Hallo Mas Joko,
Saya salut dengan anda bertravelling ke daerah Afrika, bahkan dengan 
keluarga(?). Saya cerita dikit yak, mumpung masih inget :-)

Feb-Maret 2005, kami ada pekerjaan design di Sunbeach Hotel di Cape Point 
Banjul The Gambia. Dan dalam tugas kerja ini, saya kesana sendirian dengan 
seabrek bahan presentasi. Salah satu client kami adalah dari Mauritania, dan 
menawarkan untuk melihat sebuah lahan dekat dengan kota Nouchchott Mauritania, 
sekalian untuk travelling melewati bagian barat dari Sahara. Sehingga dipilih 
dengan jalur darat, aplikasi visa saya malah diurus oleh managemen resort 
Sunbeach untuk kunjungan ke Senegal dan Mauritania, alhasil sehari jadi!

Perbatasan darat dari Senegal ke Mauritania, mas akan lewati kota yang bernama 
Rosso Mauritania. Sepanjang sungai ini mungkin adalah satu2nya daerah yang 
bervegatasi di Mauritania, karena negara ini hampir 95% dari seluruh wilayahnya 
adalah padang pasir (sahara). Benar, penyebrangan disini hanya dilayani 2 atau 
3 kali sehari waktu itu, jadi jangan sampai kesorean sampai di Port Rosso ini. 
Dan lagi walaupun sungai ini sangat tenang, agak ngeri juga karena perahu yang 
melayani penyebrangan tidak memiliki pinggiran pengaman samping, mobil2 rodanya 
diikat begitu saja.

Sebagai reference saja, semoga berguna, saya sungguh menikmati perjalanan darat 
dari Banjul ke Nouachott, amazing!. Apalagi saat setelah Kota Rosso menuju Ibu 
Kota, hamparan padang pasir Guurn Sahara sunggu indah. Terhapus sudah bayangan 
banyak teman yang mungkin tidak pernah kesana akan ngerinya di Sahara, 
bullshit!. Andai ada peluang datang lagi kesana, saya akan mampir ke Sahara. 
Kalau menyempatkan turun dan naik sebuah bukit kecil, sepanjang mata memandang 
adalah gundukan yang hampir tidak ada warna hijau satupun. Apalagi saat 
menjelang sore, waktu itu kita sampai malam di Ibukota Mauritania, sehingga 
sepanjang siang dan sore itu kami berada dihamparan Guurn Sahara. Sesekali kita 
turun ke lagoon2 kering, yang datar sekali, dan sesekali kita bertemu dengan 
rombongan camel liar, atau pengembara yang membawa hampir 20an ekor camel 
gembalaan.

Sebelum menuju Kota Rosso, kami melewati kota St Louis, eks ibukota Senegal. 
Kemudian kota Touba, Dourbel dan Kaolack. Kota St Louis, adalah kota yang unik 
dan klasik, kota ini terletak disebuah pulau (CMIIW), yang dihubungkan dengan 
sebuah jembatan panjang berwarna putih dan berlandaskan kayu. Saat pulang 
kembali dari Mauritania, kami sempat mampir di Kota Dakar, yang pada sore hari 
sangat rame dengan burung gagak :-)), karena sempat berkunjung ke KBRI Dakar, 
eh malah diajak berkunjung ke Pulau Goree, yang sekarang menjadi Pulau Museum 
Budak. Kota dakar sendiri ada di Cape Verde, dulu waktu dapat ilmu sejarah, 
cuman dihapal2 tanpa tahu dimana itu....dan syukur akhirnya dapat dikunjungi. 
Salah satu tebing di Kota dakar yang menhadap ke laut, dihiasi oleh patung2 
para pesepakbola yang berjasa saat Senegal masuk semifinal Piala Dunia 2002. 
Satu lagi yang patut dan harus dikunjungi adalah Pulau Goree, sebuah pulau yang 
memiliki sejarah kelam ditribusi perbudakan. Dari Dakar harus naik boat selama 
30menit ke pulau ini, harga dan distribusi? kurang tahu karena waktu itu dijamu 
oleh KBRI hehehe. Maka sempatkan mampir ke KBRI, mereka pasti rindu kunjungan 
orang Indonesia :-))

Kalau sampai ke The Gambia, banyak tempat touris disini dan banyak tempat bagus 
untuk dikunjungi, terutama tempat2 eks kolonial inggris. Daerah resort di The 
Gambia adalah di Senegambia, Cape Point dan Brikama.

