnya > > kitab suci para pengelana ciptaan Tony Wheeler (tahu kan???) menyebutkan > > homestay milik Pae Nope. Waktu saya telepon, seorang wanita tua menjawab > > dan mengatakan kamar mereka kosong, aaaaah aman untuk urusan hotel dan > > homestay juga terletak di pusat kota jadi mudah mencari makanan serta > > supermarket. Karena perlu makanan kecil serta keperluan mandi yang kurang, > > saya berkunjung ke pasar swalayan yang ternyata harganya tidak beda jauh > > dengan Jakarta. > > > > Pagi-pagi disaat sedang siap-siap sarapan dan mencari info dan pemandu > > untuk menuju Boti, ternyata Pae Nope, sang pemilik homestay sudah pulang > > dan mengajak saya masuk ke rumahnya. Kebetulan sekali, selain dia ada pula > > para pejabat pariwisata di Soe. Wah saya berasa wartawan karena banyak > > reporter datang ke Boti mencari bahan berita, hahahahaha. Jadi mereka > > sempat pikir saya wartawan dari Jakarta. Tapi mereka akhirnya menghadiahi > > saya VCD tentang pariwisata di TTS. > > > > Menuju Boti > > Dengan naik motor "laki" yang dibawa seorang pria bernama Tuan yang > > dikenalkan Pae Nope, saya mulai perjalanan menuju Boti. Sebelumnya tak lupa > > makan siang di warung Jawa yang menyajikan makanan murmer dan enak. Jalanan > > mulus membentang hingga satu simpang sekitar Oenlasi dimana saya membeli > > minuman dan istirahat sejenak. > > > > Jalan mendadak berubah menjadi sangat terjal, berbukit-bukit yang membuat > > saya agak repot menahan badan di motor serta ransel di punggung. Untunglah > > pemandangan alam yang menarik menghibur saya. Setelah melewati beberapa > > gerbang, saya tiba di perkampungan suku Boti tepatnya di dekat tempat > > tinggal Kepala Suku Boti. > > > > Tiba di Boti > > Ah, saya beruntung sekali, selain pemandu saya ternyata bisa bahasa > > setempat, ternyata saya datang saat mereka berkumpul secara adat. Adat suku > > Boti mewajibkan mereka berkumpul setiap hari kesembilan dan disanalah saya > > berkumpul bersama melihat para tetua pria berbincang-bincang dan para > > wanita berkumpul untuk menenun. Mereka bahkan datang dari desa-desa yang > > jauh, bahkan hingga 2 jam untuk berkumpul. > > > > Pakaian orang Boti, meskipun hampir semuanya sudah terbiasa memakai kaus > > atau kemeja modern tapi mereka tetap teguh memakai kain tradisional > > melingkari pinggang dan kepala mereka. Kain tradisional yang mereka tenun > > sendiri tapi ternyata ada juga seorang ibu yang memakai kain batik juga :-P. > > > > > >