Mas Joko, nanti ini dari Rabat apakah melalui jalan darat ke Mauritania? kalau 
mungkin pasti sangat mengasyikan. Kalau saran saya, dari Kota Nouckchott, bagus 
dan aman kok jalan darat sampai ke The Gambia sekalipun. Ada beberapa check 
point dengan tentara bersenjata, tapi itu pemeriksaan biasa saja, malah dari 
tampang seram mereka itu bisa kok diajak berphoto.....cuman sayang mereka lebih 
fasih bahasa prancis daripada inggris :-)). Kota-kota yang saya sebutkan diatas 
tadi terutama di senegal dan The gambia adalah kota2 yagn sangat layak 
dikunjungi, kota klasik dan sepanjang perjalanan akan terasa seperti di film 
flora dan fauna hehehe. Kita akan melewati padang pasir, savanna, oasis dengan 
tanaman kurmanya, kadang harus terhenti diperjalanan karena ada rombongan 
biri-biri atau kambing atau camel liar yang lewat...... hanya biri2 yang agak 
lelet, karena tidak mau minggir kalaupun diklakson dg kenceng sekalipun, tapi 
jangan sampai mengklakson kalau ada camel lewat, mereka akan panik dan 
berhimpitan sesamanya :-)...kalau kambing akan langsung kabur kalau diklakson 
hahahaha.

Semoga perjalanannya menyenangkan dan mengesankan, satu kata tentang Afrika, 
amazing landscape!

salam,
made sutawijaya



  ----- Original Message -----
  From: joko santoso
  To: [email protected]
  Cc: [email protected]
  Sent: Wednesday, June 03, 2009 5:43 AM
  Subject: Re: [indobackpacker] negara mana saja yang tidak perlu visa 
kunjungan?




  Meski sebuah negara membebaskan visa atau memberi visa on-arrival kepada WNI, 
perlu dicek sekali lagi apakah semua petugas negara tersebut tahu kebijakan 
pemerintahnya.  Untuk negara-negara yang terjangkau dalam 3-4 jam penerbangan 
dari Jakarta dan masuknya lewat bandara utama memang praktis tak ada masalah.  
Untuk negara-negara yang perbedaan waktunya dengan Jakarta lebih dari 8 jam dan 
masuknya bukan lewat bandara utama kadang petugasnya tidak weel-informed.

  Lebih dari 8 tahun lalu saya pernah menelpon Kedutaan Turki sampai 2x dan 
kata petugasnya untuk WNI tidak perlu visa.  Karena masuk Turki lewat 
penyeberangan ferry Samos - Kusadasi, petugas imigrasi sempat bingung.  
Sebabnya, di kantor imigrasi ada papan besar yang berisi daftar warga dari 
negara-negara yang bisa ke Turki tanpa visa.  Di deretan huruf I, nama 
Indonesia tidak ada.  Alias malah kalah dengan Israel.  Hal yang serupa 
berulang sekitar 2 tahun lalu saat hendak masuk Chile (San Pedro de Atacama) 
setelah melewati perbatasan Bolivia.  Untungnya saya selalu membawa back up 
berupa print out aturan dari pemerintah yang bersangkutan.

  Untuk Bli Made ... Mauretania - Senegal lewat mana?  Lewat Koro yang kata 
panduan penuh hassle itu?  Apa benar penyeberangan di perbatasan Mauretania - 
Senegal memang hanya dilayani 3 perahu setiap hari?  Saat ini saya ada di 
Rabat.  Tadi pagi (2-Juni) aplikasi visa di Kedutaan Mauretania.  Di meja 
petugas saya lihat ada setumpuk permohonan aplikasi, mayoritas dari Maroko 
(saya jadi hafal warna sampul paspornya) dan beberapa dari Perancis.  Kata 
petugasnya, visa bisa diambil besok sore (3-Juni).  Saya belum menentukan kapan 
masuk Mauretania karena tergantung di tanggal di visa yang baru akan saya ambil 
besok.  Yang pasti saya menghindari tanggal 6-Juni karena bertepatan dengan 
pemilihan presiden di sana.

  Salam dari Rabat
  2-Juni-2009





------------------------------------------------------------------------------
  From: Made Sutawijaya <[email protected]>
  To: [email protected]
  Sent: Monday, 1 June 2009 5:51:04
  Subject: Re: [indobackpacker] negara mana saja yang tidak perlu visa 
kunjungan?





  hallo,
  tambahan, tapi CMIIW.
  2005 saya berkunjung ke Africa Barat yaitu The Gambia dan Mauritania (Sahara) 
dengan visa on arrival. Cuman harus aplikasi visa untuk berkunjung ke Senegal 
karena kami melakukan jalan darat dari The Gambia-Senegal- Mauritania, pulang 
pergi.

  semoga berguna,
  kadek

Kirim email ke